Indonesia dirundung Duka, Saatnya Kembali Kepada Hukum Allah.

54

By: Nurul Uyun

Beberapa tahun terakhir Indonesia terus dirundung masalah, berbagai ujian dan cobaan seolah tak ada hentinya menimpa negeri ini,  mulai dari musibah yang datang bertubi-tubi seperti gempa dan tsunami yang terjadi diberbagai daerah dari barat hingga timur Indonesia.

Belum lama ini pun asap tebal dari karhutla menyelimuti beberapa daerah disebagian pulau Sumatera dan Kalimantan akibat kerakusan para koorporasi.

Tak berhenti sampai disitu,  diujung timur Indonesia, tanah Papua kini membara,  tanah yang disebut “surga dunia” dengan kekayaan SDA yang luar biasa itu kini terluka oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menginginkan adanya perpecahan.

Di tengah duka pemerintah justru berencana merevisi dan menetapkan beberapa RUU menjadi UU seperti RUU KPK,  Yang sekarang sudah menjadi UU KPK,  RUU KUHP,  RUU P-KS, pertanahan dan banyak lagi RUU lainnya. UU dan RUU ini dinilai berisi pasal-pasal ngawur yang semakin memperdalam luka rakyat Indonesia sehingga memancing gelombang unjuk rasa dari berbagai kalangan masyarakat,  mulai mahasiswa,  hingga siswa STM.

Tak tanggung-tanggung begitu banyak korban yang diakibatkan dari peristiwa-peristiwa tersebut,  korban jiwa dari bencana alam,  asap karhutla, kerusuhan wamena,  hingga demo mahasiswa pun menelan korban jiwa akibat tindakan represif aparat. Seolah nyawa begitu murahnya dinegeri ini. 

Dalam situasi “carut-marut” seperti ini negara serta penguasa seharusnya hadir,  memberikan solusi, perlindungan,  serta rasa aman bagi rakyat.  Karena,  pemimpin adalah “junnah” atau perisai yang rakyat berlindung dibelakangnya.

Nabi Muhammad Saw bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Tapi semua itu seolah jauh panggang dari api,  pemerintah serta penguasa justru saling lempar tanggung jawab, serta mengeluarkan statement-statemen yang justru membuat luka semakin menganga. Padahal merekalah nanti yang akan bertanggung jawab dihadapan Allah atas apa-apa yang dipimpinnya. 

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari). 

Tak banyak yang bisa diharapkan dari penguasa negeri saat ini,  tak banyak pula yang bisa kita harapkan dari produk peraturan perundang-undangan yang dilahirkan dari sistem ini, karena semua produk perundang-undangan serta turunannya adalah hasil pemikiran manusia yang cenderung lemah  dan terbatas,  serta penuh hawa nafsu dan kepentingan semata.

Baik hukum buatan Belanda ataupun hukum produk reformasi demokrasi saat ini tak layak dijadikan referensi. Saatnya kita mengharap ridho illahi dengan mengembalikan semua kepada hukum Allah, agar negeri ini diberkahi dan tak kembali diuji dengan bencana alam maupun perpecahan yang terjadi diantara anak bangsa, akibat penguasa yang abai serta menerapkan hukum-hukum yang melanggar Syariat-Nya.

Sebagaimana firman Allah:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50).

AllahuA’lam Bisshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.