Keke dan Momo Challenge : Sampah Peradapan Liberal

170

Para  pegiat dunia maya alias social media tentu tidak asing lagi dengan dua challenge yang lagi viral saat ini.   Apa sih sebenarnya keke challenge dan momo challenge ?

Sebelum keke & momo challenge ada juga yang sempat viral yaitu tik tok .  Aplikasi yang baru-baru ini menghipnotis para remaja, tua maupun muda.  Aplikasi alay yang membuat orang goyang-goyang sendiri GaJe (ga jelas).   Sampai para muslimah pun putus urat malu untuk menampakkan auratnya .   Hanya sekedar untuk mendapatkan follower dan pujian.

Sedangkan Keke Challenge  atau In My Feelings Challenge adalah tren tantangan  di mana orang-orang menari diiringi lagi In My Feelings dari Drake sambil melompat dari mobil saat tengah berjalan. Ada juga yang bergoyang mengikuti mobil yang sedang berjalan dengan pintu yang tetap terbuka, ada yang di jalan dan berbagai macam versi.

Tren ini pun menimbulkan banyak kontroversi,  karena dianggap berbahaya. Bagaimana tidak bahaya? Soalnya sang pengemudi sudah pasti tidak sedang memperhatikan jalan atau kondisi di depannya. Challenge ini juga termasuk pelanggaran lalu lintas, karena berkaitan dengan penyalahgunaan kendaraan dan menempatkan orang yang bersangkutan dan orang lain dalam bahaya.  Ya, karena mempertaruhkan nyawa banyak orang, bukan hanya dirinya sendiri.

Setelah beberapa minggu terakhir netizen dimabukkan dengan adanya Keke Challenge alias In My Feeling Challenge, kini muncul challenge lain yang lebih “gila”.  Belakangan, di sejumlah negara, muncullah tantangan baru bernama Momo Challenge.  Ini bukanlah challenge yang mewajibkanmu untuk joget-joget bersama mobil yang sedang berjalan.  Challenge yang satu ini justru lebih berbahaya daripada itu.  Yang dipertaruhkan bukanlah kemungkinan ditilang polisi, melainkan nyawamu sendiri.

Bermula dari facebook, challenge ini muncul dalam bentuk akun yang juga ada di whatsapp dan you tube. Pemain tantangan ini awalnya harus menambahkan nomor whatsapp si momo untuk dapat berkomunikasi dengannya. Sekilas, sampai tahap ini, segalanya terlihat normal, bukan?

Yang menjadi tak lazim adalah langkah berikutnya: Momo akan mengirimkan gambar pada pemainnya, termasuk yang berbau kekerasan disertai kewajiban bagi pemain untuk melakukan hal tersebut.  Jika menolak, pemain akan diancam oleh Momo hingga ketakutan. Apakah Momo challenge telah memakan korban? Menyedihkannya, iya. Di Argentina, kepolisian sendang menginvestigasi kematian remaja berusia 12 tahun yang di duga merupakan korban Momo. Konon, Momo memang mengincar remaja yang sedang gemar-gemarnya aktif di media social.

Siapakah Momo sebenarnya?   Belum ada kepastian soal identitas Momo yang asli.  Melalui foto profil yang digunakan , memang terlihat wajah seorang wanita yang menyeramkan. Nomor telepon yang digunakan Momo di whatsapp adalah nomor yang berasal dari tiga negara Jepang, Kolombia, dan Meksiko .  Ketiga nomor tersebut tidak memberikan jawaban saat dihubungi melalui telepon. Oleh karenanya, beberapa pihak meyakini bahwa Momo Challenge dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Para orang tua juga dimintai waspada agar putra-putrinya tidak mengikuti tantangan tersebut.

Life Style  Liberal : Merusak Generasi

Menyaksikan gambaran challenge lagi viral saat ini, sungguh sangat miris dan menyedihkan.  Sejatinya, para remaja dan selebriti adalah korban kemajuan teknologi di era globalisasi .  Semua kebablasan  karena rusaknya sistem yang mengagungkan kebebasan (liberal). Kebanyakan remaja yang kebablasan itu adalah remaja Islam yang terjerumus mengikuti life style (gaya hidup) bebas ala Barat.  Barat dijadikan kiblat dalam menjalani kehidupan. Halal dan haram tidak lagi menjadi standart perbuatan.  Beginilah kebanyakan remaja Jaman now!

Sungguh Rasulullah telah mengingatkan kaum muslimin denga sabdanya  :

 “ Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal  dan sehasta demi sehasta , sehingga sekiranya mereka masuk ke lubang biawak sekali pun kalian pasti mengikutinya “  (HR. Bukhori – Muslim).

