Jalan Tengah WPF7, Narasi Penyesatan Manusia

111

“Tunjukillah kami jalan yang lurus” begitulah bunyi terjemahan sebuah ayat al-Qur’an yang sering dibaca dan diulang-ulang oleh milyaran umat Islam di segenap penjuru dunia. “Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat.” Dua penggal terjemahan ayat al-Qur’an yang sudah sering umat Islam dengarkan bahkan anak kecil sekalipun hafal.

Sebetulnya seluruh manusia tidak ingin tersesat jalan. Namun, setan juga punya tugas yakni menyesatkan manusia supaya ikut bersamanya di neraka yang menyala-nyala. Dalam al-Qur’an dijalaskan bahwasanya setan tak hanya berwujud setan tetapi juga manusia yang menyesatkan. Pencanangan jalan tengah sebagai sebuah solusi atas semua masalah sebetulnya wujud dari narasi penyesatan manusia yang dibisikkan oleh manusia yang menyesatkan. Hingga umat Islam kebingungan dengan dua buah jalan, pertama jalan yang lurus dan kedua jalan yang tersesat.

World Peace Forum (WPF) ke-7 menghasilkan enam buah komitmen menyesatkan yang termaktub dalam draf Pesan Jakarta, salah satunya yakni mengarusutamakan Jalan Tengah sebagai kerangka penuntun bagi peradaban dunia yang lebih baik dalam angan-angan. Midle Path (jalan tengah) digadang-gadang mampu menciptakan peradaban dunia yang lebih baik setelah dilanda beragam krisis, seperti masalah kekurangan energi pangan, bencana lingkungan, degradasi moral, ketiadaan perdamaian, ketidakadilan meluas, kemiskinan ekstrim dan buta huruf yang belum terpecahkan. Padahal semua krisis yang melanda tersebut pun merupakan hasil dari jalan tengah antara kaum gerejawan dengan cendikiawan yang lahir atas asas sekulerisme alias pemisahan antara agama dengan kehidupan. Yang berujung pada tercetusnya ideologi kapitalisme dan disebarluaskan dengan penjajahan.

Enam komitmen menyesatkan yang termaktub dalam draf Pesan Jakarta antara lain; (1) Bekerja sama untuk mengarusutamakan Jalan Tengah sebagai prinsip utama bagi peradaban dunia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial budaya.
(2) Mendorong negara-bangsa untuk mengambil tanggung jawab guna meningkatkan kesadaran dan menyiapkan aturan dan mekanisme untuk pelaksanaan Jalan Tengah di negara masing-masing. (3)Mendorong para pemimpin agama untuk memberikan contoh, mempromosikan dan memimpin pelaksanaan Jalan Tengah di komunitas masing-masing. (4) Mendorong akademisi, cendekiawan, dan guru untuk melakukan penelitian menyeluruh dan ekstensif dan mendidik generasi muda di Jalan Tengah. (5) Mendorong orang untuk terus melaksanakan prinsip-prinsip Jalan Tengah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan (6) Mendorong para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sipil, dan media, untuk mengambil inisiatif untuk meluncurkan gerakan global pada pelaksanaan guna meimplementasikan Jalan Tengah di komunitas mereka masing-masing.

Krisis yang dilanda peradaban dunia adalah permasalahan sistemik sebab tidak hanya muncul di satu negara melainkan menimpa seluruh negara yang menganut ideologi kapitalisme. Dengan asas sekuler orang menjadi liberal sehingga muncul degradasi moral ditambah media menggaungkan narasi penyesatan dalam berbagai tontonan yang menghibur mata. Buktinya di Indonesia saja miras dilegalkan meskipun dibatasi peredarannya, zina dibiarkan merajalela, prostitusi dilegalkan dan lgbt dilindungi atas kata HAM. Sedangkan, Islam terus saja dikriminalkan bahkan ormas Islam pun dibubarkan.

