Hilangkan Islamofobia, Khilafah Bukan Musuh Melainkan Ajaran Islam Mulia

55

Oleh: Desi Wulan Sari

Indonesia adalah negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Pada saat ini diperkirakan  jumlah umat Muslim mencapai 207 juta orang. Sekalipun jumlahnya besar tapi  bukan berarti Negara Indonesia merupakan Negara Islam. Mengingat perundangan di Indonesia masih menggunakan produk hukum buatan manusia.  Meskipun Indonesia bukan negara Islam, namun prinsip-prinsip Islam sedikit banyaknya mempengaruhi kebijakan politik, terkait hukum dan perundangan tertentu.

Beberapa tahun belakangan ini, kaum muslim di seluruh dunia sedang mengalami geliat kebangkitan sedang diramaikan dengan kebangkitan Islam di seluruh dunia. Semangat untuk kembali menghidupkan Syariat Islam menjadi kebutuhan tersendiri bagi umat Muslim. Masa keterpurukan ingin segera mereka akhiri.

Faktanya saat ini, umat Islam di beberapa wilayah dizalimi. Penderitaan dan penindasan yang dialami, membuat umat Muslim membutuhkan pemimpin yang dapat melindungi mereka. Pemimpin yang dapat menyatukan umat. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan dengan kembalinya Pelindung yang dapat menjadi Junnah/Perisai umat dibawah naungan khilafah. Khilafah akan dapat melindungi mereka dari segala macam penindasan di seluruh dunia.

Geliat kebangkitan telah mendorong Islam semakin berkembang dengan pesat. Sebagian umat Islam menyadari bahwa yang bisa mengeluarkan mereka dari keterpurukan adalah hadirnya Daulah Islam. Dimana Kepemimpinan Islam pernah mencapai masa keemasan saat Rasul SAW,  Khulafur Rasyidin, dan kekhalifahan memimpin umat muslim di belahan sepertiga dunia.

Kekhilafahan di masa lalu memperlihatkan pada dunia bahwa Islam datang sebagai Rahmatan lil alaamin. Masyarakat yang berada dalam perlindungan Daulah mendapatkan kehidupan adil, makmur, sejahtera, tanpa membedakan mereka muslim atau non muslim.  Mereka memiliki kesetaraan di hadapan hukum karena mereka adalah  warga negara. Sang pemimpin umat (khalifah) sejatinya akan mengayomi semua agama dan ras, hingga saat itu tak ada xenofobia (takut keberadaan orang asing) dalam diri umat muslim itu sendiri.

Mengapa terjadi Islamofobia?

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001.

Seperti Kita ketahui bahwa kondisi yang menyudutkan umat Islam dengan berbagai macam label negatif yang diberikan merupakan hasil rekayasa dan konspirasi secara politik kaum Sepilis (liberalis, kapitalis dan sekularis).  Tujuannya  meruntuhkan dan menjauhkan umat muslim dengan syariat. Dengan menghilangkan kepercayaan bahwa Islam yang telah diturunkan Allah SWT melalui Rasul SAW tidak lagi cocok diterapkan saat ini. Mereka mengklaim kalau Islam hanyalah sebagai agama religius semata. Islam kaffah dibawah naungan khilafah yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh, dalam bidang keamanan, sosial, budaya hingga politik bukanlah sistem yang cocok dalam memimpin dunia.  Kehadiran Daulah Islam didunia dirasakan sebagai ancaman nyata bagi kaum Sepilis (liberal, kapitalis, dan sekuler) dalam menjalankan agenda Kepemimpinan dengan tujuan “kemakmuran”  versi mereka, dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan tersebut. Walaupun dengan cara-cara keji seperti fitnah, kekerasan, dan adu domba sekali pun.

Pada akhirnya mereka mulai melakukan serangkaian agenda yang melemahkan Islam.  Berbagai cara dilakukan untuk memfitnah Islam dan membuat teror serta membangkitkan ketakutan dalam diri masyarakat bahwa Islam adalah ajaran yang menakutkan (Islamofobia).

Islamofobia terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini memang sengaja diciptakan untuk menebar ketakutan terhadap simbol Islam dan ajaran Islam. Islamofobia hanya bisa dihentikan bila Islam diterapkan secara kafah karena Islam berasal dari wahyu Allah yg membawa rahmat atas sekalian alam dan hukum yang fitrah-menentramkan-membawa damai bagi seluruh alam.

