Hari Moekti, Kontestasi Politik, Dan Khilafah

Oleh : Achmad Fathoni (Direktur el-Harokah Research Center)

     Sejak Senin pagi (25/6/2018) hingga malam, hampir seluruh stasiun televisi nasional menayangkan berita meninggalnya Sang mantan roker yang telah hijrah menjadi da’i, Hari Moekti. Bahkan di media sosial berita wafatnya Sang mantan roker menjadi tranding topik. Tentu tidak berlebihan pemberitaan tersebut menghiasi setiap menit pemberitaan mesdia masa nasional. Pasalnya, Hari Moekti, merupakan penyanyi yang fenomenal, yang menjadi idola kawula muda di era 80-an hingga 90-an, dan saat di puncak kejayaannya “menarik diri” dari dunia keartisan. Pasca itu, Hari Moekti lebih konsentrasi mendalami Islam, yang akhirnya mendedikasikan hidupnya dalam dunia dakwah. Bahkan jadwal dakwahnya lebih padat dibandingkan saat dia menjadi artis nasional papan atas.

     Di laman salah satu media online memberitakan, “Hari Moekti memang sudah cukup lama meninggalkan gemerlap dunia tarik suara. Dia memilih hijrah menekuni ilmu agama hingga akhirnya dikenal sebagai penceramah. Perjalanan hijrah Hari Moekti tak lepas dari kegelisahannya saat masih menggeluti dunia tarik suara. Dalam sebuah acara, Hari mengaku kehidupannya sebagai musisi dipenuhi oleh kegelisahan. “Salat enggak pernah puas, terkenal enggak pernah puas,” ujar Hari Moekti seperti direkam oleh akun YouTube Vertizone TV” (http://m.cnnindonesia.com/nasional/20180625041837-20-30-8761/jalan-sunyi-hari-moekti-roker-yang-menjadi-pejuang-khilafah).

     Tentu saja, semua kalangan merasa kehilangan seorang penyanyi, yang telah mereguk banyak kenikmatan dunia, ketenaran, kemewahan, dan bergelimang harta, namun semua gemerlap dunia tersebut beliau tinggalkan dengan hati yang ikhlas dan lapang, bahkan di sisa usianya lebih didedikasikan untuk dakwah Islam. Itulah sosok seorang mukmin yang telah menemukan manisnya iman dan Islam. Dia telah membuktikan janjinya untuk membela agama-Nya dalam sisa usiannya hingga akhir hayatnya.

     Dan telah menjadi qadha’ (ketentuan) Allah SWT, bahwa beliau dipanggil keharibaan-Nya di saat negeri ini akan melakukan hajatan politik berupa Pilkada serentak se-Indonesia, Rabu (27/6/2018). Tentu sangat patut menjadi ibrah (teladan) sekaligus sebagai renungan bagi semua pelaku politik di negeri ini. Jika publik menyaksikan kontestasi politik menjelang Pilkada serentak 2018 ini, maupun Pilpres 2019, tentu bak panggang jauh dari api dibandingkan sikap hidup yang telah dibuktikan oleh Sang mantan roker ternama, Hari Moekti. Para pelaku politik sering hanya mewujudkan pencitraan diri dan partainya, untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya, tak peduli setelah berkuasa lupa dengan janji politiknya kepada rakyat. Bahkan menurut laman tirto pada 12 April 2018, terhitung sejak 2005, sebanyak 56 kepala daerah ditetapkan melakukan tindak pidana korupsi. Pada laman detik 14 April 2018 ada berita yang intinya hingga April 2018, ada 10 kepala daerah jadi tersangka korupsi di 2018.

     Semua data faktual tersebut harusnya menjadi pertanyaan besar pada diri publik yang ada di negeri ini. Ada apa dengan pemilu kita?. Jujur saja, sebenarnya publik telah mengetahuinya. Kuncinya adalah pertanyaan ‘berapa besar modal politik dalam pemilu harus dikeluarkan oleh para kontestan pemilu?’ Sangat mahal. Dan mahalnya itu ternyata belum berbanding lurus dengan harapan publik dalam mewujudkan kesejahteraan para konstituen yang ada. Publik harusnya bisa memahami bahwa sesungguhnya penyebab utama dari “bencana politik” itu adalah sistem demokrasi yang diterapkan. Secara teknis berupa kontestasi politik dalam pemilu, baik pilkada, pileg, maupun pilpres selama ini.

     Semua kontestasi politik demokrasi tersebut memang tidak pernah didedikasikan untuk ridha Allah SWT dengan mewujudkan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan wahyu. Sebagaimana yang dinasehatkan oleh almarhum Hari Moekti beberapa waktu sebelum berpulang ke rahmatullah, yang disampaikan oleh adik kandung beliau, Mukti Candra, dalam sebuah wawancara dengan televisi swasta nasional (25/6/2016), Kang Hari berpesan, “Kaum Muslimin tanpa undang-undang yang datang dari Allah SWT, maka hidupnya tidak akan tenang. Hidup kaum Muslimin dan kaum yang lain tidak akan pernah sejahtera selain dengan Syariah dan Khilafah”. Ya, Khilafah itulah tatanan kehidupan yang berdasar wahyu, yang akan membawa kerahmatan bagi seluruh umat manusia. Yang dalam sejarah telah menorehkan tinta emas paradaban paripurna yang tiada duanya di dunia ini. Begitulah pesan Kang Hari, panggilan akrab beliau, kepada seluruh kaum Muslimin. Alangkah eloknya jika semua elemen bangsa ini menjadikan pesan berharga tersebut sebagai bahan renungan dalam menata bangsa dan negara ini ke depan, untuk mewujudkan cita-cita bersama yaitu terwujudnya negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang aman sentosa dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT). Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.