Jangan Islamophobia: Khilafah itu Ajaran Islam

Oleh: Ummu Taqizaki (Penulis, Pemerhati Sosial)

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyatakan bahwa Paham marxisme dan khilafah boleh dibahas di lingkungan kampus, asalkan berada di bawah bimbingan dosen. “Mengkaji ilmu pengetahuan di kampus silakan, yang tidak boleh adalah memilih itu sebagai ideologi, karena negara telah menetapkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan Pancasila,” kata Nasir mengutip Antara, Rabu (31/7).

Dari pernyataannya tersebut, dapat disimpulkan dua hal. Pertama, Nasir memperlakukan ide khilafah sama dengan marxisme. Perlakukan yang sama (antara ide khilafah dengan ide marxisme) di negara ini sebetulnya ibarat peribahasa kacang lupa kulitnya, yaitu perilaku sombong, tidak tahu diri, dan lupa akan asal usulnya. Mengapa demikian? Sebab Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim (beragama Islam). Kemerdekaan Indonesia itu sendiri diwarnai oleh kucuran darah kaum muslimin yang syahid dalam jihad melawan penjajah. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Islam merupakan identitas negeri ini. Adapun khilafah itu sendiri merupakan ajaran Islam.

Khilafah adalah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam. Khilafah dimulai seiring diangkatnya Abu Bakar sebagai pemimpin umat Islam tepat setelah meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun 632. Ternyata selain meninggalkan dua perkara Al-Quran dan Sunah, Rasulullah meninggalkan warisan berupa negara, dengan bukti berupa adanya wilayah kekuasaan, rakyat, sistem, dan aparatur negara.

Khilafah merupakan ajaran Islam dengan dalil-dalil syara yang meliputi al-qur’an, sunnah, dan ijma sahabat. Dalil-dalil yang dimaksud adalah:

  • QS. Al-Baqarah: 30, An-Nisa: 59, dan Al-Maidah: 48.
  • Siapa saja yang mati, sedang di lehernya tidak ada baiat (kepada imam / khalifah) maka ia mati jahiliyah (HR. Muslim)
  • “Para Imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (khalifah) adalah wajib…” (Lihat, Al Jaziri Al Fiqh ‘ala al-madzahib al Arba’ah, Juz  /416)

Dalil-dalil syara tersebut jelas menunjukkan bahwa khilafah merupakan ajaran Islam. Fakta bahwa khilafah saat ini tidak ada karena telah diruntuhkan pada tahun 1924 tidak dapat menjadi alasan untuk mengingkarinya sebagai ajaran Islam. Adapun alasan Menristekdikti membatasi kajian khilafah karena negara ini telah menetapkan NKRI dan Pancasila merupakan alasan yang mengada-ada, sebab khilafah itu sendiri adalah ajaran Islam yang merupakan rujukan dalam perumusan pancasila.

Semua penjelasan ini menunjukkan bahwa khilafah tidak dapat dilepaskan dari ajaran Islam. Oleh karena itu upaya membatasi pembahasan tentang khilafah dan menyamakan perlakuan terhadapnya dengan perlakuan terhadap ide marxisme, dapat dikatakan merupakan suatu bentuk ketakutan pada ajaran Islam (Islamophobia).

Secara hukum, pelarangan penyebaran ajaran marxisme sesuai dengan UU 27/1999 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan keamanan negara. Dalam UU 27/1999 tersebut, pada pasal 107, upaya dengan lisan, tulisan maupun media apa pun menyebarkan atau mengembangkan ajaran Marxisme, Komunisme, Leninisme dalam segala bentuk dan wujudnya dipidana dengan pidana paling lama 20 tahun penjara.

Adapun Islam, tidak ada satu undang-undang pun di Indonesia yang berbunyi larangan penyebaran ajaran Islam. Oleh karena itu pelarangan atau pembatasan yang menunjukkan ketakutan terhadap penyebaran ajaran Islam (islamophobia) merupakan sesuatu yang tidak berdasar hukum.

Jika tidak ada dasar hukum yang melarang penyebaran Islam maka apa yang menjadi dasar islamophobia tersebut? Tidak ada sama sekali! Fakta menunjukkan bahwa Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia dan nafas perjuangan kemerdekaan Indonesia, oleh karena itu islamophobia-lah yang justru tidak boleh berkembang. Sebaliknya kajian tentang khilafah harus digaungkan di luar kampus dan di mana saja, tidak boleh dibatasi dan dikriminalisasi sebab khilafah adalah ajaran Islam.

Kedua, berdasarkan pernyataannya dapat disimpulkan bahwa Nasir melarang untuk memilih ideologi Marxisme dan ideologi Khilafah. Pelarangan terhadap ideologi Marxisme, adalah sesuatu yang bersesuaian dengan hukum seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Adapun pelarangan terhadap ideologi khilafah adalah suatu kesalahan. Mengapa demikian? Untuk memahaminya, perlu dipahami terlebih dahulu definisi ideologi. Ideologi adalah pemikiran menyeluruh dan integral tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, yang darinya lahir atau terpancar sistem. Merujuk pada definisi ideologi ini, jelas khilafah itu bukan ideologi, sebab bukan merupakan pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Sedangkan Islam adalah ideologi, sebab merupakan pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Dalam Islam, alam semesta, manusia, dan kehidupan merupakan ciptaan karena memiliki sifat lemah dan terbatas. Adapun pencipta dari seluruh ciptaan tersebut adalah Allah SWT.

Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwa pelarangan ideologi khilafah adalah sebuah kesalahan sebab khilafah bukanlah ideologi. Khilafah itu sendiri adalah ajaran Islam, dimana Islam adalah ideologi. Dalam hal ini semoga saja larangan Menristekdikti terhadap penyebaran ideologi khilafah adalah karena kekurangpahamannya. Untuk menghindari kekurangpahaman lagi di masa mendatang tentu diperlukan penyebaran atau dakwah yang lebih luas dan massif lagi terkait khilafah dan Islam sebagai ideologi. Namun jika pelarangan yang dimaksudkan sebenarnya adalah melarang penyebaran (dakwah) ideologi Islam, maka sungguh ini adalah suatu kesalahan besar yang akan mendapatkan azab Allah SWT. Allah SWT. berfirman: “Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan, mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka yang selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya.” (QS Huud [11]: 18–22).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.