Kehidupan remaja Islam yang serba bebas tidak membawa maslahat bagi dirinya sendiri apalagi untuk umat. Sebaliknya, mudharat atau kerusakan siap menerkam dan mencabik remaja Islam. Hidup tanpa aturan Sang Pencipta memang ibarat hidup dalam alam rimba.  Semrawut tak tentu arah dan menghantarkan pada kebinasaan. Mereka menjadi abai dengan masa depan mereka sendiri , apalagi terhadap kondisi umat .

Peradaban sekuler liberal yang diterapkan kini adalah sistem kehidupan rusak dan merusak.  Telah berkontribusi besar menghancurkan generasi kekinian. Maka disadari atau tidak, sebenarnya dari rahim peradaban rusak inilah lahir generasi alay dan abai. Jika sistem ini terus dipertahankan maka generasi alay akan tumbuh subur.  Bahkan lebih parah dari yang sudah ada. Masihkah sistem ini mau dipertahankan ?

Tanggung jawab siapa?

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya agama menjadi standar untuk mengukur mana yang positif dan negative dari segala sesuatu yang dihadapinya, termasuk social media. Lingkungan keluarga yaitu orang tua -khususnya Ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-  sangat bertanggungjawab dalam mempengaruhi standarisasi buah hatinya.  Apalagi di masa remaja, dimana mereka dalam fase mencari jati diri, sangatlah penting bagi para orang tua untuk pendampingan untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian Islam sejak dini.  Agar para remaja memiliki cara berpikir dan bersikap yang dilandasi oleh akidah Islam.

Penanaman nilai keimanan oleh orang tua merupakan hal yang penting dan paling mendasar. Menyakinkan kepada anaknya bahwa manusia adalah makhluk Allah SWT, tujuan hidup untuk beribadah kepada Allah, dan setelah kehidupan akan ada balasan atas perbuatan manusia selama di dunia.   Ditanamkan pula terkait hukum syara, yaitu perbuatan apa saja yang diperintahkan agama untuk dilakukan (wajib), yang dilarang (haram) ataupun yang berbentuk pilihan (mubah). Sesuatu yang mubah ini hanya dilakukan  jika bermanfaat dan dihindari jika tidak bermanfaat.  Sehingga sebelum memasuki usia baligh,  mereka  telah punya prinsip dan sikap hidup yang kuat.  Paham apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang  akan mereka tuju di masa datang. Plus tau konsekuensi atas semua perbuatan baik di dunia maupun akhirat. Ini akan menjadi filter kuat bagi remaja .  Sehingga  tidak terjebak dengan perilaku alay atau tantangan yang lagi viral kini.

Selain itu, peran lingkungan sekolah juga sangat penting untuk mendidik para remaja agar taat agama dengan memberlakukan kurikulum pendidikan yang mampu menghasilkan anak didik yang beriman dan bertakwa.  Peran lingkungan masyarakat juga tak kalah pentingnya, sebab kondisi lingkungan sekitar remaja juga memberikan warna bagi perkembangan kepribadiannya. Meskipun kita menyadari bahwa dimana pun saat ini hampir tak ada tempat yang steril dari teladan-teladan negative. Sudah selayaknya kita bisa membangun masyarakat yang memiliki kontrol social yang baik.  Tidak seperti saat sekarang , banyak yang cuek bebek bahkan mendukung kemaksiatan.

Peran yang sama sekali tidak boleh diabaikan adalah peran penguasa. Karena bagaimanapun kerja keras orang tua, para guru sekolah, dan masyarat untuk menghidari pengaruh buruk globalisasi, semuanya bagai pasir yang tersapu ombak.  Tak bisa bertahan melawan gempuran sistem rusak dan merusak yang diterapkan oleh penguasa. Maka sistem sekuler kapitalis yang terbukti memproduksi kerusakan remaja, sudah sepantasnya dicampakkan dan beralih kepada sistem aturan yang berasal dari Sang Pencipta manusia dan alam semesta. Karena Sang Pencipta manusia dan alam semestalah yang paling tau dengan makhluk ciptaan-Nya.  Inilah sistem Islam yang telah terbukti secara fakta sejarah mampu mencetak generasi tangguh sekaligus memberikan kontribusi terbaik bagi peradapan manusia sepanjang Jaman.  Karena hanya dalam sistem Islam atau Khilafah Islam ,  kemaslahatan akah terwujud.  Semoga dengan diterapkannya Islam secara  formal (sistem)  tak akan ada lagi generasi alay dan abai pada Rabbnya.   Generasi tangguh akan menggantikannya dan bersungguh-sungguh  membangun peradapan cemerlang.  Insha Allah[] (Ratna Kurniawati, Pelajar dan Aktifis Dakwah Remaja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.