Ilusi Student Loan

162

Oleh: Riva Ummu Layyin, S.Pd (Pembina Majelis Taklim Al Jannah)

Pemerintah mulai memikirkan bagaimana Kredit Pendidikan atau Student Loan bagi pelajar perguruan tinggi di Indonesia dapat dilaksanakan kembali. Melalui program ini, pelajar bisa mencicil biaya perkuliahannya ketika sudah diterima di dunia kerja. Tentu program semacam ini sangat membantu pelajar yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ide dimunculkannya kembali  program ini diungkapkan Presiden Joko Widodo saat bertemu bos-bos perbankan Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/3/2018). (KOMPAS.com, Jumat, 16/3/2018).

Pendidikan adalah kebutuhan mendasar bagi setiap individu. Karenanya, pendidikan tidak boleh dianggap sepele. Pendidikan akan meningkatkan harkat dan martabat manusia.Terlebih lagi pada zaman now ini, setiap individu dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika tidak, tentu dia akan tersisih dari persaingan global.

Ironisnya,pada beberapa tahun terakhir ini, masih hanya sekitar 30% dari lulusan SLTA yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Faktor utama yang menyebabkan hal ini adalah biaya kuliah yang sangat tinggi. Baik perguruan tinggi negeri maupun swasta, biaya kuliah tidak terjangkau oleh semua kalangan. Jadi hanya kalangan berada saja yang mampu mengenyam pendidikan tinggi.

Pendidikan mahal tersebab adanya orientasi profit. Harusnya Pendidikan diselenggarakan oleh negara sebagai layanan publik, tanpa sedikitpun orientasi profit. Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Sebagaimana termaktub dalam pasal 31 UUD 1945. Harusnya semua kalangan berkesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, termasuk pendidikan tinggi.

Pemerintah menggagas program Student Loan agar pendidikan tinggi bisa dinikmati semua kalangan. Akahkah program ini efektif? Kenapa kuliah saja harus utang?

Student Loan adalah program yang diadopsi dari negara kapitalis Amerika Serikat. Program ini  telah diterapkan di sana. Dengan kredit mencapai US$ 1.3 triliun. Ini menjadi utang tertinggi setelah Kredit Pemilikan Rumah. Utang ini sudah semakin besar pada tahun 2017. Sehingga dikategorikan masalah serius yang semakin lama semakin buruk.

Seseorang setelah lulus tentu harus bekerja demi pelunasan Student Loan. Sementara lapangan kerja sempit. Pekerjaan sulit didapatkan. Namun bagaimanapun utang harus tetep dibayar, ingkar bayar memiliki konsekvensi berat. Serupa dengan kredit-kredit lain, Student Loan juga memiliki yang cukup berat jika seseorang ingkar bayar. Sebagai contoh, jika seseorang terlambat atau gagal bayar, maka akan dikenakan suku bunga yang lebih tinggi dan muncul biaya-biaya (denda) sebagai kompensasi keterlambatan pembayaran. Jadi utang semakin banyak, tentu semakin menyulitkan seseorang untuk melunasinya. Inilah gambaran buruk dari penerapan Student Loan.  Masihkah akan diterapkan di negeri ini?

Juga perlu diingat, utang di bank pasti ada riba. Karena bank tentu berorientasi profit dan pasti melalui bunga utang (riba). Riba adalah haram. Tentu bagi seorang muslim wajib meninggalkannya, bukan malah mengambil dan membelajarkannya. Riba adalah dosa besar yang diancam Allah dengan neraka.

Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 275: “ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Demikianlah gambaran tentang gagasan program Student Loan. Sungguh tidak layak untuk dilanjutkan di negeri ini. Program ini muncul dari sistem hidup Kapitalis yang serba materialis. Program apapun akan dijalankan, selama materi (profit) didapatkan, termasuk dalam pendidikan.

Berbeda dengan sistem hidup Islam. Dalam Islam, hidup adalah untuk meraih ridho Allah, bukan untuk semata profit. Begitupun dalam pendidikan. Islam memiliki aturan rinci bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan. Sehingga pendidikan bisa dijangkau oleh setiap individu. Yaitu pendidikan harus merupakan layanan publik yang disediakan oleh pemerintah tanpa biaya. Pendidikan akan dibiayai oleh Baitul Maal (kas negara).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.