Islam Radikal Dan Islam Moderat: Narasi Memecah Belah Umat    

150

Sempat menjadi trending topik di sejumlah media, adanya rentetan kejadian peledakan bom beberapa waktu lalu.  Langsung diikuti stigmatisasi sesuai dengan karakteristik bomber seperti memakai cadar, berjenggot, ditemukan Al Qur’an di rumahnya, bendera tauhid , dst.  Temasuk juga, mulusnya upaya menggolkan  UU Terorisme yang semula tersendat di parlemen. Gelontoran dana untuk  penanganan terorisme pun melonjak, seiring narasi teror bahwa kondisi Indonesia tidak aman dan ketuk palu parlemen terkait tambahan Rp. 44,4 triliun dari anggaran sebelumnya. (detik.com , 6/6/2018).

Narasi pihak penguasa atas berbagai kejadian teror terlihat jelas mencoba mendiskreditkan Islam dan kaum muslimin.   Seolah menggambarkan bahwa ajaran Islam keras (kata mereka : radikal) dan mampu merubah seorang muslim menjadi ‘monster’.  Betul-betul sebuah  fitnah yang keji, sangat tidak sesuai dengan realita ajaran Islam.  Sangat dipaksakan.

Padahal yang muslim pun merasa benci dan mengutuk siapa saja pelaku pengeboman. Karena Islam mengharamkan seorang muslim melakukan teror, apalagi sampai menumpahkan darah dan menghilangkan nyawa manusia tanpa hak .  Firman Allah Swt :

“ Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena membunuh orang lain atau  karena berbuat kerusakan di bumi , maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia… “ (TQS. Al Maidah : 32).

Lantas mengapa ‘batu’ fitnah ini dilontarkan?  Untuk menjawabnya, tentu  tidak mungkin tanpa melihat dan mencermati konstelasi politik international.  Sangat jelas, saat ini negara-negara Kapitalis Imprealis sangat berkepentingan  untuk melanggengkan hegemoninya atas dunia Islam. Melalui isu globalisasi, demokratisasi,  kebebasan ,  HAM ,  dll  yang sebenarnya  adalah pemasaran  nilai-nilai  Barat,  semua  produk  hukum  atau  sistem  hidup  mereka di negri-negri Islam.  Untuk kesuksesan hegemoni Barat,  mereka pun mengembangkan narasi  “perang melawan radikalisme dan terorisme”.

Radikalisme,  sebenarnya  sebuah istilah multi tafsir  yang  digambarkan oleh rezim ini sebagai ‘sesuatu’  yang negatif.   Jadi ketika ada kelompok yang ogah berkompromi dengan pandangan Barat, menolak pemimpin kafir, ingin menegakkan  syariat dan  khilafah,  maka  terkatagori  kelompok radikal dan harus dimusuhi, bahkan kalau perlu dimusnahkan.  Sebaliknya, kelompok  yang toleran dan mau bekerjasama   disebut sebagai kelompok moderat.

Barat dan rezim antek  kini meluncurkan proyek baru , dengan nama deradikalisasi.  Faktanya, proyek baru ini mendapat dukungan (program dan dana)  internasional .  Dukungan  dan pujian diarahkan pada mereka yang dianggap moderat.  Di sinilah Barat memainkan isu dan strategi untuk memecahbelah kaum muslim sekaligus menghancurkan Islam dari dalam.  Tak tanggung-tanggung proyek deradikalisasi didukung pula oleh para ulama suu’ yang rela menjual ayat-ayat Allah untuk menyerang ajaran Islam kaffah.

