Kekusaan Mencengkram, Ulamapun Terbungkam

64

Oleh : Dewi Sartika (Pemerhati Muslimah Konda)

Tak lama lagi kita akan memasuki tahun politik 2019, dimana para calon mulai mendulang suara dengan berbagai macam cara termasuk melibatkan ulama, karena keterlibatan ulama dianggap memiliki nilai strategis yang mampu mendongkrak suara kaum muslim. Kubu pertama tak tangung-tangung mengadeng ulama sebagai calon wakilnya, sedangkan kubu kedua melakukan ijtima ulama untuk mendukungnya dalam pilpres nanti.

Namun dengan adanya ijtima ulama itu KH Makruf Amin mempertanyakan keulamaan peserta ijtima ulama. Apakah mereka ulama betulan? Punyak pondok pesantren dimana? Kiyai siapa ? Intinya keulamaan peserta ijtima ulama diragukanya.

Dengan adanya perang opini ini akhirnya masyarakat ramai diperbincangkan dan dipertanyakan tentang siapakah yang bisa disebut ulama dan ulama mana yang bisa dijadikan sebagai panutan dan suri tauladan, karena bagi masyarakat ulama adalah jabatan yang sakral, kesakralanya terletak pada kedalaman ilmunya serta ketinggian akhlaknya, dan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.

Ulama Dalam Sistem Kapitalis Demokrasi

Ulama dan penguasa merupakan ksatuan yang tidak bisa dipisahkan karena dengan adanya mereka maka syariat dan hukum Allah bisa diterealisasi di muka bumi ini, namun tidak semua ulama bisa menjalankan peranya dengan sempurna ketika dia masuk dalam lingkaran kekuasaan yang berada dalam sistim kufur (rusak) bahkan mereka hanya akan dijadikan sebagai alat legitimasi atau stempel belaka oleh penguasa untuk mengokohkan kedzoliman dan kebatilan yang ada, selain itu akan menimbulkan mudorot yang besar bagi masyarakat baik untuk urusan agama maupun urusan dunia mereka. Ketika kebijakan penguasa dzalim dijastifikasi atau diiyakan oleh ulama maka masyarakat awam pun yang tidak faham akan terseret dalam kerusakan, bahkan mereka akan mendukung kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan penguasa dengan dalih ulama membolehkannnya.

Sebagai contoh ulama pada masa kekhalifahan yang menjadi stempel negara yaitu, salah satu tokoh yang terkenal adalah Ahmad Bin Abi Du’ad dia adalah sosok pemimpin muktazilah yang memprovokasi khalifah  al-Makmun, al Mu’tasim dan al Watsiq untuk memaksakan akidah kemakhlukan al-Quran al-Karim dan menjebloskan siapa saja yang menolak ke dalam penjara. Dan dia juga memprovokasi al-Watsiq untuk mengeksekusi mati Ahmad bin Nashr al-Khuza’i seorang tokoh yang gigih dalam memperjuangkan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa. Contoh ulama diatas  seharusnya mnjadi perhatian kita semua agar tidak terjadi lagi hal yang demikian.

Bahaya lain ketika ulama mnjadi stempel penguasa adalah tergelincirnya ulama dari koridor ulama yang sebenarnya yang mana tugas ulama adalah mengoreksi penguasa-penguasa yang mana kala melakukan kedzoliman dan penyimpangan terhadap syariah Allah.

Bahkan tergelincirnya ulama dapat menyebabkan kehancuran Islam dan kesesatan manusia lantaran mengikuti ulama yang tergelincir tersebut dengan mengira sebagai kebenaran. Menurut al Imam Ibn Abdil Barr sebagai mana tercantum dlm Jami’ Byan Al Ailm wa Fadhlihi mengatakan “para ulama mengibratkan ketergelinciran ulama itu bagaikan bocornya sebuah bahtera , yang mana jika tenggelam maka banyak manusia juga yang akan ikut tenggelam bersamanya”.

Ulama yang Hakiki

Ulama adalah pewaris para Nabi, kenapa sebutan pewaris para Nabi hanya disematkan kepada para ulama, karena yang diwariskan para Nabi kepada ulama adalah ilmu (pengetahuan) baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat sebagaimana sabda Rasulullah “Sesungguhnya ulama adalah pewaria para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariska dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yg banyak” ( HR at-Tirmizi,Ahmad,ad-Darimi dan Abu Dawud).

Karena kedalaman dan katinggian ilmu yang dimiliki ulam maka patutlah seorang ulama itu layak dijadikan sebagai panutan dan ucapanya didengar oleh manusia karena ulama diibaratkan sebagai pelita, ketika ulama masih ada maka selama itu pula dunia akan tersinari oleh pelita tersebut. Kemudian seorang ulama tidak boleh takut pada siapa pun kecuali hanya pada Allah. Sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba Nya hanyalah ulama” (Qs fathir:28)

Untuk itu seorang ulama haruslah konsisten dalam kebenaran dan gigih  melawan kebatilan. Sebagamana yang dicontohkan oleh para ulama besar terdahulu seperti Abdullah bin Zubair ketika menolak membaiat Yazid bin Muawiah dan Imam Husain ketika beliau diancam dibunuh karena menolak membaiat Yazid bin Muawiah beliau balik berkata “sungguh mati dalam kemuliaan jauh lebih baik dari pada hidup dalam kehinaan”. Dan masih banyak lagi ulama-ulama yang gigih dalam mempertahankan kebenaran. Selanjutnya seorang ulama harus berani mengatakan kebenaran didepan penguasa dzolim, menyampaikan yng haq secara lantang dan tegas menyingkap yang batil dan menjadi gardan terdepan dalam menghadapi penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa “sesungguhnya jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran didepan penguasa dzolim” (HR  Ahmad,Ibn Majah,Thabrani dan Al baihaqi).

Karna ulama adalah orang pilihan yg bertanggung jawab menjaga kesucian Islam dan melindungi kepentingan umat Islam. Maka ulama sejati adalah seorang yang belajar ilmu agama dan mengajarkanya dengan niat yang ihklas tanpa ada pamrih keduniaan dan kekuasaan yang di inginkan. Wallahu a’lam Bish-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.