Islam  Membawa Maslahat, Bukan Mafsadat

Oleh: Sartinah (Pemerhati Muslimah Moramo)

“Al-Nás a’dá’ má jahilú “(manusia cenderung memusuhi dan membenci apa-apa yang tidak diketahuinya dengan baik). Pepatah ini kiranya layak ditujukan pada orang-orang yang masih menganggap bahwa penerapan Islam kaffah dalam kehidupan sebagai ancaman. Karena tak cukup baik mengenal Islam, akhirnya ketidakpercayaan akan kebaikan Islam menjangkiti sebagian masyarakat tak terkecuali punggawa negeri ini.

Sungguh ironis, jika syariat Islam yang mulia dianggap sebagai momok menakutkan dan tak layak diterapkan. Global opinion pun terus disebarkan bahwa penerapan Islam tak sesuai dengan pluralitas di negeri ini juga tak cocok dengan dunia kekinian. Tak ayal lagi, phobia terhadap Islam dan syariatnya  merayap masuk ke dalam benak sebagian masyarakat. Sebagai contoh, kasus pembakaran bendera tauhid oleh oknum banser adalah bentuk pelecehan terhadap simbol Islam karena kejahilan dalam memahami ajaran Islam.

Setali tiga uang, seperti pernyataan  Menko Polhukam RI Wiranto, saat berkunjung ke Jawa Timur usai mensosialisasikan Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara di Hotel Utami pada senin (29/10/2018). Beliau menyatakan bahwa orang yang tidak setuju dengan Ideologi Pancasila, agar mencari tempat lain yang sesuai dengan ideologinya dan jangan lagi tinggal di Indonesia, tribunJatim.com

Slogan nasionalisme seolah menjadi benteng kokoh ditiap negara termasuk Indonesia yang dijadikan alasan untuk membendung setiap gerakan dakwah Islam yang dianggap bertentangan dengan pancasila. Hingga beragam cara pun dilakukan, salah satunya pembentukan perpu ormas yang akhirnya menghasilkan pembubaran salah satu ormas Islam yang dituduh berniat mengganti ideologi pancasila.

Terpaan angin sekularisme pun semakin kuat merasuk ke dalam pikiran, hingga slogan  “pancasila sudah final” seolah tak bisa di ganggu gugat. Islam bahkan tak masuk sebagai solusi alternatif untuk menyelesaikan segala permasalahan yang melanda negeri ini. Terlebih opini menyesatkan bahwa hukum Islam kejam, tak sesuai HAM, terus di propagandakan.

Menganggap penerapan Islam kaffah sebagai ancaman adalah alasan absurd, karena tak sesuai dengan fakta yang terjadi. Pasalnya, carut-marut yang telah lama melanda negeri ini tak satupun disebabkan oleh penerapan syariat Islam. Justru diterapkannya sistem kapitalis sekuler menjadi ancaman nyata bagi negeri ini, termasuk para pengusung ideologi ini yang tetap ingin mempertahankan eksistensinya dengan berbagai cara.

Akibatnya, penjajahan gaya baru terus melanda di semua aspek kehidupan, baik dibidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun sosial budaya. Kemerdekaan yang telah diraih puluhan tahun, tampaknya tak mampu menjadikan negeri ini terlepas dari penjajahan non fisik. Sumber daya alam yang dikuasai Asing, korupsi yang kian menggurita, hutang yang semakin menumpuk, sistem perbankan berbasis ribawi, serta kesenjangan yang kian terasa, adalah beberapa bukti nyata diterapkannya sistem kapitalis sekuler, yang semakin kuat mencengkeram hingga saat ini.

Islam adalah agama rahmatan Lil’alamin. Diturunkan oleh Allah SWT sebagai pengatur segala urusan manusia. Pemikiran-pemikirannya pun sangat bisa dikomparasikan dengan sistem yang ada. Alangkah tak elok bila menilai syariat Islam hanya dari sisi hukumnya saja. Misalnya terkait hukum potong tangan, rajam, qishas dan sebagainya. Padahal segi hukumnya hanya sebagian kecil dari penerapan syariat Islam. Allah SWT yang mewajibkan Islam sebagai landasan hidup, maka menjadi sebuah keniscayaann bahwa syariatnya pun akan membawa kebaikan bagi seluruh alam.

Sebagai sebuah Dinnul haq, syariat Islam memiliki beberapa keistimewaan, diantaranya : Pertama, kedaulatan “mutlak” itu hanya di tangan Allah SWT. Artinya hanya Allah saja yang berhak untuk membuat hukum, bukan pada individu, golongan, atau partai, maupun kesepakatan seperti yang terjadi pada sistem demokrasi kapitalis. Hukum buatan Allah sudah pasti adil, sedangkan hukum buatan manusia pasti zalim, sebab tatkala manusia diberikan hak membuat hukum, maka subjektifitas manusianya akan ikut mempengaruhi aturan yang dibuatnya.

Kedua, syariat Islam bersifat komprehensip. Artinya Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia, baik aqidah, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, politik luar negeri, peradilan dan lain-lain, dan tidak ada satu hal pun yang tidak diatur oleh Islam.

Ketiga, syariat Islam sangat sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Kesesuaiannya dengan fitrah manusia, maksudnya bahwa Islam hanya memandang manusia saja bukan sebagai hewan, yang hanya memenuhi kebutuhan biologisnya. Bukan juga malaikat, yang tidak memiliki hawa nafsu. Tapi seimbang antara kebutuhan jasmani dan naluri.

Keempat, Syariat Islam luwes (fleksibel). Artinya kelenturan hukum Islam dalam menghadapi permasalahan yang ada di masyarakat. Perubahan kondisi masyarakat dari masa ke masa dengan segala persoalannya tetap mampu diselesaikan oleh Islam.

Aktualisasi keimanan pada Allah adalah dengan menerapkan seluruh aturan Islam secara kaffah di bumi ini. Sudah seharusnya setiap muslim kembali pada sifat penciptaannya, yaitu untuk beribadah, serta tunduk dan taat pada sang pencipta. Dan tetap menjadikan setiap perubahan zaman agar sesuai dengan Islam, bukan justru sebaliknya menjadikan Islam agar mengikuti perubahan zaman. Wallahu a’lam bish shawwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.