Proyek  yang disosialisasikan sebagai upaya “mengurangi atau mengikis radikalisme”  ini -tidak jauh beda dari sebelumnya-  memang  juga ditujukan untuk mencegah bangkitnya Islam dan kaum musimin, dan berupaya memalingkannya ke arah yang salah.   Barat,  memang sejak lama sudah khawatir  terhadap Indonesia sebagai  negara muslim terbesar.  Akan sangat berbahaya  jika sampai melepaskan diri dari genggaman para imprealis . Apalagi jika dia tampil sebagai negara yang mengemban Islam sebagai ideologi.  Benar-benar sebuah malapetaka.  Barat sebagai penjajah,  akan terdepak dari negri muslim yang kaya akan sumber daya alam ini. Bisa jadi, posisi negara imprealis sebagai negara terdepan pun akan tergantikan.

Berbagai cara dilakukan agar umat Islam tak kembali pada ajaran Islam kaffah. Apalagi sampai berujung pada  formalisasi syariah kaffah dengan khilafah.  Dalam konteks ini, proyek deradikalisasi  menjadi penting.  Barat melakukan monsterisasi bahwa Islam adalah paham radikal yang membahayakan, dan ini  berefek munculnya Islamopobia.  Kaum muslimin sendiri, takut untuk menyerukan dan memperjuangkan tegaknya sistem politik Islam.  Umat dibelokkan pada perjuangan parsial, yang hakikatnya menjauhkannya dari Islam kaffah.  Padahal hanya dengan sistem  Islam lah umat ini bisa bangkit kembali dan mengalahkan hegemoni kaum imprealis atas mereka yang selama ini .

Pada saat yang sama, Barat mendukung mereka yang terkatagori  moderat.   Jika saat ini muncul istilah Islam nusantara, dari kalangan yang ‘toleran’ terhadap Barat, tentu bisa terlihat benang merahnya.  Karena  Islam radikal, perlu ada ide tandingan.   Maka jangan heran , deradikalisasi plus ide Islam Nusantara yang  sangat moderat  semakin getol  dipropagandakan saat ini.  Terutama di kalangan intelektual.

Sebagai bagian dari desain deradikalisasi , ide ini digerakkan dengan menggunakan orang Islam sendiri sebagai garda terdepan. Mereka yang tidak sepakat  dianggap radikalis, fundamentalis , bahkan teroris.  Narasi senada dan sama busuknya  bagi  mereka yang menginginkan syariah dan khilafah adalah anti Pancasila dan anti NKRI.

Jangan Surut dari Perjuangan

Menyimak firman Allah Swt dalam surah Ash Shaff  ayat 8  :

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka tapi Allah   (justru)  mnyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya .“

Maka langkah yang harus ditempuh kaum muslimin dalam menghadapi ‘perang’ melawan terorisme adalah tetap berjuang dan berdakwah.  Agar :

  1. Umat paham pentingnya memiliki kesadaran politik (wa’yu siyasi) yang benar sesuai dengan tuntunan syariat . Karena politik sejatinya adalah pengaturan urusan umat/masyarakat.  Termasuk  dari kesadaran politik adalah tidak mudah terpancing bertindak ‘anarkis’ sebelum jelas bagaimana sebenarnya Islam memandang sesuatu. Hanya Islam sebagai patokan, bukan cara pandang Imprealis.
  2. Umat harus waspada paham-paham yang dipasarkan musuh. Seperti paham demokrasi, nasionalisme, liberalisme, radikalisme dan terorisme, dsb. Karena sejatinya semua adalah racun yang berbalut madu, yang menipu umat agar tidak menjalankan Islam secara menyeluruh.

Ketika umat Islam paham tentang makna politik dalam Islam , sehingga tidak terjebak melakukan aktifitas perjuangan yang parsial.  Akhirnya ketika penyadaran terus-menerus dilakukan, umat akan memiliki pemikiran dan perasaan yang sama , yaitu selalu distandarisasi dengan iman  atau aqidah Islam. Kesatuan dan kesamaan  ini akan berbuah persatuan  umat Islam, lebih jauh lagi bahkan menjadi kesatuan di bawah naungan Khilafah ala minhaj nubuwwah.   Makar apapun yang dilakukan kaum kafir dan anteknya, akan gagal total karenanya.  In shaa Allah[] (Fera Ummu Fersa, penulis tinggal di Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.