Kemudian masalah krisis energi pangan dan bencana alam yang juga buah dari kapitalime dimana selalu memperhitungkan keuntungan sampai-sampai menambang hasil bumi gila-gilaan demi kekayaan perusahaan. Presiden AS Rutherford B. Hayes pada tahun 1876 mengatakan bahwa demokrasi adalah “from company, by company, and for company” jelas saja jikalau bencana alam terjadi, tetapi rakyat masih dalam kemiskinan ektrim dan buta huruf yang berkepanjangan. Ditambah lagi jalan tengah tidak akan menghasilkan sebuah keadilan. Sebab, dalam ideologi kapitalisme sistem pemerintahan diatur berdasarkan demokrasi yang kedaulatan pembuat hukumnya ada ditangan segelintir orang yang berkumpul dalam sebuah lembaga DPR dan MPR sehingga hukum yang muncul pasti memihak pada salah satu kelompok dan mendiskreditkan kelompok lainnya. Biasanya Islam sasaran utama pendiskreditan, terbukti dengan munculnya perpu ormas.

Adil dalam Islam adalah yang sesuai dengan tuntunan syariah, bukan atas pemikiran manusia. Sesuatu akan jelas halal dan haramnya dalam Islam, tidak dalam kapitalisme yang masih memperdebatkan halal dan haram. Membuat hukum yang semula sudah jelas menjadi ambiguitas. Dan syariat pastilah membawa maslahat sedangkan jalan tengah hanya membawa sesat. Alhasil dengan keberadaan jalan tengah umat menjadi semakin jauh dari syariat.

Mencontoh pada perjuangan dakwah Rasulullah saw. yang menolak segala bentuk kompromi dengan pernyataan tegas “Wallahi, Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.” Maknanya, meletakkan matahari di tangan kanan adalah mustahil, begitupun meletakkan bulan di tangan kiri juga mustahil. Apalagi meninggalkan dakwah itu jelas lebih mustahil lagi. Teladan kita Rasulullah saw. tidak mau berkompromi dengan kafir Quraisy yang mendatanginya dan lebih memilih melanjutkan dakwah hingga Islam tegak di bumiNya, maka sudah sepatutnya kita mencontoh beliau dengan membuang narasi jalan tengah yang menyesatkan, menggelandangkannya dan memusnahkannya dalam benak kita.

Jalan tengah juga bukan kunci perdamaian. Sebab, dari jalan tengah lahir kapitalisme yang disebarluasakan dengan penjajahan. Bila penyebarannya saja dilakukan dengan penindasan bagaimana bisa disebut dapat membawa perdamaian? Lebih tepat dikatakan kunci pembungkaman terhadap ajaran Islam. Tengoklah sejarah perdamaian hanya muncul dalam catatan Islam yang memimpin dunia. Khilafah yang bertahan berabad-abad lamanya tidak pernah secuilpun memberikan kesengsaraan kepada rakyatnya apalagi menindas masyarakat di negeri lainnya. Yang terjadi hanyalah pembebasan (futhuhat), yakni membebaskan negeri-negeri dari para pemimpin mereka yang dzolim untuk kemudian ikut bersama dalam naungan Khilafah yang menjadikan sejahtera sebagai realita.

Sebuah kisah menarik bak rembulan digelapnya Drogheda, cahaya indah di kegelapan malam. Bantuan yang diberikan kekhilafahan utsmani tak kan pernah terlupa oleh penduduk negeri yang ribuan mil jauhnya dari utsmani bahkan terkenang hingga hari ini. Ketika phytophthora infestans menjangkiti kentang-kentang yang menjadi makanan pokok penduduk Ireland sehingga bencana kelaparan melanda tak sedikit yang mati akibat rasa lapar yang kian hari kian bertambah parah disertai kurangnya energi untuk melakukan aktivitas. Khalifah Utsmani mengirimkan bantuan besar kepada seluruh penduduk Irlandia yang dibawa dalam kapal-kapal yang berlabuh di Drogheda. Itulah satu dari sekian banyak bukti kesejahteraan pada saat Islam diterapkan secara Kaffah dan berhasil mempimpin dunia. (Oleh: Anisa Fitri Mustika Bela, Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.