Hanya Islam Penyelamat Generasi dari Kehancuran

Oleh : Irianti Aminatun

Aplikasi tiktok yang sedang naik daun di Indonesia telah menyeret ribuan anak muda joget-joget tak jelas dan miskin manfaat.  Dengan bermodal aplikasi ini,  sosok Bowo Alpenliebe menjadi viral di dunia maya. Tak ketinggalan banyak remaja  dengan bangga memamerkan tubuh yang tidak seharusnya menjadi konsumsi publik. Bahkan muslimah berkerudungpun turut berjingkrak-jingkrak meramaikan dunia Tik-Tok. Miris..itulah kata yang tepat untuk menggambarkan generasi yang sibuk dengan hura-hura miskin faedah.

Yang lebih miris lagi adalah ketika menyaksikan tingkah laku para fans Bowo. Mereka demikian fanatik dalam mengidolakan figur Bowo. Di akun-akun penggemar Bowo itu bertebaran ungkapan-ungkapan di luar batas. Seperti “Kak Bowo ganteng banget. Saya rela ngga masuk surga asal perawanku pecah sama Kak Bowo”. “Bikin agama baru yuk, Kak Bowo Tuhannya, kita semua umatnya. Yang mau jadi nabinya chaT aku ya.” Dan lain sebagainya. Astaghfirullah …. Itulah realita sebagian generasi muda saat ini.

Sekulerisme Biang Keladi Kerusakan Generasi

Sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan agama hanya sebatas ritual, disepelekan bahkan dihinakan.

Sistem pendidikan sekuler telah memunculkan generasi yang beridentitas muslim tetapi berjiwa liberal. Barat berupaya menghancurkan generasi muda melalui sekulerisasi pendidikan. Uskup Dr. Samuel Zwemer, mengarahkan pidatonya kepada para misionaris mengatakan “Anda telah mempersiapkan pemuda di tanah air kaum muslimin yang tidak mengenal hubungannya dengan Allah dan memang mereka tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengerti tentang-Nya. Anda telah mengeluarkan kaum Muslim dari Islam sementara anda tidak menyebabkan dia masuk ke dalam agama Kristen. Selain itu, seseorang yang dibesarkan di dalam Islam telah dicetak menjadi sesuai dengan apa yang telah diinginkan kolonialisme untuknya. Ia tidak peduli dengan malapetaka yang tengah terjadi, dan dia senang bersantai dan bermalas-malasan, sedangkan kepeduliannya tentang hidup ini tidak keluar dari hawa nafsunya”

Kurikulum pendidikan yang ada, menjadikan ajaran Islam hanya sebatas tugas pekerjaan rumah, syarat kelulusan, syarat masuk ke jenjang pendidikan. Bukan menjadi dasar untuk membangun kepribadian anak didik. Akibatnya, anak-anak mengalami krisis identitas, tidak memahami jati dirinya sebagai seorang Muslim dan jauh dari agama.

Sistem ekonomi kapitalis yang menjadi panduan ekonomi juga berkontribusi besar dalam merusak generasi muda. Kapitalis selalu berhasrat meraup keuntungan besar. Penggunaan media tanpa batas seperti Tik Tok misalnya terus dieksplor untuk memenuhi hasrat kapital. Terbukti ketika aplikasi Tik Tok diblokir, namun karena desakan para kapitalis Cina yang tak mau rugi, penguasa negeri ini menjanjikan aplikasi ini akan dibuka kembali aksesnya dengan catatan pengelola memperbaiki konten aplikasinya.

Tapi adakah jaminan dengan diperbaiki konten aplikasi, para remaja tidak akan terjerumus pada prilaku sia-sia lewat aktivitas tak bermanfaat seperti sebelumnya? Maka disadari atau tidak,  sesungguhnya penerapan sistem sekulerlah biang keladi kerusakan generasi.

Hanya  Islam Penyelamat Rusaknya Generasi

Tujuan Pendidikan yang digariskan Islam adalah membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam secara utuh,  yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam.

Orang tua memiliki tanggungjawab besar untuk membentuk aqidah anak-anak  dengan keyakinan yang kokoh. Rasulullah SAW bersabda Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada pendidikan yang baik.” (THR.At-Tirmidzi)

 Orang tua memiliki tanggungjawab untuk membentuk kemampuan anak dalam membuktikan kebenaran akidah islam dengan keyakinan mutlak, dengan memberi mereka bukti-bukti rasional konkrit yang menunjukkan seratus persen kepastian tentang keberadaan Allah SWT sebagai Pencipta dan bahwa Al Qur’an adalah firmanNya.

Kepastian dan keyakinan inilah yang akan membuat surga dan neraka menjadi realitas yang tetap dipelupuk mata anak-anak kita. Begitu pula pertanggungjawaban kepada Allah menjadi konsep yang kuat di dalam benak mereka, yang mengarahkan mereka untuk menjalani kehidupan sesuai dengan hukum-hukum Allah dan batas batasNya.

Penting bagi orang tua menciptakan kerinduan pada surga dalam diri anak-anak . Kerinduan ini yang akan mengangkat mereka di atas kesenangan dunia yang sementara dan memungkinkan mereka untuk menerima peraturan Islam diterapkan pada kehidupan mereka. Rasulullah SAW bersabda : “Demi Allah, tidaklah dunia itu dibandingkan akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ini ke lautan. Perhatikan, jari tersebut kembali membawa apa?” (HR Muslim).

Pendidikan semacam ini , akan memberikan mereka sebuah tujuan mulia untuk diperjuangkan. Tujuan yang tidak akan pernah menyia-nyiakan energi mereka, yaitu membangun Dien Islam menjadi sebuah otoritas, mengikuti Sunnah Nabi SAW dengan memperjuangkan kembalinya negara Khilafah yang berdasarkan metode kenabian.

Khilafah  adalah kepemimpinan yang akan berfungsi sebagai penjaga sejati identitas anak-anak kita. Khilafah adalah sebuah negara yang akan membina mereka dalam nilai-nilai Islam yang mulia dan menghasilkan lingkungan yang akan terus mengingatkan mereka tentang pertanggungjawaban mereka kepada Allah SWT dan pentingnya berjuang untuk kehidupan akhirat.

Sebuah negara yang memiliki sistem media dan sistem pendidikan yang akan mempromosikan ide-ide dan tindakan yang benar, memelihara ketakwaan generasi muda dan kecintaan mereka terhadap Dien mereka. Negara ini akan menciptakan banyak sekali generasi muda berkepribadian Islam, yang menjadi contoh prilaku mulia dan merupakan hamba Allah yang setia. Wallahu a’lam bi showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.