Jaminan Kian Mencekik

42

Oleh: Susi, Bogor Barat

Hanya selang beberapa hari paska dilantik, rakyat kembali mendapatkan hadiah istimewa dari pemerintah. Apalagi kalau bukan kenaikan iuran BPJS yang mencapai angka 100%. Sebuah kenaikan fantastis di tengah kian sulitnya ekonomi dan rendahnya daya beli masyarakat. Namun disisi lain, para pejabat mendapatkan fasilitas fantastis berupa mobil baru yang tentu harganya selangit. Sebuah ironi yang hanya terjadi di sebuah negara kapitalisme sekuler, dimana pejabat tidaklah bertindak sebagai pelayan bagi rakyatnya.

Yang lebih menyakitkan adalah pernyataan beberapa pejabat yang menganggap enteng persoalan kenaikan iuran ini. Ada yang mengatakan, kenaikan hanya 5 rb rupiah perhari, ada pula yang menyatakan masih lebih murah dari beli pulsa. Sebuah pernyataan yang mencederai nurani dan membuktikan hilangnya empati pejabat terhadap rakyatnya sendiri. BPJS tak ubahnya seperti pemalakan dan pemaksaan terhadap rakyat dengan dalih jaminan kesehatan. Bahkan ancaman dengan disiapkan penagih bagi penunggak iuran sampai dihentikannya berbagai pelayanan publik seolah menjadikan rakyat sebagai sapi perah.

Sejatinya pejabat atau penguasa dipilih adalah dalam rangka mengurusi urusan rakyat dan memastikan rakyat terpenuhi kebutuhannya. Pendidikan dan kesehatan merupakan hak yang harus dipenuhi oleh negara. Sebab pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan vital disamping kebutuhan pangan dan tempat tinggal. Tapi yang kini terjadi justru negara mengancam rakyatnya jika tak membayar iuran BPJS dengan sulitnya akses pendidikan dan pelayanan publik yang lain. Sebuah tindakan sewenang-wenang penguasa yang notabene dipilih dengan biaya super fantastis oleh rakyat.

Islam sebagai agama yang sempurna dan satu-satunya ideologi yang berasal dari Sang Pemilik kehidupan, Allah SWT, telah menetapkan penguasa adalah pelayan bagi rakyatnya. Sabda Rasulullah, “Seorang pemimpin adalah penanggungjawab dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya”. Penguasa harus memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan, papan, sandang, pendidikan dan kesehatan bagi rakyatnya. Sebab inilah tugas penguasa yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT pada hari kiamat. Kisah Khilafah Umar bin Khathab yg rela memanggul sekarung gandum ketika rakyatnya kelaparan atau kisah Rasulullah SAW yang meminta para tawanan perang untuk mengajari para sahabat adalah sedikit contoh penguasa yang peduli dengan kebutuhan rakyatnya. Sungguh ini bertolak belakang dengan penguasa di negeri-negeri kapitalis. Saatnya kita kembali kepada syariat Allah SWT yang kaffah dan mulia dengan tegaknya Khilafah Islam. Wallahu’alam bishshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.