Kesehatan Gratis Tanpa Syarat Dalam Negara Khilafah

204

Oleh Elpiani Basir, S.Pd (pemerhati umat)

Berbicara  tentang pelayanan kesehatan dalam system pemerintahan saat ini merupakan hal yang sulit untuk didapatkan meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai macam program kesehatan  seperti ASKES, JAMKESMAS, KIS dan BPJS namun tetap saja masyarakat malah semakin sulit untuk mendapatkan layanan kesehatan secara gratis dan mudah.

Yang terbaru  BPJS akan tetapkan skema urun biaya.( republika.co.id, jakarta – BPJS). Kesehatan akan menetapkan skema urun biaya dengan peserta untuk tindakan medis tertentu. Tindakan medis itu yang berpotensi memiliki penyalahgunaan dikarenakan selera atau perilaku peserta.  Jakarta, CNN Indonesia — BPJS Kesehatan mengancam bakal menarik urun biaya dari peserta hingga maksimal Rp30 juta jika terbukti menyalahgunakan layanan kesehatan.

Ancaman itu tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 51 Tahun 2018 mengenai pengenaan urun biaya dan selisih biaya dalam program jaminan kesehatan. lebih rinci, Pasal 9 PMK 51/2018 menyebut besaran urunan biaya Rp20 ribu untuk setiap kali melakukan kunjungan rawat jalan di rumah sakit kelas A dan B. Atau Rp10 ribu di RS kelas C dan D, serta klinik utama. Untuk kunjungan 20 kali dalam jangka waktu tiga bulan, peserta dipatok urun biaya paling tinggi Rp350 ribu. Namun, untuk rawat inap kelas 1, maka urun biaya sebesar 10 persen dari biaya pelayanan dihitung dari total tarif INA-CBG atau maksimal 30 juta.

BPJS kesehatan mengancam bakal menarik urun biaya dari peserta hingga maksimal Rp30 juta jika terbukti menyalahgunakan layanan kesehatan. (antara foto/kornelis kaha). Menurut Kepala Humas BPJS Kesehatan M Iqbal Anas Ma’ruf, urun biaya diberlakukan terhadap jenis pelayanan kesehatan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Kondisi masyarakat  saat ini makin terpuruk sudah jatuh di timpa tangga lagi, masyarat sudah cukup kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari dengan harga- harga yang semakin melambung tinggi dan di perparah lagi dengan sulitnya mendapatkan kesehatan gratis ,ingin berobat kerumah sakit namun takut jangan sampat salah langkah dan terkena urun biaya lebih baik sakitnya di tahan sendiri atau cukup dengan beli obat diwarung pantaslah untuk saat ini di katakan orang miskin dilarang sakit.

Samapai kapan kita harus bertahan dengan kondisi seperti ini  ,sudah saatnya kita keluar dari jebakan system kapitalis sekuler yang rusak dan kembali kepada Islam karena Islam mampu memberikan solusi atas semua permasalahan kehidupan termasuk masaalah kesehatan. Islam memandang kesehatan sebagai bagian dari hak dasar manusia. Kebutuhan akan kesehatan tak ubahnya seperti kebutuhan akan pangan. Rasulullah bersabda, “Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya, aman jiwa, jalan dan rumahnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya”. (HR al-Bukhari dalam Adab alMufrâd, Ibn Majah dan Tirmidzi).

Perhatian yang besar terhadap masalah kesehatan telah ditekankan sejak masa kenabian. Rasulullah SAW.  pernah ditemui oleh 8 orang dari urainah yang hendak bergabung menjadi warga negara Khilafah di kota madinah. Saat itu, kedelapan orang tersebut dalam keadaan sakit. Rasulullah lantas meminta mereka dirawat di dekat kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Mal di Dzi Jidr arah Quba’ sampai sehat dan pulih kembali. Ketika dihadiahi seorang dokter oleh Muqauqis, Raja Mesir, beliau meminta dokter tersebut segera memberikan pengobatan kepada seluruh warga Madinah secara gratis.

