Kedudukan Adzan dan Menara Masjid dalam Syi’ar Islam 

219
Keterangan Foto: Menara Masjid Hassan II, Casablanca, Morroco yang tingginya 210 meter

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I [Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat]

Adzan, dalam Islam menempati kedudukan yang penting sebagai bagian dari syi’ar Islam. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) dalam kamus ahli fikihnya, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’:

الاذان: الاعلام وأصله من ” الاذن ” كأن يلقى في اذن السامع * الاعلام بوقت الصلاة بألفاظ ورد بها الشرع.
Adzan adalah pemberitahuan, asal-usul katanya adalah al-udzn, seakan-akan (adzan) itu adalah sesuatu yang diperdengarkan ke telinga pendengarnya. Yakni pemberitahuan atas tibanya waktu shalat, dengan lafal-lafal yang disebutkan oleh syari’at.[1]

Keberadaan adzan sebagai seruan ini, setali tiga uang dengan keberadaan fasilitas masjid dan menaranya. Dalam referensi yang sama, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji ketika memaknai kata (المنارة) menyifati menara sebagai salah satu bagian dari masjid, diistilahkan مئذنة المسجد.[2] Masjid itu sendiri, sebagaimana disifati oleh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji:

المسجد: بسكون السين وكسر الجيم ج مساجد، الموضع الذي يسجد فيه. * المكان الذي أعد للصلاة فيه على الدوام
Masjid: dengan di-sukun-kan huruf sin-nya, dan di-kasrah-kan huruf jim-nya, jamaknya adalah masâjid, adalah tempat dimana umat Islam bersujud (shalat) di dalamnya, yakni tempat yang disediakan untuk ibadah shalat secara berkesinambungan.[3]

Maka baik masjid maupun menara adzan dalam Islam jelas termasuk bagian dari sarana syi’ar Islam itu sendiri. Dan syi’ar Islam, sebagaimana firman-Nya:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ {٣٢}
“Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu.” (QS. Al-Hajj [22]: 32)

Yakni sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) menjelaskan bahwa di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, yakni syi’ar-syi’ar Din-Nya.[4] Syi’ar adzan pun misalnya, jelas menjadi salah satu simbol persatuan umat Islam, mengingat kalimat yang termaktub di dalamnya merupakan kalimat tauhid yang menyatukan umat Islam.

Berangkat dari penjelasan di atas, maka segala bentuk intervensi, semisal pelarangan atas gema suara adzan yang dipasang keluar masjid, serta intervensi atas pembangunan menara masjid, adalah bentuk intervensi yang tidak menghargai hak umat Islam untuk menunaikan syari’at ibadahnya dan syi’ar ajarannya, jelas intoleransi, dalam sistem Khilafah, peristiwa ini bisa diatasi segera, dengan adanya kepemimpinan Islam yang menjaga Islam dan hak-hak warga negara.

Catatan Kaki:
[1] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr al-Nafâ’is, cet. II, 1408 H, hlm. 52.
[2] Ibid, hlm. 461.
[3] Ibid, hlm. 428.
[4] Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam al-Tawfîq, Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 103.