KEMBANGKAN PADI BERUJUNG JERUJI

50

Oleh: Ashaima Va

Nahas benar nasib Tgk Munirwan. Maksud hati berinovasi mengembangan benih padi agar panen berlimpah malah berujung dipolisikan. Tgk Munirwan ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polda Aceh sejak 23 Juli 2019 karena dilaporkan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, atas tuduhan memproduksi dan mengedarkan benih padi jenis IF-8 yang belum dilepas varietasnya dan belum disertifikasi atau berlabel. (Antaranews, 25/7/2019)

Tgk MunIrwan yang juga menjabat sebagai kepala desa Meunasah Rayeuk berhasil mengembangkan varietas padi jenis IF-8. Berkat usahanya tersebut permintaan masyarakat terhadap benih tersebut menjadi banyak. Desa Meunasah Rayeuk pun  membentuk BUMG dengan menjual benih tersebut hingga ke empat kecamatan. Karena pengelolaan ini desa setempat berhasil menghasilkan PAD sampai Rp1,5 miliar.

Komisi II DPR Aceh, Nurzahri,  mengecam penangkapan tersebut bahkan menurutnya ada faktor persaingan bisnis dalam penangkapan tersebut. Ditengarai petani yang beralih ke benih padi IF-8 telah membuat benih padi yang lain kurang laku di pasaran (viva.co.id, 25/7/2019)

Penangkapan Tgk Munirwan akan menambah deret panjang ketidakberpihakan pemerintah pada petani dan menambah preseden buruk penegakkan hukum di Indonesia. Orang berprestasi seperti Munirwan semestinya dirangkul. Di-support 100% agar semakin banyak beredar benih unggul yang bisa diakses masyarakat.

Mirisnya lagi instansi pemerintah  yang seharusnya membina orang berprestasi seperti Tgk Munirwan malah menjadi perpanjangan tangan para cukong yang kalah bersaing.

Pemerintah selayaknya hadir di tengah-tengah petani. Pencabutan subsidi benih pada awal tahun 2018 menjadi kado pahit bagi petani. Tak hanya itu komoditi pertanian juga harus berhadap-hadapan dengan produk impor dan semakin membuat petani menjerit.

Saat hak membuat aturan diserahkan kepada manusia jangan berharap penguasa akan melayani rakyatnya. Fakta yang terjadi justru penguasa hanya berpihak pada pemilik modal yang jumlahnya hanya segelintir.

Berbeda dengan Islam. Allah SWT sebagai Zat yang paling berhak membuat aturan telah menetapkan penguasa sebagai pemelihara urusan rakyatnya. Penguasa mesti melayani urusan rakyat  bukan malah mengebiri kepentingan rakyat.

Kitab Al-Filahah agaknya bisa menjadi jejak peninggalan yang menjadi saksi betapa tingginya perhatian kekhilafahan terhadap pertanian. Dalam kitab tersebut digambarkan secara rinci 600 jenis tanaman dan budidaya 50 jenis buah-buahan. Kitab yang ditulis Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Ibn Al-Awwan tersebut juga memuat informasi tentang hama dan penyakit serta penanggulangannya, teknik mengolah tanah: sifat-sifat tanah, karakteristik dan tanaman yang cocok; serta tentang kompos. Inovasi dari ilmuan diapresiasi bukan dikriminalisasi. Al-Filahah hanya satu dari sekian banyak teknologi pertanian yang berkembang kala itu.

Maka, berkhidmat pada aturan manusia hanya menambah kesempitan hidup sedang berkhidmat pada syariat Allah akan membawa rahmat bagi semesta alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.