Kapitalisme Menggerus Peran Ibu

34

oleh : Dewi Sartika

Ide feminisme dengan konsep emansipasinya seolah menjadi kebutuhan bagi kaum perempuan jika ingin menjadi sosok yang berperan dalam masyarakat.Di era moderen saat ini, banyak dari kaum wanita yang terhipnotis oleh gemerlapnya kehidupan dengan gaya hidup yang kebarat baratan.

Ide feminisme menjadikan seorang perempuan jauh dari aturan yang disyariatkam oleh agama. Dimulai dari cara mereka berpenampilan diranah publik yang sangat bebas, dengan berpakaian  yang menampakkan aurat, serta menonjolkan bagian bagian tubuh yang dapat membangkitkan sahwat lawan jenisnya. Selanjutnya keinginan berkarir dan memiliki pengasilan sendiri, tanpa memperdulikan peran dan kewajibanya sebagai ibu rumah tangga ( ummu warobatul bayt ), sebagai pendidik bagi anak anaknya. Dikarenakan sibuk dengan urusan pekerjaan diluar rumah, sehingga menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak anaknya kepada orang lain.

Ide feminisme muncul dari sistem kapitalis yang mengagungkan kebebasan, salah satunya adalah kebebasan berprilaku. Menjadikan ide feminisme sebagai tonggak perubahan suatu bangsa adalah sebuah kesalahan dalam memandang posisi perempuan itu sendiri, dengan konsep emansipasi kesetaraan antara laki laki dan perempuan tersebut, menjadikan porsi perempuan yang sesuai fitrahnya justru semakin kabur.

Tak hanya itu, dalam sistem kapitalis juga merangsang seorang perempuan untuk menjadi sosok yang konsumtif, dengan kebijakan pemerintah membuka ruang seluas luasnya kepada para kaum kapital ( pemilik modal) untuk menawarkan barangnya secara bebas. Hingga menjamur berbagai produk gadged terbaru, kosmetik hingga fashion. Dan untuk mendapatkannya tentu membutuhkan uang, sehingga, menuntut kaum hawa untuk bekerja untuk mendapatkan uang. Bahkan tidak sedikit dari mereka dengan suka rela dirinya untuk di exploitasi hanya demi uang.

Pun juga, kapitalisme menjadikan perempuan dinegri ini bahkan dibelahan dunia lainya menderita, ini dikarenakan seorang perempuan yang seharusnya menjadi istri dan ibu bagi anak anaknya, serta mendidik dan mencetak anaknya menjadi generasi unggul, kini telah beralih fungsi sebagai mesin ekonomi dan dipaksa meninggalkan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu.

Selain itu, seorang perempuan juga harus ikut menanggung beban untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Padahal, ketika seorang perempuan keluar rumah untuk bekerja akan rentan mengalami pelecehan, kekerasan, serta pemerkosaan.

Muslimah tonggak peradaban

Didalam islam seorang perempuan begitu dimuliakan dan diposisikan sesuai dengan kodratnya yaitu ummu warobatul bayt .

 Ada syair Arab yang ringkas namun sangat indah sarat makna“ ibu adalah sekolah utama bila engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik”. Amanat dari syair ini amat penting dan sangat relevan dengan kondisi kekinian. Ibu adalah sosok perempuan yang memiliki peran penting dalam pendidikan, tumbuh kembang, serta perilaku dan akhlak putra dan putrinya untuk menjadi manusia yang berkarakter.

Banyak kisah tentang perempuan di masa silam yang berhasil menorehkan tinta emas perjuangannya dalam mencetak generasi unggul, untuk mewujudkan kemajuan peradaban gemilang.

Kita bisa melihat sosok fatimah binti Ubaidillah Az diyah ibunda imam Syafi’i.

Ia adalah madrasah pertama bagi Syafi’i. Sejak kecil imam syafii dibesarkan sendiri oleh ibunya ini dikarenaka sang ayah Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i, meninggal dunia semenjak imam syafii berusia dua tahun.

Fatimah adalah sosok wanita yang cerdas dan tegar ketika suaminya wafat, dan tidak meninggalkan sedikit pun harta untuk di warisi. Namun, ia tidak pernah mengeluh. sebagai single parent  dengan kondisi  yang serba kekurangan, namun ia tetap tegar dan berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Ia memiliki Keinginan, kelak anaknya tersebut  menjadi figur hebat dan bermanfaat bagi semua.

Fatimah pun memutuskan untuk berpindah dari gaza, palestina kampung halaman sang suami menuju ke Makkah. Ia bermaksud untuk mempertemukan imam Syafi’i dengan keluarga besarnya dari Suku Quraisy.

Langkah ini ditempuh oleh Fatimah karena ia khawatir hidup Syafi’i sia-sia. Fatimah pun menginginkan agar Syafii seperti keluarganya di Makkah. Serta tidak kehilangan nama besar  keluarganya.

Tak hanya itu, Fatimah juga mengirim anaknya untuk  belajar bahasa Arab langsung dari Suku Hudzail. kabilah ini terkenal dengan kefasihan bahasa.

Selanjutnya adalah Ibu Sufyan ats-Tsaury

Sufyan ats-Tsaury adalah tokoh besar tabi’ at-tabi’in.Ia seorang fakih yang disebut dengan amirul mukminin fil hadits (pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi). Di balik ulama besar generasi ketiga ini, ada seorang ibu yang shalihah.Ibu yang mendidik dan  menginfakkan waktu untuk membimbingnya, ibunya mendidik bukan hanya setelah ia lahir namun ibunya mendidiknya semenjak ia masih didalam kandungan, selain memberinya makanan yang bergizi ibunya juga menjaga makanananya dari yang tidak halal.

Sejarah mencatat pada saat sufyan ingin serius belajar namun ia membutuhkan modal untuk belajar, ia harus memilih belajar atau belajar sambil mencari modal.

Beliau merasa bimbang jika menuntut ilmu, maka butuh modal dan bekal.Jika mencari modal dan bekal tidak bisa fokus belajar.Karena ilmu itu mudah pergi dan menghilang.

Datanglah pertolongan Allah melalui ibunya. Ibunya berkata, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah..aku yang akan menanggumu dengan usaha memintalku”.

Ibunya menyemangati, menasihati, dan mewasiatinya agar semangat menggapai pengetahuan.Di antara ucapan ibunya adalah “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah!Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu?Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu.Ia tidak bermanfaat untukmu”.

Demikian lah sosok perempuan yang sangat berperan mencetak generasi bermartabat. pun juga dengan kondisi perempuan saat ini mereka dapat melaksanakan perannya secara sempurna sebagai seorang ibu jika ada peran negara yang dapat memjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan mereka. Sehingga seorang wanita tidak harus ikut menanggung beban ekonomi keluarga yang mengharuskanya meninggalakan kewajibanya sebagai seorang ibu. Waullahualam bissawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.