Kasih Sayang Islam dalam Perang

Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Ksatria Islam Pembebas Al-Quds

Oleh : Dessy Fatmawati, S. T

Radikal, kata yang populer akhir-akhir ini sebenarnya memiliki makna yang netral. Konotasi negatif yang melekat muncul dari derasnya arus opini untuk menghadang naiknya Islam di panggung penyelesaian masalah publik. Rambatan Islam di ranah publik ini direspon dengan upaya labeling agar ummat kembali mendudukan agama pada ranah yang disetujui (ranah privat) oleh prinsip sekulerisme.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj mendesak pengajian ulang kurikulum agama dengan usulan perlunya mengurangi porsi sejarah Islam yang menceritakan perang. “Yang diperhatikan adalah kurikulum pelajaran agama di sekolah. Saya melihat pelajaran agama di sekolah yang disampaikan sejarah perang, misalnya perang badar, perang uhud, pantesan radikal,” katanya dalam acara konferensi wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ahad (29/7).

Belum reda kegaduhan di kalangan umat Islam akan tuduhan pesantren, kampus, dan masjid sebagai sarang radikal. Tepuk anak sholeh dicap anti toleransi. Al Qur’an sebagai barang bukti pemicu aksi terorisme. Kini bab Sirah Rasulullah dalam mata pelajaran agama di sekolah dianggap pemicu radikalisme pelajar.

Islam adalah agama yang unik. Ia lebih dari sekedar agama ritual. Sejak awal hadirnya Islam, Rasulullah mendidik para shahabat dan ummatnya agar tidak membatasi pandangan mereka pada realitas zaman. Namun lebih pada visi akhir yang ingin dicapai, membebaskan dunia dengan kepemimpinan Islam. Dan untuk visi ini, Rasulullah menempuh dengan dakwah dan jihad. Diantaranya perang Badar dan perang Uhud. Baik keduanya maupun perang-perang setelahnya bertujuan hanya satu, menegakkan kalimatullah.

Penegakan kalimatullah bukanlah klaim semata, namun sejarah mencatat kesaksian dari pihak kaum non muslim atas jihad yang dilakukan kaum muslimin. Imam Al Baladzi dalam Futuhu Buldan menulis, Ketika perang Yarmuk berlangsung, kaum Muslim mengembalikan kharaj penduduk Homs di Syiria, lalu menyampaikan pada mereka, “Kami terlalu sibuk untuk mendukung dan melindungi kalian. Uruslah diri kalian sendiri!”. Mendapat pesan seperti ini penduduk Homs lalu membalas perkataan tersebut, “Kami menyenangi pemerintahan kalian dan keadilan yang kalian terapkan jauh lebih baik daripada pemerintahan penindas dan tirani Romawi yang dulu pernah kami alami. Dengan bantuan amil kalian, pasukan Heraklius seharusnya memang ditolak dari kota.” Orang yahudi Homs pun ikut berdiri lalu menyampaikan, “Kami bersumpah demi kitab Taurat, tidak ada satupun dari penguasa Heraklius memasuki kota melainkan kami akan diusir dan dibantai”. “Jikalau Heraklius dan anteknya  menang menang menghadapi kaum muslimin, maka kita akan kembali pada kondisi dahulu kala, karena itu kita harus mempertahankan kondisi ini selama mungkin bersama kaum muslim.”

Asumsi bahwa pengisahan perang Rasulullah sebagai sumber masalah bagi kaum muslimin termasuk radikalisme tidak lain adalah asumsi yang keliru. Ahli barat profesor Francois Borgia menyatakan bahwa penyebab terorisme dan ekstremisme politik bukanlah faktor agama. Ia menekankan bahwa 90% industri kekerasan di dunia ada peran Barat di belakangnya, terutama melalui diktator dan penguasa di daerah yang didukung oleh Barat (04/07/2018).

Eliminasi materi mata pelajaran agama dalam perjalanan kaum muslimin di Indonesia sesungguhnya sudah banyak. Mulai dari pembatasan jam pelajaran menjadi dua jam per minggu. Materi ajaran Islam hanya seputar ibadah dan akhlaq dengan alasan tidak sesuai dengan zaman. Pun dengan sejarah Islam, meski ada di buku pelajaran tidak sedikit guru yang melewatinya dengan alasan  bisa dibaca sendiri. Disisi lain, banjir informasi dan teori-teori pembelajaran yang kontra produktif dengan Islam harus dienyam siswa selama proses pembelajaran. Mulai dari usia dini, pra baligh hingga usia baligh.

Adanya usulan Ketum PBNU bukanlan usulan spontan belaka. Usulan ini merupakan cerminan sekulerisme dalam merespon agama yang mencoba melampaui wewenang yang dibentuk. Usulan ini jelas ada upaya menyerang ajaran Islam yang dianggap sebagai bibit kekerasan (radikal). Barat dan anteknya sangat ambisius dalam memojokkan Islam. Namun pada saat yang sama lupa begitu saja kekejaman perang akibat kerakusan kapitalisme.

Kesalahan terbesar dari penguasa muslim tetap mempercayai standar nilai yang dipromosikan oleh barat. Melalui propaganda memerangi radikalisme, pemimpin muslim tidak menyadari bahwa musuh-musuh Islam melemah generasi muslim melalui pelucutan tsaqofah-tsaqofah Islam dan penggempuran tsaqofah-tsaqofah asing di bangku pendidikan. Memunculkan generasi muslim yang meremehkan bahkan phobia pada agamanya sendiri.

Maraknya kekerasan yang berlangsung di wilayah mayoritas muslim dalam seratus tahun terakhir adalah buah penerapan sekulerisme oleh barat melalui penjajahan. Pendidikan ala barat yang diadopsi kaum muslimin, dimana ilmu dituntut hanya untuk ijasah. Sekolah hanya menjadi tempat  mencetak pekerja-pekerja yang menjadi pelayan kapitalisme. Orientasi pendidikan dipagari dengan nilai materi (kebendaan) semata menjadikan tidak hanya kekerasan, namun kehadiran seks bebas, homoseksual, dan narkoba adalah hal yang lumrah dijumpai.

Maka sebagaimana ajaran Islam yang lain, perang Rasulullah adalah bagian dari ajaran Islam yang tidak bisa terhapus begitu saja dengan alasan label radikal. Bahkan terlarang bagi muslim untuk memilah-milah ajaran Islam sesuai kehendak hawa nafsu. Dakwah dan Jihad tidaklah berkurang kemuliannya meski barat membencinya. Justru usulan pengurangan porsi ajaran Islam terkait perang menunjukkan inferioritas kaum muslimin di hadapan hegemoni barat. Bukankah mempelajari perang dunia I dan II merupakan makanan wajib kaum muslimin? Padahal tidak ada perdamaian sedikitpun yang dibawa Barat pada PD I dan II.

”…………Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”(QS Al Baqarah:2:85)

BAGIKAN
Berita sebelumyaMakna di Balik Gempa
Berita berikutnyaArti Merdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.