Kebebasan Semu Demokrasi

Puluhan massa PDIP kembali geruduk Radar Bogor foto: www.viva.co.id

Oleh: Isna Yuli, S. Pd (Member Akademi Menulis Kreatif)

Berita tentang penggerudukan kantor Radar Bogor pada Rabu (30/5) sejatinya telah mencoreng wajah demokrasi yang konon memberikan kebebasan berpendapat di negeri ini. Mereka sempat dua kali mendatangi kantor Radar Bogor, dimana kedatangan mereka yang pertama sempat terjadi tindakan yang diduga menimbulkan ketidaknyamanan kepada staf dan pengerusakan alat-alat kantor Radar Bogor. https://m.viva.co.id/amp/berita/metro/1042105-polisi-diminta-tindak-kader-pdip-yang-geruduk-radar-bogor

Hal tersebut dipicu oleh salah satu headline Radar Bogor bertajuk ‘Ongkang-Ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta’ tentang gaji Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang dinilai melecehkan pimpinan mereka.

Apa yang terjadi terkait dengan fakta tersebut, telah menunjukkan kepada kita, sekiranya dapat dilihat bahwa sebagian pihak tak lagi mengindahkan aturan hukum yang berlaku. Pemberitaan yang dirasa oleh pihak yang dijadikan obyek berita, sebenarnya bisa dibantah melalui hak jawab di media yang sama.  Dan itu diatur oleh undang undang. Disinilah ‘keadilan’ media bisa menjadikan pemberitaan berimbang karena ada timbal balik.

Sekali lagi bahwa kebebasan berpendapat di negeri ini telah mengalami kemunduran, jika insiden Radar Bogor tidak diusut secara tuntas. Kran kebebasan berpendapat telah ditutup secara perlahan, kebebasan pers akan kembali terbelenggu oleh rezim. Jika benar hal ini yang terjadi maka bisa dipastikan kedepan akan sulit kita temui media yang menyajikan berita secara independen.

Padahal sejatinya dalam sistem demokrasi yang begitu diagungkan di negeri ini, terdapat kebebasan menyampaikan pendapat, menyampaikan aspirasi dan mengkritik penguasa.

Adanya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berfungsi sebagai wadah menampung aspirasi rakyat. Menyampaikan apa yang dirasakan oleh masyarakat dan selanjutnya diteruskan kepada penguasa guna membuat kebijakan yang pro rakyat. Jika kebebasan berpendapat telah tiada, segala kebijakan pemerintah tak bisa lagi dikritisi, pemerintah menutup telinga rapat-rapat. Lalu masihkah kita percaya dan menggantungkan harapan kepada demokrasi yang konon katanya menjamin kebebasan berpendapat ?

Namun ketika pendapat itu tak sejalan dengan ‘haluan’ pemerintah apalagi mengkritisi maka pendapat itu tidak ada artinya bahkan bisa menjadi ‘boomerang’ bagi mereka yang mengkritisi.

Lantas bagaimana Islam memandang tentang koreksi atau kritik penguasa sendiri? Jika kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah kebijakan atau aturan yang berpotensi melanggar hukum syara’ atau mendzalimi rakyat? Tidakkah perlu untuk dikritisi?

Jika kita melihat aturan Islam secara paripurna, maka kita akan temukan adanya aturan tentang bermufakad, menyampaikan pendapat dan mengkritik penguasa. Islam menjamin kebebasan menyampaikan pendapat baik secara lisan maupun tulisan.

Mengkritik penguasa dalam Islam bukanlah hal yang dilarang, karena seorang pemimpin hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Jika kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin ternyata tidak sesuai dengan hukum syara’ atau bahkan berpotensi mendzalimi rakyat, maka siapapun yang mengetahui dan mampu dia berkewajiban untuk melakukan muhasabah kepada penguasa tersebut. Mengkritik penguasa juga merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT, yaitu dengan beramar ma’ruf nahi munkar.

Diantara kisah yang masyhur adalah ketika pengangkatan Umar Bin Khattab diangkat sebagai khalifah. Beliau menangis dan mengatakan bahwa khawatir tidak akan ada sahabat yang berani meluruskan. Maka berdirilah seorang pemuda samvil mengangkat pedangnya. Ya Umar laksanakan perintah Allah atau pedang ini yang akan meluruskanmu.  Saat itu Umar pun tersenyum.

Meluruskan kesalahan dalam islam adalah bagian dari dakwah. Termasuk kepada penguasa. Karena penguasa juga adalah manusia sehingga sangat mungkin melakukan kesalahan. Maka dengan adanya muhasabah/koreksi penguasa hal itu telah membuat penjagaan terhadap aturan Allah yang dijalankan akan tetap dijaga dan dilindungi. Allahu a’lam bi ash showab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.