Islamophobia dan Radikalisme

130

Berita dan Inspirasi terkini_Islamophobia  Oleh : Susi Susanti (Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak didunia. Sebagian minoritas memeluk agama kepercayaannya masing-masing seperti Kristen, Budha, Hindu dll. Dengan jumlah penduduk 200 juta an yang muslim sekitar 87,18 persen, Protestan  6,96 persen, Katolik 2,91 persen, Hindu 1,69 persen, Budha 0,72 persen, dan agama yang baru diakui pemerintah , Khong HU Cu sekitar 0,05 persen. Sisanya 0,13 persen agama lainnya (wikipedia.org). Walaupun memiliki keyakinan berbeda namun rasa toleransi antara umat beragama tetap terjaga sejak dulu.  Mereka bisa hidup bertetangga di dalam masyarakat.

Namun mengapa akhir-akhir ini, ada oknum yang berusaha mengadu domba dan merusak  kerukunan ini. Tujuan tidak lain adalah  agar antar umat terpecah belah. Bisa dicermati, setelah bom bunuh diri di Surabaya yang merusak tempat ibadah umat Kristen, dan menewaskan  puluhan korban.  Tudingan langsung tertuju pada jamaah Islam.  Hal ini diduga  merupakan strategi dengan tujuan mengadu domba antar umat.  Menyebabkan masyarakat berasumsi bahwa yang melakukan tindakan keji tersebut adalah orang  Islam, bahkan menggeneralisasi ajaran dan simbol Islam tertentu sebagai  radikal.  Wajar masyarakat memandang seperti itu karena pada faktanya pada saat melakukan aksi kejam tersebut para bomber menggunakan indentitas Islam.

Namun Islam tak seperti tuduhan tersebut,  karena  membunuh merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT sebagaiman  firman-Nya dalam TQS. Al-Isro’ ayat 33 : “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yg diharamkan  Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar”.  Aksi teror ini merupakan kesalahan yang dilakukan oknum dari umat Islam. Tak seharusnya tindak kriminal ini dituduhkan untuk semua yang beridentitas Islam.

Dalam Islam telah jelas keharaman aksi teror baik yang dilakukan individu, kelompok, maupun negara.  Di dalam negara Islam (Khilafah) jelas tidak men-tolerir   pihak mana pun yang melakukan tidakan dzolim tersebut.  Karna hal itu merupakan aksi yang menyimpang dari syariah Islam dan tindakan menyimpang harus dihentikan. Fungsi Negara ialah menjadi raa’in dan junnah , dan ketika fungsi itu diimplementasikan maka akan menciptakan kemaslahatan bagi umat terutama dalam hal keamanan . Semua akan merasakan, muslim maupun non muslim.

Terorisme adalah ‘ciptaan’ Barat agar umat takut kepada simbol dan ajaran Islam. Islamophobia membuat segelintir umat tidak sudi Islam mengatur kehidupan masyarakat secara formal. Bayang-bayang kengerian dan teror selalu digaungkan dengan narasi radikalisme ke tengah umat. Padahal dulu, selama 13 abad Islam pernah diterapkan dan memerintah masyarakat yang non homogen. Bagaimana fakta nya bahwa gereja di masa Islam berkuasa dibiarkan masih ada hingga sekarang. Juga,  kalau bukan karena toleransi yang tinggi dari umat Islam, terus apa yang membuat masih ada generasi mereka (yang menganut agama selain Islam) hingga saat ini.

Hari ini , ketika sistem dari Barat (Sekuler Kapitalis) menggantikan sistem Islam, belum satu abad sudah banyak aksi teror dan kebobrokan yang terjadi.  Mesjid banyak dibakar dan dirobohkan. Penduduk sipil terbunuh, baik perempuan dan anak-anak di berbagai wilayah konflik. Tak bisa diingkari, semua itu karena agama mereka Islam! Bahkan di negara damai, seperti Indonesia tidakan teror marak. Jadi siapa ‘aktor’ di balik aksi teror dan radikal?!  Kalau memang karena itu ajaran Islam, harusnya 13 abad itu penuh teror dan pembunuhan ?!

Tapi itulah kenyataan dan fitnah  yang sekarang harus ditelan umat Islam. Sebagai pihak yang tertuduh!  Sudah waktunya , umat Islam bangkit.  Jangan mudah  terpengaruh isu radikalisme. Apalagi sampai jadi islamophobia akut. Karena hakikatnya Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Wallahu’alam bishowab ().

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.