Konsep rumah sakit di masa kekhilafahan digagas oleh khalifah Al Walid bin Abdul Malik (705-715 M), dari dinasti Umayyah. Konsep rumah sakit ini memang bukanlah satu-satunya di dunia, sebelumnya sudah ada rumah sakit hotel deu lyon dan hotel deu paris di eropa . Akan tetapi, Islamlah yang memperkenalkan rumah sakit berstandar tinggi untuk pertama kalinya. Pada awal kejayaan Islam, tepatnya pada era kekuasaan Harun Ar-rasyid (786 M-809 M), dibangun rumah sakit Baghdad. Kemudian rumah sakit Bimaristan oleh Nuruddin di abad XI M. Sampai abad XIII, telah telah tersebar rumah sakit-rumah sakit di sepanjang jazirah Arab hingga ke Cordoba, Spanyol.

Standar yang tinggi terlihat dari pelayanan kesehatannya yang tidak membedakan warna kulit, status sosial, dan agama.  Britannica Encyclopedia menyebutkan: The Arabs established hospitals in Baghdad and Damascus and in Córdoba in Spain. Arab hospitals were notable for the fact that they admitted patients regardless of religious belief, race, or social order. Baik pasien yang kaya maupun yang miskin, yang arab maupun non-ajami, seluruhnya mendapat pelayanan yang setara. Tak ada pemisahan bangsal antara pasien kaya dan pasien kurang mampu. Yang ada hanyalah pemisahan bangsal laki-laki dan perempuan. Dokter perempuan melayani pasien perempuan, dokter pria melayani pasien pria

Untuk pertama kalinya pula, rumah sakit Islam menerapkan pencatatan penyakit pasien, atau yang sekarang lebih dikenal dengan rekam medis. Rumah sakit Islam juga berfungsi untuk menempa tenagatenaga kesehatan sebagaimana rumah sakit pendidikan pada masa kini. Mahasiswa kedokteran di era kekhilafahan belajar di rumah sakit Islam dan tinggal di asrama yang disediakan di dalam kompleks rumah sakit.

Dokter dan perawat berasal dari semua agama. Hanya dokter-dokter yang memenuhi kualifikasi yang diperbolehkan bekerja di rumah sakit. Khalifah Al-Mughtadir  pada era Abbasiyah memerintahkan dokter istana, Sinan Ibn Thabil, untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad. Abu Osman Sa’id Ibnu Yaqub menyeleksi dokter-dokter di Damaskus, Makkah, dan Madinah.

Kesehatan merupakan salah satu bidang di bawah divisi pelayanan masyarakat (Mashalih an-Nas) Pembiayaan rumah sakit seluruhnya ditanggung oleh pemerintah. Dokter dan perawat digaji oleh khalifah . Dananya diambil dari Baitul Maal dari pos harta kepemilikan negara (kharaj, jizyah, harta waris yang tidak dapat diwariskan kepada siapapun, dan lain-lain) dan pos harta kepemilikan umum (hasil pengelolaan sumber daya alam, energi, mineral, tanah, dan sebagainya) . Pelayanan kesehatan gratis bagi pasien tidak hanya diterapkan saat kekhilafahan mencapai puncak kejayaannya, melainkan sudah diterapkan sejak awal kemunculan rumah sakit Islam.

Di masa sekarang, kesehatan dianggap sebagai suatu komoditas yang layak diperjualbelikan. General Agreement on Trade Service menegaskan bahwa kesehatan kini telah menjadi jasa komersial .  Jika ingin sakit, Anda harus siap dengan tabungan yang besar. Hal ini jauh bertentangan dengan prinsip yang dianut pada masa kekhilafahan. Pelayanan kesehatan tidak ditujukan untuk meraih nilai materi, tetapi ditujukan demi mendapat ridla Allah semata.

Selama kurang lebih 1300 tahun, Khilafah memberi teladan bangsa-bangsa lain dengan sistem pelayanan kesehatannya yang paripurna. Sungguh, ini membuktikan bahwa sistem Islam sejak dahulu telah memiliki pola pengaturan yang luar biasa terhadap segala aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal kesehatan. Wallahu a’lambissowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.