Upaya penyebaran virus Islamofobia telah banyak dilakukan para pemimpin negara sepilis (sekuler, kapitalis dan liberalis) di dunia. Semua aturan, hukum, yang diambil dalam Al-Quran dikriminalisasi, dimusuhi dan dijadikan alat untuk memutarbalikkan fakta. Padahal Al-Quran jelas wahyu Allah yang diturunkan dalam Islam. Secara logika jelas, bagaimana mungkin manusia bisa membantah atau menolak hukum Allah jika mereka tidak melihat dengan kacamata Iman. Sedangkan Allah adalah maha pencipta manusia,  alam dan seisinya. Dengan mudah Allah bisa menurunkan azab bagi manusia yang mengingkari kebenaran-Nya.

Indonesia mulai ditulari virus Islamofobia. Salah satunya isu khilafah. Monsterisasi khilafah baru-baru ini dimunculkan. Hal ini terjadi saat sekarang setelah ada keputusan politik terhadap satu ornas Islam. konstruksi berpikir ini dibuat untuk melegitimasi keputusan politik. Penyesatan arti khilafah dibuat sebagai alsan untuk membungkam kebangkitan Islam yang mulai berkembang di Indonesia.

Keputusan politik dalam memonsterisasi ajaran khilafah tersebut dibuat bukan karena soal khilafah.  Ini karena persoalan-persoalan politik. Terkait Pilkada DKI, dengan cara pandang yang keliru, paranoid terhadap kebangkitan Islam khususnya yang tampak pada aksi 212 (MediaUmat.news, 25/5/2018).

Sehingga perlu meluruskan kembali apa yang dikhawatirkan dan ditakuti tidaklah benar. Khilafah adalah ajaran Islam. Seperti yang dijelaskan oleh Din Syamsuddin dalam keterangan tertulisnya di Jakarta pada Sabtu (30/3/2019) dini hari menyebutkan bahwa imbauan itu sesuai dengan taushiyah Dewan Pertimbangan MUI sebagai hasil Rapat Pleno ke-37 pada Kamis (28/3/2019).

Menurut Din, di Indonesia khilafah sebagai lembaga politik tidak diterima luas, tetapi khilafah yang disebut dalam Al-Qur’an adalah ajaran Islam yang mulia. “Manusia mengemban misi menjadi Wakil Tuhan di Bumi atau ‘khalifatullah fil ardh’,” kata Din.

Dia menjelaskan mempertentangkan khilafah dengan Pancasila adalah identik dengan mempertentangkan negara Islam dengan negara Pancasila, yang sesungguhnya sudah lama selesai dengan penegasan negara Pancasila sebagai “Darul Ahdi was Syahadah” atau negara kesepakatan dan kesaksian.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menambahkan menisbatkan sesuatu yang dianggap Anti-Pancasila terhadap suatu kelompok adalah labelisasi dan generalisasi (mengebyah-uyah) yang berbahaya dapat menciptakan suasana perpecahan di tubuh bangsa Indonesia (Bisnis.com, 30/3/2019).

Saatnya umat kembali kepada Islam. Jangan nodai kesucian dan keagungan agama ini dengan hal-hal di luar pemikiran Islam. Islamofobia buatan orang-orang Sepilis (sekuler, kapitalis dan liberalis) tidak akan menyurutkan semangat umat Muslim untuk selalu berada dijalan Allah.

Umat Muslim di seluruh dunia saling bahu membahu dalam menjalin ukuwah. Mereka menghadapi fitnah dan kezaliman para penguasa Negeri dalam agenda  Islamofobia ini dengan cara yang dibenarkan sesuai sunah Rasul SAW, sambil berharap datangnya pertolongan dari Allah SWT dengan munculnya pemimpin sang pelindung umat Muslim dunia.

Saatnya umat dan penguasa mengembalikan Islam dalan kedamaian.  Membiarkan umat Muslim Indonesia menjalnkan ajarannya dengan kaffah. Di Indonesia, Negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk dan beribadat menurut agamanya yang tertuang dalam UUD 1945 (Pasal 28 dan 29).  Sehingga tidak diperlukan lagi alasan untuk terus menggulirkan Islamofobia di tengah masyarakat.  karena hal ini dapat membuat umat Muslim merasa tidak nyaman dan tentunya menjadi fitnah bagi umat  dan Islam itu sendiri.

Islam adalah Agama mulia. Mengembalikan  kepercayaan dan mengukuhkan persatuan umat Muslim Indonesia adalah sebagai salah satu wujud pilar  pengokoh bangsa. Hilangkan Islamofobia di Indonesia. Karena Islam membawa rahmat, membawa kedamaian, kemakmuran dengan tujuan kemaslahatan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.