Ada Apa Dengan “Islam Nusantara”? (Tanggapan Atas Polemik Yang Menghangat Tentang Islam Nusantara)

299

Oleh : Achmad Fathoni (Direktur el-Harokah Research Center)

Belakangan ini, istilah Islam Nusantara sering didengungkan. Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Sumatera Barat menolak konsep Islam Nusantara. “Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa ‘Islam Nusantara’ dalam konsep/pengertian definisi apapun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatera Barat). Bagi kami, nama ‘Islam’ telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apa pun,” demikian kesimpulan MUI Sumbar sebagaimana dokumen unggahan akun Facebook Ketua Umum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018, seperti dikutip detik.com, Rabu (25/7/2018). (https://news.detik.com/berita/d-4133086/mui-sumatera-barat-tolak-islam-nusantara)

Tentu saja sikap MUI Sumatera Barat tersebut patut mendapat apresiasi positif dari publik, khususnya umat Islam di negeri ini. Pasalnya polemik ‘Islam Nusantara’ tersebut secara faktual telah membuat umat Islam “bersitegang”. Bahkan meruncing hingga membuat retak hubungan di antara umat Islam yang pro dan yang kontra. Tentu situasi dan kondisi tersebut bisa mengarah perpecahan di tubuh umat Islam. Dan pastinya hal itu justru akan merugikan kepentingan Islam dan kum Muslimin, serta menguntungkan pihak pendengki Islam. Oleh karena itu, maka ada beberapa hal yang patut untuk dipahami dan dicermati oleh pihak yang pro maupun yang kontra khususnya, dan umat Islam pada umumnya.

Pertama, hendaknya semua komponen umat Islam, para ulama, dan umara’ seharusnya meneladani sikap ulama’ terkemuka kita, Hadharutusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Sang ulama pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (NU), saat merespon adanya benih-benih “ketegangan” di tengah-tengah elemen umat Islam di masa itu. Ketika muncul pertentangan sesama tokoh Islam akibat perbedaan pendapat tentang madzhab, beliau menulis surat terbuka bertajuk Al-Mawaizh yang dibacakan pada Muktamar NU ke XI di Banjarmasin tahun 1935, lalu disebarluaskan kepada seluruh ulama’ di Indonesia. Isinya adalah anjuran untuk ishlah, meninggalkan fanatisme buta dan mengesampingkan perbedaan pendapat dalam hal-hal  yang tidak prinsip guna menghindari perpecahan yang merugikan umat Islam sendiri. Menurut beliau, bila umat Islam pecah, maka yang diuntungkan adalah orang lain, terutama kaum penjajah, yang ingin menancapkan kukunya di bumi pertiwi. Terkesan oleh isi surat tersebut, maka pada tahun 1959, Haji abdul Malik Karim Amrullah yang akrab disapa Buya Hamka, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk disebarluaskan melalui majalah Panji Masyarakat. Begitulah teladan dari para Ulama’ pendahu kita yang sangat arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan di tengah-tengah kaum muslimin.

Kedua, bahwa para pendengki Islam memang tidak pernah berhenti siang dan malam berusaha dengan sekuat tenaga agar umat Islam tetap terpecah belah dalam rangka mereka tetap bisa “menguasai” dan “menguras habis” sumber daya alam yang ada pada negeri-negeri kaum muslimin. Mereka senantiasa mencegah agar umat Islam tidak bersatu lagi sebagaimana saat disatukan dalam satu kekuasaan dan pemerintahan dalam naungan Khilafah Islamiyah. Sebagaimana yang disampaikan Ustadz Bahtiar Nashir, yang mengutip pernyataan Muhammad Shafat al-Zayaat, seorang mantan perwira tentara Mesir, bahwa umat Islam tidak bersatu karena negara yang menyatukan mereka yakni Khilafah Islamiyah telah dihancurkan. Ikatan akidah mereka dipecah-belah menggunakan nasionalisme Syces-Picot yang kemudian melahirkan nation state (sumber: https://www.youtube.com/watch?time_continue=358&v=6c9Muqtq9RU). Sehingga umat Islam saat ini terpecah menjadi lebih dari lima puluh negara bangsa yang sangat lemah, terjajah, dan mengalami  keterbelakangan dalam segala bidang dalam hegemoni negara-negara Imperealis Barat.

Ketiga, perlu dipahami oleh umat Islam bahwa pada tahun 2003, lembaga think-tank (gudang pemikir) Amerika Serikat yakni Rand Corporation, mengeluarkan sebuah kajian teknis yang berjudul “Civil Democratic Islam”. Secara terbuka mereka membagi umat Islam menjadi empat kelompok yaitu Fundamentalis, Tradisionalis, Modernis, dan Sekularis. Setelah dilakukan pengelompokan atas umat Islam, langkah berikutnya yang mereka lakukan adalah melakukan politik “belah bambu”, dengan mendukung satu pihak dan menjatuhkan serta membenturkan antar kelompok Islam. Begitulah upaya para pendengki Islam yang dengan sungguh-sungguh siang dan malam tanpa henti senantiasa melakukan strategi politik “devide et impera” terhadap umat Islam, tujuannya jelas yaitu agar umat Islam lemah, seperti buih di lautan meski jumlahnya banyak, namun hanya sebagai objek kerakusan mereka, tanpa mempunyai kekuatan yang berarti di hadapan para pendengki Islam.

Keempat, solusi tuntas agar umat Islam terhindar dari perpecahan dan permusuhan internal umat Islam, serta bisa membangkitkan umat Islam dengan kebangkitan Islam yang benar, antara lain: (1) dimulai dari meluruskan keyakinan dan memurnikan pemikiran dari berbagai unsur perusak, semisal pemikiran liberalisme, kapitalisme, sosialisme, dan pemikiran lain yang berseberangan dengan akidah dan syariat Islam. (2) berpijak pada konsep asas keimanan. Dari asas yang jernih mengakar kokoh dalam jiwa seorang mukmin, akan tumbuh buah manis ukhuwah Islamiyah yang mendorong kepeduliannya terhadap mukmin dan muslim lainnya, jauh melampaui sekat-sekat ‘ashabiyah. Ukhuwah ini harus dipupuk dengan ilmu dan amal, mengikuti pembinaan Islam, dan riyadhah berdakwah untuk menumbuhkan kepedulian. (3) mewujudkan kaum muslim di bawah satu panji kepemimpinan Islam, berpegang teguh di atas tali DinuLlah yang kokoh dengan menerapankan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, membentuk masyarakat Islam yang satu pemikiran satu perasaan, satu sistem hukum yakni Islam. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.