Harga Rasa Aman dibalik Hantu Kebebasan

74

Komisioner Komnas Perempuan Adriana Veni mencatat tahun 2017 terdapat 350.472 kasus kekerasan fisik dan kekerasan seksual pada perempuan. 1.210 diantaranya kekerasan seksual inses yang dilakukan di ranah privat.

“Pelakunya paling tinggi adalah ayah kandung, jumlahnya 425 kasus. Dari kasus di Jambi ini yang melakukan kakak kandung, dalam catatan Komnas Perempuan, kakak kandung ini juga cukup tinggi, jumlahnya 58. Ada juga ayah tiri, paman dan suami,” ungkap Veni.

WA (15) diputuskan bersalah karena mengaborsi janin hasil pemerkosaan sang kakak. Vonis PN Jambi ini membuat geram para aktivis HAM dan gender. Aktivis menilai, WA seharusnya dibebaskan bukan dikriminalisasi.

Advokat Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (LBH-APIK) Veni Siregar mencatat ini kali kedua kriminalisasi terhadap anak yang melakukan aborsi. Sebelumnya, anak perempuan berinisial BL melakukan aborsi setelah diperkosa oleh tetangganya.

Aborsi Bukan Solusi

Tanpa mengurangi empati pada korban pemerkosaan, pembebasan pidana pelaku aborsi bukanlah solusi. Mari kita dengan jernih menilai, mengapa kasus kekerasan seksual, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan aborsi sedemikian hebat tanpa bisa diredam?

Laporan mengejutkan dari Guttmacher Institut, 2008 menyebutkan 17% kelahiran di Indonesia merupakan KTD. Rasio aborsi di Indonesia mencapai 37 per 1000 perempuan usia produktif, lebih tinggi dari rata-rata Asia yang mencapai 29 per 1000 perempuan usia produktif. Lebih ironis, 87% aborsi dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah. Seperempat diantaranya telah memiliki anak sedikitnya dua. Alasan aborsi bagi perempuan yang sudah menikah adalah keengganan banyak anak, karier dan bentuk fisik.

Dalam tata pergaulan bernuansa liberalistik, masyarakat dibiasakan untuk memenuhi syahwatnya dengan cara apapun. Terlebih dunia seksualitas adalah dunia candu yang menuntut kenaikan dosis. Suburnya  free sex, pornografi, dan pornoaksi dengan slogan manis love has no limits membawa petaka yang tidak sedikit. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahaya pornografi pada otak manusia. Kini tak perlu status, jika tidak mendapatkan dengan sukarela pemaksaan pun dilakukan. Jerat hukum pun tak seberapa sebab dapat berlindung dibalik humanisme dan HAM.

Kasus yang dialami WA mencuatkan kembali upaya legalisasi aborsi oleh para aktivis HAM dan gender. Dalam sudut pandang feminis, perempuan memiliki hak penuh atas tubuhnya termasuk keputusan yang diambil atas KTD. Apakah keep alive or abort it tanpa penghakiman publik. Jika dicermati prinsip ini tidak lain adalah perwujudan egoisme.

Perihal aborsi sebelumya diatur dalam  UU Kesehatan no.36 tahun 2009 pasal 75 ayat (1) dan (2) dan pasal 76 ayat (1) sampai dengan (5) disebutkan larangan abortus, kecuali (1) penyelamatan nyawa ibu dan/bayi, (2) penyakit genetik dan cacat bawaan yang akan menganggu kehidupannya kelak, (3) korban perkosaan. Catatan, korban pemerkosaan harus terbukti di depan hukum dan abortus yang dibolehkan hanya jika korban pemerkosaan mengalami trauma psikologis.

Tahun 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meneken perubahan kasus abortus pada korban pemerkosaan yang tertuang dalam peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014, “Tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.” (Pasal 31 Ayat (2))

Penggantian syarat keharusan adanya  trauma psikologis bagi korban perkosaan untuk aborsi menjadi setiap KTD korban perkosaan kurang dari 40 hari menjadi indikasi adanya progress upaya liberalisasi. Alih – alih menyelesaikan masalah, upaya legalisasi setiap abortus provokatus criminalis (aborsi yang disengaja) justru memperpanjang masalah. Jika dibiarkan maka lost generation adalah konsekuensi logis sebab tidak ada lagi penghargaan atas nyawa generasi.

Perempuan hanya Aman dengan Islam

Benar bahwa mengenai aborsi, pendapat yang rajih (kuat) adalah jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (ja’iz).

Namun sangat perlu digarisbawahi, aborsi bukan sekedar masalah medis atau kesehatan masyarakat, namun juga problem sosial yang muncul karena manusia mengekor pada peradaban barat. Maka pemecahannya haruslah dilakukan secara komprehensif-fundamental, yang intinya adalah dengan mencabut sikap taqlid kepada peradaban barat dengan menghancurkan segala nilai dan institusi peradaban barat yang bertentangan dengan Islam, untuk kemudian digantikan dengan peradaban Islam yang manusiawi dan adil.

