HIV Aids Terus Menggila, Bagaimana Nasib Generasi Bangsa?

49

Oleh: Puput Hariyani, S.Si*

Dekadensi moral dari tahun ke tahun bukannya menurun tetapi semakin menggila. Berbagai upaya yang dilakukan negeri ini seakan nihil memberikan solusi dan kontribusi. Tak terkecuali program ABCD yang diluncurkan pemerintah terbukti tak memberikan arti. Meski dinarasikan seakan mampu menjadi tumpuan, namun realitas yang terjadi cukup menjadi bukti. Masih jauh dari harapan yang diinginkan.

HIV Aids yang selama ini diperangi telah memapar ke seluruh penjuru negeri. Melahap siapa saja yang ada di hadapannya. Tak pandang usia, tua-muda, bahkan anak-anak usia belia menjadi korban kebiadabannya. Di Samosir Sumatera Utara misalnya, tiga siswa SD ditolak sekolah karena orang tua lain kawatir anak-anak mereka dapat tertular virus HIV. Tak hanya HIV Aids, bahkan LGBT sebagai salah satu penyebab meningkatnya HIV Aids kian menjamur dimana-mana.

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan, Sumatera Utara menempati posisi ke 7 di Indonesia yang terbanyak mengalami kasus HIV Aids. Sementara berdasarkan data yang telah terpublikasi, angka prevalensi HIV Aids di Sumut mencapai 28.97 per 100.000 penduduk. Artinya, setiap 100.000 penduduk terdapat 29 orang mengidap HIV Aids sehingga semua pihak perlu aktif dan peduli menanggulanginya (Unit Manager Communication & CSR PT Pertamina (Persero) Region I Rudi Ariffiantodi Medan, saat pelatihan Dasar HIV Aids yang digelar Pertamina MOR I di hotel Grand Inna Jalan Balai Kota Medan, Kamis (26/4/2018)).

Sementara dari data Dinkes.pemkomedan.co.id, menyebutkan kasus HIV Aids di Kota Medan mencapai sebanyak 5.952 per November 2017. Merujuk Peraturan Daerah (Perda) No 1 tahun 2012 dan Peraturan Walikota (Perwa)Nomor 30, 31 dan 32 tahun 2016, semua pihak harus terlibat agar dapat memutus mata rantai penularan HIV Aids. Lebih mencengangkan karena dari data HIV.gov menunjukkan hingga akhir tahun 2016 ada 36.7 juta orang di dunia yang mengidap HIV Aids, dimana 2.1 juta diantaranya adalah anak-anak.

Semua pihak tentu sepakat bahwa HIV Aids menjadi musuh bersama. Dampak negatifnya juga sudah sangat terasa, bahkan anak-anak harus menanggung penyakit paling mematikan di dunia. Namun, miris meskipun dianggap sebagai common enemy, kini ada yang terasa janggal. Dimana ada upaya kuat dan sistematis untuk menghilangkan phobia terhadap HIV Aids. Padahal inilah cikal bakal perusak generasi. Misalkan pernyataan yang menyebut bahwa sekarang HIV bisa diterapi dengan anti-retroviral (ART) agar virus tidak berkembang menjadi Aids. Atau dengan mendorong kampanye “0 diskriminasi” bagi pengiudap HIV Aids. Bahkan ada yang mengkaitkan dengan isu intoleransi.

Tentu perhatian dari semua pihak, curahan pemikiran dan solusi nyata sangat diharapkan. Namun sebelum merumuskan solusi terlebih dahulu harus dilakukan analisa yang tepat sebab musabab virus HIV Aids ini muncul. Tak diragukan lagi bahwa muncul dan menyebarnya HIV Aids ini adalah lahir dari pergaulan bebas baik bentuknya berupa seks bebas atau LGBT. Untuk itulah 2 tindakan amoral ini yang harus diberantas secara tuntas hingga ke akar-akarnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa aktivitas seks bebas dan LGBT ini semakin menggila, apa yang menjadi penyebabnya? Kita harus menjawab bersama agar ada kesepakatan akar masalah sehingga mudah untuk menyepakati solusi. Mengingat, peran generasi bangsa di masa depan sangat diharapkan mampu menjadi pengusung peradaban.

