KERAP DIJADIKAN ‘PENDORONG MOBIL MOGOK’, UMAT ISLAM HARUS PUNYA AGENDA SENDIRI

Ust. Ismail Yusanto (Jubir HTI)

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus semakin mengukuhkan anggapan bahwa umat Islam sekadar dijadikan ‘pendorong mobil mogok, setelah mobilnya jalan, umat ditinggalkan’, agar kasus serupa tak terulang umat harus memiliki agenda sendiri.

“Umat Islam harus punya agenda sendiri, agenda yang diinisiasi umat Islam, dipikirkan, dirintis, dibangun kemudian dibesarkan oleh umat Islam,” ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto, Kamis (18/7/2019) di Gedong Joeang ’45, Menteng, Jakarta Pusat.

Untuk itu, penting sekali umat Islam mengikuti perjuangan yang dicontohkan Baginda Rasulullah SAW. “Mungkin orang akan mengatakan ‘itu terlalu lama’. Tapi kalau lama tapi benar insya Allah akan membuahkan hasil. Ketimbang kelihatan cepat tetapi kemudian tiba-tiba brek, ambruk, hilang begitu saja,” bebernya di depan ratusan peserta Diskusi Publik Tabloid Media Umat: Masa Depan Umat Pasca Pemilu.

Ismail pun melihat ada potensi umat yang begitu besar terlahir dari proses pembinaan dan pengkaderan yang cukup panjang sejak tahun 1980-an. Kemudian melahirkan fenomena Aksi Bela Islam 212 maupun Reuni 212.
“Ini adalah potensi yang harus kita rawat. Karena itu saya sempat bilang juga pada teman-teman Alumni 212, jangan dirubah namanya, itu tetap harus 212!” tegasnya.

Karena 212 ini sejarah, tune-innya sangat jelas Bela Islam, disebutnya dulu kan ABI, Aksi Bela Islam I, Aksi Bela Islam II dan seterusnya. Mau sampai berapa pun tidak apa-apa, yang penting jangan sampai diubah. Tune-nya itu, Bela Islam, Bela Quran, Bela Ulama, Bela Habaib, kemudian ditambah lagi Bela Negara. Bolehlah Bela Negara, karena memang negara itu harus umat bela.

“Di atas itu, umat Islam sudah punya bekal untuk membuat agenda yang tadi saya sebut. Agenda itu yang harus kita bicarakan secara dingin, secara cermat, lepas dari semua kontroversi tadi (pesta demokrasi dan segala kecurangannya). Karena kita sudah mendapat pelajaran bahwa demokrasi memberikan jalan sempit bahkan tertutup jikalau kita menginginkan Islam yang sebenarnya,” pungkas Ismail.

Dalam acara yang dimoderatori Pimred Tabloid Media Umat Farid Wadjdi, hadir pula pembicara lainnya yakni Ustadz Asep Syaripudin (Wakil Koordinator Gerak Kemanusiaan); Asyari Usman (mantan wartawan BBC London); dan Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin (Koordinator Humas Persaudaraan Alumni 212).[] Joko Prasetyo

Sumber: https://mediaumat.news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.