Islam menanggulangi kasus inses dengan pengaturan kehidupan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan khusus. Kehidupan khusus adalah wilayah dimana ia beraktivitas sehari-hari bersama sesama perempuan muslim atau mahrom laki-laki seperti ayah, saudara, anak, keponakan, cucu dan seterusnya. Tuntunan syari’at Islam dalam kehidupan khusus meliputi 1) penjagaan mahram 2) batasan aurat 3) waktu aurat 4) pemisahan tempat tidur dan 5) peran dan tanggung jawab orangtua.

Penjagaan mahram, Islam melarang perempuan untuk berpergian lebih dari 24 jam tanpa pendampingan mahram. Definisi mahram bagi wanita adalah orang yang haram (selamanya-Red) menikah dengannya, karena nasab, pernikahan atau susuan. Hal ini untuk memastikan keamanan perempuan dari bahaya yang mengancam. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246]

Batasan aurat, Ustazah Aini Aryani, Lc menjelaskan, mazhab Syafii berpendapat jika batasan aurat pada mahram yakni apa yang ada selain di antara pusar dan lutut. Hanya, dengan catatan, dibukanya aurat tersebut aman dari fitnah. Fitnah di sini berarti membuat orang ingin bermaksiat.

Dalilnya adalah firman Allah SWT, “Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka….” (QS. An-Nur : 31)

Waktu aurat, Islam mengatur untuk selain hamba sahaya dan anak-anak yang belum baligh tidak boleh memasuki ruang privasi seseorang tanpa izin. Khusus hamba sahaya dan anak-anak yang belum baligh boleh memasuki ruang privasi tanpa izin pemilik kecuali di tiga waktu aurat. Yakni sebelum sholat subuh, menjelang dhuhur dan setelah sholat isya’.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nur : 58)

Pemisahan tempat tidur, Mengenai fakta aktivitas tidur, yaitu tidurnya dua anak dalam satu tempat tidur (madhja’), tidak diragukan lagi ini merupakan aktivitas yang menjadi pengantar zina dan sodomi, karena ini merupakan bentuk perbuatan mudhâja’ah (tidur bersama). Adapun perbuatan mudhâja’ah(tidur bersama), sudah jelas, merupakan perbuatan pengantar zina atau sodomi. Karena itu dalam hal ini berlaku hukum perbuatan yang lazim menjadi pengantar zina dan sodomi, yaitu haram.

Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika usia mereka tujuh tahun; pukullah mereka karena (meninggalkan)-nya saat berusia sepuluh tahun; dan pisahkan mereka di tempat tidur.”(HR Abu Dawud).

Jika anak-anak saja dilarang melakukan mudhâja’ah (tidur bersama), maka larangan yang sama tentu lebih layak untuk orang dewasa. Sebab, perintah kepada pihak yang lebih rendah juga merupakan perintah kepada pihak yang lebih tinggi. Ini termasuk dalam kategori: tanbih min al-adna ila al-a’la.

Peran dan tanggung jawab orang tua, posisi orang tua menjadi penting termasuk dalam pendidikan usia dini. Orang tua berkewajiban mendidikny secara Islami termasuk mengajari tentang aurat, malu, bagaimana saudara yang lawan jenis maupun sejenis yang benar. Membiasaan anak dengan ketaatan sehingga terhindar dari kerusakan.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir. Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Dalam kehidupan umum negara akan menutup segala pintu menuju zina. Mulai dari menyaring segala informasi baik online maupun offline dan menutupnya tanpa kompromi jika mengandung pornografi. Menutup semua industri yang menyajikan konten pornografi. Memfasilitasi pemisahan kehidupan laki-laki dan perempuan dalam segala ranah publik. Memudahkan pernikahan dan menyibukkan generasi dalam ketaatan, seperti aktivitas ibadah, keilmuan, dakwah dan jihad.

Dari sisi kuratif, negara memberlakukan sistem sanksi tegas bagi siapapun yang berani membuka pintu zina yang telah ditutup negara. Hukuman cambuk bagi pezina yang belum menikah. Hukuman rajam bagi yang yang sudah menikah. Hukum qishash bagi pelaku pembunuhan termasuk aborsi. Hukuman mati bagi perbuatan liwath (homoseksual) dan ta’zir bagi sihaq(lesbian). Untuk korban pemerkosaan, Islam membebaskan hukuman.

Terakhir, aborsi hanyalah satu dari sekian buah penerapan sekulerisme pada peradaban. Tidak ada kebaikan sedikitpun yang dapat dipetik dari legalisasi aborsi. Sebab aborsi bukanlah sekedar pilihan kesehatan atau medis. Maka solusi terbaik adalah eliminasi faktor-faktor yang menyuburkan aborsi. Potong semua jalur menuju zina dengan menerapkan Islam dalam kehidupan. (Dessy Fatmawati, S. T)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.