Jebakan Utang di Balik Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Islam

52

Oleh : Shafiyyah

Bank Dunia menyetujui pinjaman Rp. 3,5 Triliun pemerintah Indonesia untuk mendukung program peningkatan mutu madrasah dasar dan menengah di Indonesia. Menurut Menteri agama, untuk pengembangan madrasah tidak akan optimal jika hanya mengandalkan anggaran negara. APBN tidak cukup untuk menyiapkan sarana fisik, kualitas guru, sistem rekrutmen siswa, standarisasi siswa dan membangun sistem informasi dan teknologi yang baik. CNNIndonesia.com (28/6/2019).

Lain lagi kata Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin, pendidikan Islam tengah menghadapi tantangan pemahaman keagamaan yang datang dari luar yaitu pemahaman yang radikal dan ekstrem. Dan untuk mengatasinya, Kemenag gencar mempromosikan moderasi beragama. Menurutnya, kemajuan yang sudah diperoleh pada pendidikan Islam baik tingkat dasar ataupun menengah dalam hal akses pertumbuhan yang cukup signifikan, mutu yang cukup menggembirakan karena nilai hasil ujian nasional yang sempurna. Hal ini menandakan kualitas yang cukup bagus. Dana pinjaman Rp. 3,5 Triliun untuk peningkatan tata kelola seluruh madrasah di Indonesia dengan membuat sistem informasi dan media tata kelola secara nasional. Republika.co.id (30/6/2019).

Hutang kepada negara asing untuk mendanai pendidikan Islam, akan menjadikan pihak asing dapat mengintervensi dunia pendidikan Islam. Arah pendidikan akan diatur oleh kepentingan asing, dan ini merupakan penjajahan dalam dunia pendidikan. Bagaimana mungkin pendidikan Islam akan berdaulat, dapat menentukan dan mengatur sendiri tujuan, metode dan kurikulum dari pendidikan, semuanya tentu saja harus sesuai dengan keinginan mereka.

Pendidikan juga merupakan subsistem yang dibangun di atas  suatu ideologi tertentu. Karena itu, pendidikan Islam haruslah dibangun di atas ideologi Islam, bukan dibangun di atas ideologi sekuler kapitalisme atau ideologi sosialis komunisme. Dengan berhutang kepada kaum kapitalis ataupun sosialis, untuk pendidikan Islam, akan memberi jalan dan sebagai alat masuk penjajahan bidang pendidikan. Terang saja mereka akan menerapkan ideologi mereka dalam sistem pendidikan Islam, no free lunch !!

Dalam Islam, pendidikan adalah kewajiban setiap individu dan negara bertanggung jawab penuh agar warganya mampu menjalankan kewajiban itu. Pendidikan bebas biaya, dan beasiswa yang selalu diberikan kepada rakyat yang ingin belajar, dengan kesempatan yang sama untuk setiap warganya dalam melanjutkan setiap jenjang pendidikan, sehingga tidak ada warga miskin yang tidak mendapatkan pendidikan karena tidak sanggup membayar sekolahnya.

Negara juga bertanggung jawab penuh untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan bagi rakyatnya. Kebutuhan fisik seperti bangunan sekolah, perpustakaan, laboratorium dan semua sarana yang menjadi pendukung kegiatan belajar mengajar disediakan oleh negara, tentu saja bukan dengan berhutang atau mengemis kepada negara ataupun lembaga lainnya, seperti yang sudah dilakukan oleh Indonesia. Apalagi berhutang kepada negara-negara kafir penjajah dan lembaga yang jelas-jelas merupakan pinjaman yang harus dibayar beserta bunganya, yang akan menambah beban bagi negara ini, dan juga mengandung ribawi yang merupakan kemaksiatan kepada sang Pencipta, Allah SWT.

Selain itu, tujuan pendidikan di dalam Islam adalah untuk membentuk anak didik menjadi Muslim sejati, yang paham terhadap hukum-hukum Islam dan selalu memakai ilmu pengetahuan dalam kehidupannya. Sehingga tak heran, zaman kejayaan Daulah Islam, seseorang yang ahli dalam ilmu pengetahuan juga sekaligus merupakan seorang yang ahli dalam bidang agama. Tidak seperti hari ini, sekulerisme sudah memisahkan agama dari pendidikan. Sehingga jika dalam pendidikan ingin belajar politik Islam, dikatakan radikal, ekstrim. Itulah kalau pendidikan diatur dengan selain Islam, pendidikan hanya dijadikan sebagai ladang bisnis, hanya melihat keuntungan bagi pihak-pihak yang rakus akan keuntungan dunia. Dan tentu saja, akan menjadikan generasi Islam menjadi generasi sekuler, naudzubillah min dzalik. Keberhasilan anak didik hanya dinilai dari angka-angka pada saat ujian telah usai. Dan telah menjadi opini pada masyarakat bahwa sekolah hanya untuk mendapatkan gelar dan pekerjaan saja, bukan untuk menciptakan manusia yang dapat bermanfaat untuk manusia lainnya.

Pada hal Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, Rasulullah saw, pada perang Badar membebaskan para tawanan perang dengan syarat para tawanan mau mengajarkan tulis baca kepada sepuluh orang lainnya. Begitu juga di jaman khalifah Umar bin Khattab, yang memberikan gaji 15 dinar (63,75 gr emas) kepada seorang guru yang mengajar anak-anak. Perpustakaan tersebar di seluruh negeri, dengan buku yang cukup lengkap, seperti pada jaman Abasiyah, perpustakaan al-Fathimiyyin yang mempunyai koleksi buku sebanyak 1.600.000 judul buku. Pada hal bersamaan dengan itu, perpustakaan terbesar di Inggris hanya mempunyai koleksi buku sebanyak 1.800 judul buku.

Hanya di dalam negara yang menerapkan sistem Islamlah, sistem pendidikan Islam akan berdaulat. Dan penerapan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah di atas Manhaj Kenabian kunci bagi keunggulan manusia termasuk bagi ilmu pengetahuan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.