Islamophobia vs Islam

83

Oleh : Ahsani Ashri, S.Tr.Gz (Nutritionist, Pemerhati Sosial)

Hari ini kejadian memilukan menimpa saudara kita di NewZealand. Video viral memperlihatkan seorang pelaku penembakan di Masjid Al Noor menyiarkan langsung aksinya saat melepaskan tembakan membabi buta melalui Facebook Live. Video itu memperlihatkan pria itu masuk ke dalam masjid, kemudian melepaskan tembakan ke umat islam yang sedang beribadah. Terekam pula beberapa orang mengerang di lantai masjid. Sejumlah orang lainnya terlihat terkapar tak berdaya. (https://www.cnnindonesia.com)

Sedih, miris, kecewa, marah dan kesal campur aduk rasanya batin ini. Dilihat dari berbagai sudut pandang manapun, kejadian ini merupakan kejahatan biadab. Tidak ada bedanya rasanya manusia dengan hewan. Kebencian sudah memberangus akal pikiran manusia sehingga habis rasa cinta, kasih sayang dan kelembutan.

Konsisi Islamopbohia di negara barat sudah membabi buta. Phobia diartikan sebagai rasa ketakutan yang berlebihan kepada sesuatu, yang dapat menyebabkan reaksi emotional dan fisik. Islamophobia adalah ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan kepada umat islam dan semua ajaran islam. Islamophobia biasa terjadi di negara minoritas umat islam seperti Australia, Inggris, dan Amerika. Propaganda dan image buruk terhadap Islam sudah mendarah daging di mata orang kafir saat ini. Penelitian di Australia (July, 2017) menyatakan bahwa sudah terjadi 247 aksi bullying pada umat muslim melalui verbal abuse, maupun physical abuse. Hal ini menunjukan bahwa islamophobia bukan hanya berlaku pada ketakutan yang berlebihan kepada syariat islam tapi juga kepada umat muslim.

Terlebih fakta yang ditampilkan oleh media saat ini memuat headline yang bernafaskan  anti-islam dan sering menyudutkan umat muslim. Di negara mayoritas muslim, kondisi Umat Islampun seakan terpojok, parahnya Islamophobia terjadi di dalam tubuh umat islam sendiri, hal ini didasari oleh pengaruh pemikiran sekuler yang hadir ditengah tengah umat saat ini. Bisa dilihat dari beberapa kasus terrorisme di Indonesia, barang bukti yang ditunjukkan media diantaranya adalah kepemilikan Al-Quran, jenggot panjang, lulusan pondok pesantren, dan lain lain. Dengan hal ini masyarakat akan mudah di buat opini bahwa syariat islam adalah hal yang sangat menakutkan. Jangankan di kerjakan, lebih baik jaga jarak dengan syariat islam supaya tidak di cap radikal dan terroris.

Belum lama ini netijen dikejutkan dengan keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Moqsith Ghazali bahwa tidak menggunakan istilah kafir bagi nonmuslim di Indonesia, karena istilah kafir menyakiti sebagian kelompok nonmuslim yang dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Pasalnya, terdapat sebuah asumsi sebagian orang bahwa kata kafir itu menakutkan dan menjadi teror, sehingga dianggap menyalahi aturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam benak sebagian orang, kafir itu halal darahnya dan boleh dibunuh. Dari dasar berfikir seperti ini, lalu ada pihak-pihak yang mengusulkan agar non-Muslim itu tidak dianggap semuanya kafir? kan lucu.

Adanya keputusan tersebut menandakan Islamophobia  akut yang menjangkiti pemikiran dan pemahaman  di tubuh umat islam itu sendiri. Mengapa? Mereka memandang islam tidak toleran jika diamalkan dengan serius, ini pemahaman yang salah kaprah dan berbahaya. Sebab dalam islam tidak apa paksaan dalam beragama yang membuat agama lain harus dipaksa-paksa.

Islam sebagai  ideologi atau sebuah mabda, sebenarnya memiliki thoriqah atau metode dalam menyebarluasan ideologi, seperti yang di contohkan oleh Rasulullah SAW, dakwah adalah metode yang digunakan untuk menyebarkan ajaran islam, mengingatkan umat islam kembali kepada syariat, serta menunjukkan bahwa islam adalah Rahmatan lil ‘alamin. Sehingga tidak ada lagi istilah phobia dengan umat muslim apalagi dengan syariat islam, karena syariat islam lah yang akan memberikan kita rambu rambu untuk menjalani kehidupan ini. Syariat islam pula yang akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Sesuai dengan Firman Allah yang berbunyi

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124)

Maka saat ini kita umat Islam dituntut berusaha untuk dakwah lebih kuat dan lebih giat lagi  agar umat tercerahkan serta melihat islam bukan hanya ajaran sepiritual semata melainkan memahamkan bahwa islam adalah sebuah Ideologi yang terpancar darinya berbagai peraturan yang dapat dijadikan sebagai problem solving yakni untuk menyelesaikan berbagai masalah

Media yang sering menstigmatisasikan Islam itu radikal, Islam itu garis keras, dan ajaran ajarannya pun dibawa bawa seperti layaknya monster yang menakutkan. Hari ini, Allah barangkali membuka makar itu semua, lihatah bahwa terorisme itu tak mengenal agama. Tapi kebaikan itu adalah Islam, yang membuka ruang maaf untuk siapapun yang bersalah, sebagaimana Allah membuka ruang taubat untuk yang berdosa. Wallahu’alam bisshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.