Impor Guru, Benarkah Penguasa Pro Asing?

Oleh : Mega (Mahasiswi FEB UHO)

Permasalahan pendidikan di negeri saat ini mendapatkan perhatian besar utamanya pada pengajarnya, pasalnya setelah dihebohkan dengan mendatangkan guru impor dari luar kini pemerintah merujuk pada tenaga pendidik perguruan tinggi yang akan direvisi aturan terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) aturan ini akan dibuat beberapa insentif untuk menarik tenaga pendidik asing mengajar di Indonesia.

Hal ini dikatakan oleh Sekretaris Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono revisi aturan tersebut akan memberikan insentif di bidang jasa, seperti pendidikan, ekonomi kreatif, dan kesehatan. “KEK, ada dua revisi PP, finalisasi PP kek, fasilitas fiskal di KEK. Ada beberapa pending, karena KEK ditambahi tax holiday allowace. Kek nanti ada jasa, kesehatan, pendidikan, ekonomi kreatif,” jelas dia dalam halalbihalal di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (detikfinance.com 10/6/2019).

Begitupun utusan mahasiswa ke luar negeri seperti yang dikatakan oleh Menristekdikti, Mohamad Nasir (Tribunnews.com 26/6/2019 dalam acara pelepasan 45 orang delegasi mahasiswa Indonesia yang akan melaksanakan kunjungan ke China mulai 15 hingga 21 Juni lalu. Program kunjungan itu bertujuan untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan teknologi China kepada mahasiswa dan mahasiswi Indonesia. Peserta diharapkan mendapatkan pengalaman dan wawasan internasional agar mampu bersanding dan bersaing dengan negara lain, dan membagikan pengalaman positifnya di lingkungan kampus.

Perkembangan arus informasi dan teknologi semakin cepat dan dunia semakin tidak bersekat karena setiap masyarakat sudah saling berinteraksi baik dalam negeri dan luar negeri dalam berbagai kepentingan seperti pendidikan, ekonomi, bisnis, politik,  dan lain-lain.  Belakangan ini negara-negara yang memainkan peran penting dalam percaturan politik, ekonomi dan segala sektor dalam hubungan internasional.

Begitu pula halnya dengan rana pendidikan yang menjadi perbedaan pandangan oleh beberapa pihak, kondisi pendidikan dalam negeri utamanya tenaga pengajar begitu banyak dan bahkan sebagian mereka belum mendapat kesetaraan kesejahteraan yang maksimal bahkan dari para guru saja masih banyak honorer belum ada pengangkatan yang telah mengabdi bertahun tahun.

Impor Guru Mematahkan Potensi Guru Dalam Negeri

Asumsi pemerintah terhadap tenaga pengajar utamanya dalam perguruan tinggi yakni dosen  luar negeri yang lebih berkualitas tentu melukai hati para dosen kita. Pemerintah sepertinya terkena virus yang tertuang dalam pepatah “rumput terlihat lebih hijau”.

Pandangan seperti itulah yang sepertinya tertanam dalam benak mereka. Begitupula halnya mengutus mahasiswa keluar negeri yang tidak hanya bertujuan untuk sekedar akan membagikan pengalaman dan pengetahuan yang didapat dari luar negeri namun pada upaya perbaikan dan dorongan pendidikan yang berkualitas yang mampu bersaing dengan lainnya serta visi dan misi pendidikan yang tidak di peruntukkan pada hegemoni belaka.

Rusaknya arah pendidikan sekuleristik yang hanya mengabdi kepada kepentingan hegemoni kapitalisme global yang selalu mengarah pada siapa yang memperoleh keuntungan atas langkah yang di ambil, yang hanya memikirkan keuntungan hegemoni tertentu  bukan pada kesejahteraan ummat tidak akan memberikan ketuntasan dari problem yang dihadapi jika langkah diambil secara parsial saja.

Jika pada hakikatnya kualitas guru atau dosen dari luar negeri lebih unggul dibanding kualitas lokal mestinya pemerintah belajar dari mereka caranya mencetak pendidik yang bermutu dan berkualitas bukan pada jalan yang mereka inginkan yang mengesampingkan nasib pendidik dalam negeri. Visi dan misi dalam pembentukan karakter generasi bangsa ini harusnya terarah dengan baik yang tidak hanya mengambil kurikulum dari luar dan tenaga pengajar  tetapi harus mencetak karakter pribadi bangsa yang mandiri dan berkualitas.

Pendidik Generasi Menurut Islam

            Dalam islam terkait rana pendidikan telah menjadi perubahan fundamental yang mampu membawa pada kemajuan peradaban ilmu pengetahuan hingga ummat ini menjadi ummat yang mulia dari semua aspek, sebab islam mampu memecahkan seluruh problem kehidupan. Tujuan pendidikan bukan pada hegemoni belaka yang dilancarkan neoliberalisme untuk melakukan kapitalisasi pendidikan yang dijadikan barang dagangan, tanpa melihat lagi misi pendidikan yang manusiawi.

                Urgensi sektor pendidikan sebagai pilar tegaknya peradaban cemerlang yang tergambar dalam arah dan tujuan pendidikan islam bertujuan untuk mencetak generasi berkepribadian mulia, telah menoreh tinta emas dalam sejarah dunia dan para ahli barat telah mengakui hal itu. Dan sebagai mana telah disebutkan dalam al-Qur’an surah Al-Imran ayat 110 bahwa ummat ini adalah ummat terbaik yang menyeru kepada ma’ruf kebaikan dan menyeru untuk meninggalkan perbuatan munkar.

            Dalam negara naungan khilafah juga menyediakan sarana dan prasarana secara gratis dan mudah dalam menunjang kualitas dan profesionalitas pendidik generasi dalam menjalankan tugas mulianya. Hal ini tentu akan membuat mereka lebih fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan mencetak SDM yang berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.

Sayangnya, kesejahteraan ini tidak didapatkan jika Islam tidak diterapkan secara kaffah Karena hanya sistem Islam dalam naungan kekhilafahanlah kesejahteraan itu akan tercapai. Wallahu A’lam Bissawab[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.