Oleh : Hana Salsabila AR (Komunitas Setajam Pena)

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh “al- mu’tasim” ini? Julukan Seorang khalifah di zaman khilafah Abbasiyah lalu ini memiliki suatu kisah yang menarik. Suatu kisah yang membuat siapapun pasti rindu dengan kepimimpinan seperti beliau.

Konon, diceritakan pada zaman daulah Abbasiyah di masa kepemimpinan khalifah Al mu’tasim dulu, ada seorang Muslimah yang ditangkap oleh orang” Romawi.

Ketika berada didalam penjara tersebut, Muslimah ini berteriak sambil menyebut nama “Al-mu’tasim” ini. Sehingga ditertawakan oleh raja romawi dan dikatakan padanya “Al mu’tasim tidak akan datang, kecuali dengan menunggangi ablaq’ (sejenis kuda).”

Salah seorang Muslim mendengar hal ini lalu mengadukannya pada Al mu’tasim, dan terjadilah perang jihad demi membela seorang Muslimah yang dipimpin oleh khalifah al mu’tasim sendiri.

Subhanallah betapa mulianya kehormatan seorang Muslim pada saat itu. Bahkan hanya karna seorang Muslimah saja rela berjuang, berjihad. Begitu selayaknya sebagai khalifah sekaligus saudara Muslim.

Berbicara tentang al mu’tasim, maka kita sedang membicarakan tentang nyawa dan kehormatan seorang Muslim.

Apakah umat Islam saat ini nyawa dan kehormatannya dianggap begitu berharga sekali? Sehingga ketika ada seorang Muslim yang dilecehkan saja, pasti akan menyulut perasaan Muslim yang lain.

Tentu jawabannya adalah “Tidak”. Kita lihat saat ini, saudara kita di Uyghur. Mereka yang tak bersalah disiksa sedemikian rupa, dimasukkan ke dalam kamp-kamp besar dan dicuci otak dari aqidahnya (Islam), dibunuh para ulamanya, para Muslimahnya dikawin paksa dengan etnis China yang jelas kafir, dan berbagai siksaan lainnya.

Sedangkan dibelahan dunia lain, Palestina, Suriah, mereka tengah dibombardir dan hingga saat ini mereka masih berjuang dan berjihad melawan Zionist sendirian. Di India, diberitakan bahwa pemerintah mereka tengah membuat UU yang mediskriminasi Muslim disana yaitu UU  “Anti – Islam”. Di Irak dan Iran, konflik yang tak henti²nya berkobar.

Lalu, bagaimana reaksi umat Islam yang lainnya terhadap mereka? Diam, tak tahu menahu, bahkan bungkam terhadap berita-berita itu. Sangat disayangkan, bahkan Indonesia yang menjadi negara mayoritas Muslim no.1 di dunia pun tak berkutik atas tindakan kejam para kafirin terhadap Muslim ini. Bahkan Arab saudi yang merupakan tetangga Suriah dan Palestina tak membantu sama sekali, malah katanya mereka juga ikut membantu para kafir barat tuk menghancurkan Suriah dan Palestina.

Mengapa? Mengapa kini justru Umat Islam terpecah belah satu sama lain? Tidak Arab saudi, tidak Indonesia, sama saja. Semua hanya peduli urusan mereka masing-masing. Inikah yang disebut sebagai umat Muslim, umat Rasulullah yang terbaik? Padahal Rasulullah pernah bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim).

Nah sedangkan, orang-orang yang dijajah, ditindas, dan didzalimi oleh orang” kafir itu tidak lain adalah saudara kita sendiri, kaum Muslimin. Tapi apa yang menolak kita untuk menolong dan membantu mereka?

Pertama, Nasionalisme. Karena rasa nasionalis inilah yang menyebabkan tiap² negara hanya peduli dengan urusannya masing-masing. Ibarat bahasa gaulnya : “Elo ya elo, gue ya gue! “, jadi inilah yang membuat banyak negara tak peduli, kalaupun peduli hanya dengan cara mengecam saja tak lebih.

Kedua, Negara yang dibawah kendali Pihak penjajahan. Ya, kalau yang satu ini benar² tidak bisa kita pungkiri adanya bayangan hitam dibawah negara-negara seperti Indonesia, Arab saudi, dll. Cara mereka juga licik, contoh misalnya adalah Indonesia. Penyebab kenapa pemerintah Indonesia diam tidak buka suara atas Uyghur, karena memang Indonesia memiliki hubungan perdagangan yang penting dengan China. Ditambah, utang Indonesia pada mereka juga menambah kesulitan jika bertindak sembarangan.

Kedua alasan tersebut berasal dari satu sumber yang sama. Sumber nya ialah diterapkannya sistem “Kapitalis Sekuler”. Jika kita perhatikan, dari alasan pertama yaitu Nasionalisme, dan Nasionalisme itu berasal dari kapitalis sekuler. Dan yang kedua, berkuasanya orang-orang pemegang kekuasaan terbesar. Itu juga karena Kapitalis sekuler bukan? China, Amerika, keduanya merupakan negara adidaya saat ini. Hanya saja,walaupun  China juga menganut Komunis Sosialis, namun hakikatnya tetaplah satu. Keduanya tak pernah mewujudkan keadilan, dan tidak pernah bersahabat dengan Islam.

Dan jika memang sumber problematika umat saat ini memang berasal dari sana, maka satu²nya jalan ialah kembali pada hakikatnya dimana umat Islam dilindungi dan dijaga dengan baik kehormatannya. Umat Islam jika dipimpin dibawah sistem selain Islam, maka jelas tidak akan bisa hidup tentram. Ibarat “Ikan Lele yang hidup di tengah laut “, jelas dan pasti tidak akan bertahan lama. Karena memang bukan habitatnya, dan bisa jadi lama – kelamaan bisa mati.

Itulah kenapa kita musti bantu saudara-saudara kita yang, di Uyghur, Palestina, maupun dibelahan dunia lainnya yang memerlukan uluran tangan kita. Jika tak bisa menolong mereka dengan senjata, paling tidak berilah bantuan berupa bahan makanan, pakaian,dan keperluan lainnya. Jika tidak, maka doa merupakan jalan terakhir kita, karena itulah selemah-lemahnya iman. Dan jangan lupakan dalam doa kita, minta supaya Allah segera menurunkan pertolongan untuk Umat Islam. Mengirimkan al mu’tasim ke-2, dan itu hanya bisa terwujud setelah Khilafah Islamiyah kembali. Wallahu alam. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.