Hipokrisi Rezim Kapitalis

13

Oleh Asma Ramadhani (Siswi SMAIT Al Amri)

COP26 (Conference of the Parties ke-26) yang dihadiri Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, membahas terkait perubahan iklim, yang telah diselenggarakan di Glasgow, Skotlandia pada hari Senin tanggal 1 Nopember 2021. Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi mengurai tentang transisi energi yang dilakukan Indonesia dan keberhasilan menurunkan angka kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Pidato presiden dalam forum tingkat tinggi itu ternyata mendapat respon dari pihak Greenpeace Indonesia. “Klaim-klaim Jokowi seluruhnya adalah omong kosong,” kata Juru kampanye Hutan Greenpeace Indonesia M. Iqbal Damanik.

Perubahan iklim dianggap sudah menjadi tanda terjadinya perubahan besar ekologis, sehingga penyelenggaraan COP26 seolah sangat darurat untuk menarik komitmen dari berbagai pihak dan negara dalam rangka menurunkan emisi karbon dan penggundulan hutan.

Namun, realita menunjukkan bahwa setiap negara memilki tujuan untuk memenangkan kepentingan masing-masing. Untuk menunda tenggat pencapaian emisi zero, menghalangi ekspansi industri negara lain, menawarkan teknologi hijau ataupun menolak penghapusan komitmen-komitmen sebelumnya.

Di sisi lain, sebuah penelitian mengungkap total jejak karbon dari 1% orang-orang super kaya akan tumbuh, sementara 50% orang-orang termiskin tetap kecil, walaupun ada komitmen yang dibuat menjelang KTT COP26.

Negara-negara industri yg menggagas KTT ini adalah penghasil terbesar emisi, bahkan membiarkan kaum kaya melontarkan jutaan ton emisi karbon untuk memuaskan keinginan bernilai materialis mereka.

Di sini perlu pemberian solusi yang fundamental untuk mengatasi krisis iklim dan pemeliharaan alam. Sejauh ini, upaya para petinggi-petinggi negara pada KTT dinilai tidak memberikan hasil yang berarti. Malah hanya menaburkan harapan kosong bagi rakyat.

Satu-satunya sistem kehidupan yang menjamin kesejahteraan manusia dan seluruh makhluk hidup hanya lah Islam. Sebagai sekumpulan aturan dari Tuhan yang menguasai kehidupan dan alam semesta. Kembali menengok posisi manusia sebagai hamba Allah mengisyaratkan bahwa kunci atas segala tata aturan di muka bumi ini hanya ada pada kekuasaan Allah swt.

Oleh sebab itu, tiada cara yang mampu memelihara alam ini kecuali dengan aturan dari Allah, yakni hukum Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.