Jika hanya takut kepadaNya, Maka Akan Terapkan AturanNya

101

Oleh: Tsaqifah Noorhadi Az Zahra

Akhir-akhir ini kita mendengar seorang pemimpin yang mengaku tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Tuhan, Allah swt. Menurutnya, dalam mengelola negara Indonesia yang besar ini adalah tidak mudah. Dibutuhkan pengalaman-pengalaman yang cukup dalam memimpin, seperti halnya beliau yang ‘menganggap’ sudah berpengalaman menjadi walikota dan gubernur, serta menjadi pemimpin negara selama 4,5 tahun ini. Dibutuhkan ketegasan dan keberanian dalam membuat kebijakan. Beliau mencontohkan pemerintahannya membubarkan mafia migas petral, merebut Blok Rokan dan Blok Mahakam serta menguasai 51 persen saham Freeport. “Kita ingin negara ini semakin baik dan saya akan pergunakan seluruh tenaga yang saya miliki, kewenangan yang saya miliki. Tidak ada yang saya takuti untuk kepentingan nasional, rakyat, bangsa negara. Tidak ada yang saya takuti kecuali Allah swt. untuk Indonesia maju,” ungkapnya dalam debat capres kedua beberapa waktu lalu (sinarharapan.co).

Jika ditelisik sekilas, ungkapan beliau memang menjadi sesuatu yang patut dipuji. Sebagai seorang muslim kita memang harus memiliki sifat khauf (takut) kepada Sang Pencipta, karena atas kuasaNya kita berkesempatan hidup di dunia yang indahnya fana. Tapi, apakah pernyataan yang beliau utarakan adalah benar-benar terserap dalam kehidupan?

Nyatanya ada beberapa bahkan banyak kejadian yang sepertinya belum tercermin dari sifat khauf yang dinyatakan oleh beliau. Misal tentang SDA yang terlihat belum maksimal pengelolaannya; sistem bagi kesehatan dan pendidikan masyarakat yang masih amburadul; kemudian saat beberapa demonstrasi dari buruh, guru honorer dan para supir truk yang mengeluhkan naiknya harga tol di jawa, beliau sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya saat itu; kriminalisasi terhadap ulama dan dakwah Islam, bahkan sikap represif dan anti Islam rezimnya atas pencabutan BHP sebuah ormas Islam yang ada di Indonesia; dan berbagai kasus lainnya yang banyak menzholimi rakyat. Termasuk banyak janji yang diingkari dan menciptakan kebohongan yang tak bertepi.

Urusan hati memang kita tidak kuasai. Tapi seharusnya dapat tercermin dalam sikap dan perilaku diri. Mari kita kupas sedikit, untuk jadi bahan bersama dalam evaluasi dan introspeksi.

Jika memang hanya takut kepadaNya, seharusnya beliau bisa melakukan hal yang lebih, demi kepentingan kesejahteraan rakyatnya. Karena sejatinya, pemimpin adalah ‘pelayan’ dan memiliki tanggung jawab yang besar dihadapan Allah swt. jangan sampai ada rakyatnya yang terzholimi akibat perbuatannya yang lebih mementingkan urusan orang asing.

Jika memang hanya takut kepada Allah swt., sejatinya seorang muslim pun dibarengi juga dengan memiliki sifat muraqabatullah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah swt.). Sehingga apabila sifat tersebut sudah merasuk dalam jiwa, segala apa yang akan dilakukan berusaha untuk senantiasa dijaga, agar tidak melenceng dari syari’atNya.

Jika memang hanya takut kepadaNya, tidak bisa tidak untuk senantiasa hidup dengan manual book yang diciptakan olehNya juga, baik dalam hal beribadah, muamalah, pergaulan, kesehatan, pendidikan, sampai kepemerintahan. Yaitu dengan menerapkan aturan Islam kaffah, yang sesuai dengan  Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar hidup berkah dunia dan akhirat.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-A’raf: 96)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.