Kepala Sekolah Arogan, Buah Sistem Pendidikan Kapitalisme

Oleh : Hanik Syukrillah (Pembina Komunitas Remaja Malang)

Kota malang terhentak sesaat dengan adanya demo yang dilakukan siswa SMA 2 Malang, menuntut digantinya Kepala sekolah yang kerap bersikap arogan, salah satunya dengan kerap menyebut siswa didiknya dengan “anak setan” (detik.com, 5/4/2018).  Peristiwa ini sontak mencoreng dunia pendidikan Indonesia ditengah deretan kasus yang akhir-akhir ini menyita perhatian masyarakat luas, baik itu dari oknum pendidik ataupun peserta didik. Mulai dari kasus  kekerasan di sekolah, pelecehan seksual oleh guru,  hingga kepala sekolah yang bertindak arogan.

Kepala sekolah ibarat nahkoda kapal yang akan memimpin sebuah kapal yang sedang melaju. Jabatan kepala sekolah sangat strategis menentukan keberlangsungan sekolah.  Wajar apabila beban kepala sekolah menjadi suatu hal yang niscaya, tidak semua guru bersedia menjadi kepala sekolah. Seperti yang terjadi di kabupaten Bantul (pojoksatu.id, 22/3/2015), dimana sekolah menjadi kekurangan kepala sekolah, karena banyak yang menolak dengan alasan beban berat untuk memimpin dan gaji yang tidak sepadan dengan usaha yang dilakukan, sedangkan tuntutan kinerja terbaik selalu menjadi acuan agar kepala sekolah tidak mendapat mutasi atau dihentikan dari jabatannya. Dengan beban dan tekanan yang tinggi ditambah dengan kesejahteraan yang minim, memungkinkan bisa terjadi hal-hal yang diluar kontrol manusia.

Ketika kita mau melihat secara mendalam, ada aspek yang mempengaruhi perilaku manusia, yakni sistem yang berpengaruh di masyarakat, hari ini sistem yang berlaku adalah sistem Kapitalisme. Sistem Kapitalisme secara niscaya akan menghasilkan manusia yang kosong dari nilai-nilai agama dan moral. Karena agama tidak dijadikan sebagai landasan dalam setiap aktivitas manusia, beragama boleh, namun tidak untuk mengatur seluruh kehidupan manusia. Walhasil, kita akan menemui banyak tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Termasuk didalamnya kita dapati seorang pemimpin yang arogan.

Jeratan  kapitalisme memberikan pengaruh besar dalam semua aspek tidak terkecuali dalam aspek pendidikan. Pendidikan kapitalisme terbukti telah gagal mencetak generasi manusia dengan kepribadian utuh dan berkarakter, orientasi pendidikan kapitalis mengarahkan kepada manusia untuk mencapai suatu materi (nilai) dengan cara apapun itu tanpa memandang baik dan buruknya.

Perubahan mendasar sangat dibutuhkan hari ini, ketika kita ingin kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.  Hal itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan kapitalisme menjadi paradigma Islam. Karena Islam memiliki cara pandang hidup yang benar yang datang dari sang Maha Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Di dalam Islam, sitem pendidikan yang diterapkan adalah sistem yang berasal dari akidah Islam.

Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepadaNya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat (QS. Al-Dzariat:56; ali Imran: 102).
Pendidikan Islam membentuk kepribadian Islam pada diri setiap muslim, memiliki tsaqafah Islam yang luas, serta membekali dirinya (peserta didik) dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan. Sejarah telah mencatat bahwa guru mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termasuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madimah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).

Sungguh luar biasa, para guru akan terjamin kesejahteraannya dan dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga untuk mencari tambahan pendapatan. Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.

Sayangnya, kesejahteraan guru seperti diatas tidak akan didapatkan jika Islam tidak diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu A’lam Bissawab. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.