Kemuliaan Perempuan Akan Terjaga Seutuhnya Ketika Syariat Islam Diterapkan

41

Oleh : Lia Destia

Islam hadir di zaman yang ketika itu orang-orang jahiliyah sangat membenci anak kelahiran anak perempuan, sebagaimana yang digambarkan Allah SWT dalam Al Qur’an: “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajah mereka menjadi hitam (merah padam) mukanya, dan ia sangat marah”. (QS An-Nahl: 58).

Bahkan orang-orang jahiliyah pada masa itu tega menguburkan bayi perempuannya hidup-hidup tanpa merasa berdosa sedikitpun. Kemudian datanglah Islam yang mengharamkan perbuatan keji tersebut dan mengajak umatnya untuk mengangkat kedudukan kaum perempuan dan memuliakannya, seperti sabda Nabi Muhammad SAW : “Barangsiapa yang mempunyai dua anak perempuan (lalu) ia mengurusinya sampai baligh, maka pada hari kiamat nanti ia bersama saya seperti ini”. Dan Beliau merapatkan jari jemarinya. HR Muslim. “Barangsiapa yang di beri beban dengan mengurusi anak perempuannya, lalu ia berbuat baik kepadanya, maka mereka akan menjadi hijabnya dari api neraka”. HR Bukhari dan Muslim

Islam sangat memuliakan kaum perempuan, maka dalam masa kekhilafahan atau negara yang menerapkan Syariat Islam Kaffah tak heran bila kaum perempuan sangat berkualitas. Lebih dari 1300 tahun, kaum perempuan hidup dalam naungan khilafah maka hak-hak mereka pun terpenuhi. Tidak ada kemiskinan, yang ada adalah martabatnya terlindungi. Bahkan hal ini bukan hanya dirasakan oleh perempuan muslim saja, namun juga dirasakan oleh perempuan nonmuslim.

Pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW, majelis-majelis ilmu tak hanya melibatkan para sahabat, tapi juga para sahabiyah. Kaum perempuan juga mendapatkan hak untuk menimba ilmu, berpendapat bahkan memberikan kritik pada pemimpin. Tak heran bila sejarah mencatat banyak perempuan yang patut dijadikan teladan, seperti misalnya Ummul Mukminin Khadijah r.a yang merupakan salah satu pebisnis perempuan sukses pada masanya. Selain itu ada juga Aisyah r.a yang merupakan perawi hadits dan banyak memberikan fatwa karena kecerdasannya. Bahkan ada pula Sumayyah binti Hubath, perempuan yang masuk Islam dan ia mempertahankan keimanannya dengan menyatakan penentangan terhadap orang kafir yang menyiksanya hingga ia syahid.

Ketika Islam mulai menyebar ke penjuru dunia, cahaya terang pun terus meliputi kaum perempuan. Di Eropa, kaum perempuan Islam yang menjadi perintis kebangkitan kaumnya. Perempuan barat justru berhutang banyak pada kaum perempuan Andalusia yang mengajari mereka dengan berbagai ilmu kehidupan. Selain itu, kaum laki-laki di barat juga belajar banyak terkait bagaimana cara menghormati kaum perempuan dari umat muslim bangsa Arab. Gustav Le Bonn pada bukunya yang berjudul La Civilasation des Arabes halaman 428 menuliskan, “Dari orang-orang Arablah penduduk Eropa mengadopsi sifat menghormati wanita, sebagaimana dari orang-orang Arab pula mereka mempelajari kecakapan memacu kuda”.

Le Bonn juga menambahkan bahwa kepentingan perempuan dalam kemajuan bangsa Arab sangat nyata bisa dilihat dengan mengetahui jumlah kaum perempuannya yang terkenal dengan keluasan ilmu pengetahuannya. Bukan hanya itu, ilmuwan Barat lainnya yakni Van Kreimer juga menuliskan dalam bukunya bahwa orang-orang Arab Cordovalah yang mencontohkan pada Eropa bagaimana kaum laki-laki menghormati perempuan.

Ketika Islam sampai ke Indonesia, terlahir pula perempuan-perempuan yang pernah merasakan hidup dibawah naungan khilafah. Mereka hebat dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari Belanda. Mereka adalah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pecut Meurah Intan dan lain-lain. Bukan hal yang aneh di Aceh terdapat kaum perempuan yang mengikuti perang atau menjadi panglima perang. Bahkan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh telah memiliki Panglima Angkatan Laut perempuan yakni Malahayati.

Uraian diatas merupakan kegemilangan yang diraih kaum perempuan bila Syari’at Islam diterapkan dalam naungan Khilafah. Mari kita bandingkan dengan kehidupan perempuan dimasa sekarang. Tak jarang terjadi tindak pemerkosaan, pelecehan bahkan merebaknya prostitusi baik online maupun secara terang-terangan. Bukan hanya di Indonesia, diseluruh dunia tak jarang kasus-kasus kejahatan yang menimpa kaum perempuan menghiasi headline berbagai media.

Lalu sampai kapan kita akan diam dengan berbagai macam isu kejahatan yang menimpa kaum perempuan? Perjuangan untuk mengangkat harkat martabat kaum perempuan bukanlah dengan cara memperingati Hari Kartini dengan menggunakan baju kebaya, memperjuangkan kemuliaan kaum perempuan juga bukan dilakukan dengan kampanye-kampanye emansipasi wanita. Namun perjuangan untuk meninggikan derajat kaum perempuan adalah berjuang dalam menegakkan Syariat Islam secara kaffah di muka bumi ini, karena hanya Khilafah-lah kaum perempuan mencapai kemuliaan yang haqiqi dan terjaga. Wallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.