Keibuan Yang Terenggut

Oleh : Ummu Tsabita

Sempat viral dikabarkan Kompas.com , ditemukan sesosok bayi berlumuran darah dalam toilet di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, oleh petugas kebersihan , Selasa (8/5/2018).  Belakangan diketahui, bayi tersebut baru dilahirkan oleh salah seorang peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) berinisial IF (18), warga Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. IF kedapatan oleh petugas SBMPTN tiga kali keluar masuk dalam toilet dengan kondisi meringis dan pucat.

Tak berhenti pada kasus itu, ditemukan lagi  jasad bayi tanpa kepala di sebuah kebun sawit, di Batanghari Jambi. Kepolisian berhasil mengungkap bahwa pelakunya adalah satu keluarga, terdiri dari kakak, adik dan ibu mereka .  Terungkap bahwa bayi adalah hasil hubungan incest antara kakak dan adik tersebut. (Liputan6.com, 6/6/2018).  Miris dan sedih membayangkan, seorang ibu atau bahkan beserta nenek dengan tega membuang darah dagingnya sendiri .

Apa yang salah dengan mereka-para ibu- yang secara fitrahnya punya naluri untuk mencintai dan melindungi buah hatinya, kok bisa sangat kejam?

Sistem Liberal Merusak Fitrah

 Allah SWT telah memberikan kepada setiap manusia gharizah nau’ (naluri seksual),  untuk melanjutkan keturunan mereka.  Manifestasinya memunculkan rasa sayang kepada keluarga dan anak-anak.  Bahkan di dunia hewan, bisa kita lihat betapa induk ayam atau buaya sekalipun yang sangat protek terhadap telur mereka.  Semua sangat alamiah, fitrah.

Namun apa yang terjadi pada manusia hari ini? Dengan diterapkannya sistem Kapitalis Liberal , menyebabkan kebebasan begitu liar. Naluri yang sesungguhnya diciptakan Allah utuk melestarikan jenis manusia dan menikah menjadi solusi pemuasannya , berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan dampaknya.

Angka pergaulan bebas dengan segala dampaknya sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut data Indonesian Police Watch (IPW) mencatat sepanjang 2017 ada 178 bayi yang baru dilahirkan dibuang di jalan, dengan 79 di antaranya ditemukan tewas. ( panjimas.com , 2/1/2018).  Bahkan sepanjang  Januari saja ada 54 bayi dibuang di jalanan.  Umumnya pelaku berusia 15 hingga 21 tahun. “ Angka ini mengalami kenaikan dua kali lipat (100 persen lebih) dibandingkan di periode yang sama pada Januari 2017,“ ungkap Neta S Pane, Ketua Presidium IPW (hidayatullah.com,  31/1/2018) . Belum lagi kasus incest , begitu marak di Indonesia.  Komnas Perempuan mencatat kasus kekerasan terhadap permpuan sebanyak 9.409  yang dilaporkan sepanjang 2017, dan ada  1.210 kasus merupakan kasus incest. “ Paling banyak kasus dilakukan ayah kandung sekitar 425 kasus, sisanya oleh anggota keluarga dekat yang lain. (tribunnews.com , 19 /4/2018).

Di dalam masyarakat Barat , pergaulan bebas bukanlah sesuatu yang dianggap aneh.  Bagi mereka kebutuhan seksual dianggap wajib disalurkan. Baik dengan pernikahan atau di luar nikah. Salim Fredericks menulis dalam bukunya Political and Cultural Invasion bahwa kebebasan di sistem Kapitalis telah membuka kotak pandora yang berisi segala macam penyakit yang menggoyahkan bangunan keluarga.  Berbagai tayangan opera sabun yang menumpulkan akal, lagi-lagu cinta, stasiun TV kabel musik, dan majalah-majalah pop  mewah  berfungsi layaknya  ‘ruang kelas’ yang memberikan ‘pendidikan’ bagi anak-anak muda soal pergaulan.  Perekonomian pasar bebas telah mengeksploitasi seks habis-habisan. Semua itu telah menciptakan ‘monster’ yang sangat berbahaya bagi keluarga.