Tak dipungkiri bahwa merebaknya seks bebas dan LGBT adalah permisifisme dan liberalisme. Cara hidup yang serba bebas tak terkendali menganggap bahwa dirinya boleh melakukan segala aktivitas sesuka hatinya. Kebebasan inilah yang menjadikan generasi mencoba segala hal yang baru menurut selera mereka. Juga Iman yang lemah, masyarakat yang individualis. Selain itu, juga tak adanya penjagaan dari negara terhadap masyarakat terlebih generasi.

Diumbarnya segala tayangan dan tontonan yang mengundang syahwat. Lemahnya pemberantasan negara terhadap group yang memfasilitasi tumbuh suburnya aktivitas kebebasan tersebut. Sebut saja group Blue Film atau komunitas LGBT yang jumlahnya tiap group bisa mencapai ribuan orang. Jika group mereka diparalel maka kita bisa bayangkan berapa banyak generasi yang terpapar aktivitas yang merusak ini.

Artinya, jika kita menginginkan HIV Aids ini diberantas habis. Maka kita semua pihak juga harus berkomitmen memberantas akar penyebabnya berupa ditumpasnya pemikiran permisifisme dan liberalisme yang lahir dari tatanan hidup sekulerisme (pemikiran yang memisahkan sejauh-jauhnya aturan agama dengan kehidupan dunia).

Siapakah yang mampu menumpas tanpa berbekas? Jawabannya adalah Islam dan hanya Islamlah yang mampu memberikan solusi tuntas. Mengapa hanya Islam? Karena Islam bukan sekedar agama ritual, tetapi dilengkapi seluruh aturan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh permsalahan manusia. Dan Islamlah agama yang lahir dari Dzat Sang Maha Pencipta. Tentu paling tahu aturan yang dibutuhkan mahkluknya.

Sistem Islam akan menjaga generasi termasuk penyelesaian terhadap penyakit menular tanpa mengorbankan yang lainnya. Menurut Islam menghilangkan segala rangsangan wajib dilakukan oleh individu, keluarga, masyarakat dan negara.

Pertama, seorang individu harus senantiasa memelihara diri dengan ketakwaan yang mendalam kepada Allah SWT. Ketika memiliki sifat taqwa tentu akan takut terhadap azab Allah. Dan ketaqwaan ini akan memalingkannya dari perbuatan munkar dan menghalanginya dari kemaksiatan  kepada Allah karena dia merasa selalu diawasi Allah. Agar mampu memiliki ketakwaan berarti harus paham Islam yakni dengan mendalami Islam. Agar mampu istiqamah maka butuh komunitas hijrah yang akan senantiasa mengingatkan agar senantiasa di jalan Allah SWT.

Kedua, keluarga harus memberikan bimbingan agama, perhatian dan kasih sayang yg cukup agar terwujud generasi seperti pada point pertama. Ketiga, masyarakat sebagai kontrol social yang akan menguatkan individu dan mencegah menjamurnya berbagai rangsangan lingkungan, tanggap dan senantiasa beramar makruf. Dengan demikian niscaya rangsangan akan mudah diminimalisir.

Keempat, sebagai upaya preventif atau pencegahan. Negara berupaya untuk menghilangkan berbagai bentuk rangsangan dengan menghapus segala tayangan yang merusak, pornografi, pornoaksi. Dan negara menerapkan aturan kehidupan Islami terutama dalam tata aturan pergaulan muda mudi, tidak boleh berkhalwat, ikhtilat, diwajibkan menggunakan pakaian yang menutup aurat, meminimalisir tempat remang-remang yang menjadi tempat suburnya perzinahan termasuk meninggalkan segala paham yang lahir dari sekulerisme.

Sebagai upaya kuratif maka negara memberikan hukuman yang berat bagi pelaku LGBT dan memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku perzinahan. Dengan sanksi yang tegas maka akan menjadikan pelakunya kapok dan bagi yang belum pernah melakukan akan berpikir ribuan kali untuk melakukan. Negara juga akan sekuat tenaga mencurahkan segenap daya upaya, mengerahkan seluruh ahli dan pakar yang dimilikinya untuk memfasilitasi penelitian-penelitian dan yang sejenisnya untuk menghasilkan karya yang mampu menjadi obat HIV Aids dan penyakit menular lainnya. Wallahu’alam bi-ash Showab.  *Penulis, Pemerhati Remaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.