Revolusi seksual di Barat telah terjadi sangat masif, seiring dengan perkembangan ekonominya. Kapitalisme telah mengubah begitu banyak aspek struktur alamiah keluarga,  termasuk kedudukan para ibu.  Dengan alasan ekonomi, seorang ibu bekerja full time, sambil berperan jadi orang tua. Untuk itu, ia akan menghabiskan ¾ penghasilannya untuk membayar biaya perawatan anak. Ditambah serangan ide feminis , bahkan peran perempuan sebagai ibu bisa ditunda sampai memperoleh kenaikan pangkat atau keberhasilan bisnis. Biasanya mereka memilih cara sterilisasi ‘sementara. Kalau saja ada cara pembekuan telur, itupun akan mereka pilih. (Salim Fredericks: 2004)

Para ibu  di dalam sistem ini pun pada hakikatnya  dihadapkan pada dua bahaya besar, yaitu (1) disorientasinya sebagai ibu dan pilar utama keluarga serta (2) eksploitasi ilmu dan keahliannya untuk kepentingan industri kapitalis. Di dalam sistem inilah, derajat kaum hawa hanya dinilai dari seberapa besar materi yang dihasilkan.  Waktunya habis untuk bekerja di luar rumah atas nama profesionalitas.

Parahnya, penguasa-penguasa di negri-negri muslim justru membebek menerapkan sistem Kapitalis, disertai segala turunannya. Mulai kebijakan-kebijakan Barat untuk penanganan generasi muda dan keluarga, atau dengan tangan terbuka menerima arus kerusakan melalui media massa , hiburan dan pariwisata.  Di Indonesia, ketika marak penyakit menular seksual dan aborsi di kalangan anak muda, justru sex education ala Barat yang dipandang sebagai solusi. Sebagai bagian dari upaya kontrol kependudukan. Termasuk mempersoalkan pernikahan di usia dini yang banyak terjadi , dengan alasan kontraproduktif terhadap pemberdayaan perempuan .

Alih-alih menuntaskan masalah, justru mereka dipusingkan lagi dengan masalah-masalah ikutannya. Lihat saja data terkait seks bebas, bukannya berkurang setiap tahun !  Pengetahuan remaja terkait seksualitas dan pemahaman tentang penggunaan alat kontrasepsi tidak mampu menekan pilaku yang rusak.  Justru para ibu muda, muncul sebagai ‘pembunuh’ berdarah dingin bagi darah dagingnya sendiri .  Astaghfirullah.

Kedudukan Ibu dalam Islam

Dienul Islam memandang kedudukan orangtua -khususnya  ibu- sangat mulia.  Allah Swt mewajibkan birul walidain  ( QS. Al sraa’ : 23).

Dari Abu Hurairah,  Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “ Wahai Rasulullah, siapa di antara manusia yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan persahabatanku ? “. Rasul menjawab : “ Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi ?” . Rasul menjawab; “Ibumu”. “Kemudian siapa lagi ?” Rasul menjawab : “Ibumu” “Dan setelah itu?”. Rasul menjawab : “Bapakmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tak sebagaimana sistem Barat yang mengukur kontribusi selalu dengan persfektif ekonomi , maka dalam sistem Islam, muslimah diposisikan sebagai sosok yang dapat berkontribusi besar dalam membangun peradaban.  Tanpa mengalami disorientasi peran maupun dilemma dengan keilmuannya. Karena intelektual muslimah memiliki kombinasi posisi dan peran strategis sebagai berikut : 1) sebagai ibu, sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya, 2) sebagai ibu dan pendidik generasi, 3) sebagai pengemban dakwah dan pejuang Islam, 4) sebagai problem solver berbagai permasalahan umat.

Maka tugas mendidik generasi dan pengemban dakwah adalah sesuatu yang tak boleh dipandang remeh untuk menyelesaikan kebobrokan sosial pada generasi ini. Jangan malah upaya para ibu mendidik anak dan berdakwah di masyarakat dengan Islam Kaffah dipandang sebagai tindakan radikal dan penyemai benih teroris. Bener-bener islamophobia akut.

Selain itu, perlu sekali negara turun tangan menerapkan pengaturan interaksi laki-laki dan perempuan dengan Islam. Juga pemberian sanksi yang keras bagi pelaku zina, incest, liwath dan penyimpangan seksual lainnya. Juga bagaimana jaminan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, seperti bagaimana menyediakan rumah yang layak huni dan memenuhi standar pengaturan ruang privat sesuai Islam. Sehingga mampu mencegah tindakan incest di masyarakat.

Posisi ibu dan solusi yang mulia ini ,  tak kan terlaksana tanpa ada ‘niat baik’ untuk menjadikan Islam sebagai way of life.  Wallahua’lam bishowab[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.