“Haknya Dirampas, Tenaganya Diperas” (Catatan Kelam Perempuan Indonesia di Era Kapitalisasi)

Oleh : Yulida Hasanah*

Sejauh mata memandang, kondisi kaum perempuan saat ini semakin mendekati masa kritisnya. Pandangan terhadap perempuan yang bekerja di ranah publik adalah sebuah keharusan dan menjadi tren jaman. Tak memandang apakah pekerjaan mereka level rendahan seperti buruh tani, buruh pabrik, dan menjadi TKW ke negeri orang, atau pekerjaan dengan level ‘prestise’ yang lebih tinggi seperti pegawai kantoran sampai pegawai pemerintahan.

Dan yang terpenting dari hal itu adalah bahwa jumlah perempuan menjadi ‘sesuatu’ yang diprioritaskan. Apa daya, di mana ada rupiah, di situlah para perempuan berlomba-lomba untuk meraupnya. Alasannya, mereka ingin membantu memperbaiki kondisi perekonomian keluarga, dan inilah yang menjadi awal mereka terjun ke dunia kerja. Selain itu, kondisi ini juga didukung oleh sistem di negeri ini melalui program-program yang digiatkan oleh penguasa dalam rangka meningkatkan pemberdayaan perempuan di dunia kerja. Sebagaimana hal ini telah menjadi bahasan khusus antara Mentri Keuangan Sri Mulyani dengan Managing director IMF Christine Lagarde dalam rangkaian acara Annual Meeting IMF and World Bank di Bali beberapa hari lalu.

Jadi, wajar jika dari  jumlah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang tersebar di luar negeri, tenaga kerja dari Indonesia mayoritas perempuan, yaitu sebanyak 93.641 perempuan, di mana persentase ini jauh lebih banyak daripada laki-laki yang hanya 54.644 orang.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, saat membuka perayaan International Women’s Day bulan Maret lalu menjelaskan bahwa Indonesia telah merumuskan dan menerapkan berbagai strategi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan peran kaum perempuan. Salah satunya dengan memperkenalkan sistem yang mewajibkan partai politik memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam daftar calon anggota legislatif.

Di dunia Industri juga demikian. Dunia industri diminta untuk mengutamakan kesetaraan gender antara kedudukan pekerja laki-laki dan perempuan. Sebab, kini peran perempuan semakin profesional dalam berkarya dan berkontribusi dalam lingkungan kerja.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2017, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja perempuan meningkat sebesar 2,33 persen menjadi 55,04 persen dari sebelumnya yaitu, 52,71 persen pada Februari 2016.

Hal itu berarti perempuan saat ini telah semakin aktif mengambil bagian dalam mendukung perekonomian nasional dan memiliki kesempatan yang sama di bidang pekerjaan. (Jawapos.com)

Demi Rupiah, Aku Rela Tertusuk Jarum

Dari kenyataan yang ada, apa boleh buat para perempuan yang hampir 8 -14 jam berada di luar Istana rumah tangganya. Mau tidak mau, meninggalkan putra putri tercinta selama di dunia kerja, menjadi jarum yang menusuk fitrah keibuannya. Kerinduan ingin mendidik dan senantiasa membersamai mereka dalam melewati masa kecilnya adalah kesakitan tersendiri yang tak harus dirasa. Belum lagi, melalaikan peran sebagai istri dalam rumah swaminya. Di mana si istri tak bisa menjadi ratu yang kapan saja bisa hadir saat swami membutuhkannya. Pasti rasanya lebih sakit daripada tertusuk jarum.

Lalu, apakah masalah sakitnya perempuan bekerja berhenti sampai di situ saja ? ternyata tidak! Lebih dari itu, mereka mulai lupa bahwa hak-hak mereka sebagai wanita telah dirampas atas nama pemberdayaan perempuan di dunia kerja. Sudahlah kehormatan mereka tergadaikan demi profesionalisme kerja yang menjadi tuntutan. Merekapun lupa, bahwa tenaga yang seharusnya ‘wajib’ mereka kerahkan untuk mendidik putra-putri dan melayani sang swami, kini diperas atas nama pemberdayaan.

Selain itu, yang lebih menyakitkan lagi adalah kaum perempuan tidak menyadari bahwa ‘jarum’ yang menusuk mereka bukanlah jarum biasa, melainkan jarum beracun yang mematikan. Ya, inilah jarum kesetaraan gender yang telah ditusukkan oleh program-program kapitalistik yang mengatasnamakan pemberdayaan perempuan. Dan isu kesetaraan gender yang saat ini semakin nyaring dikampanyekan oleh negara-negara Barat ke negeri-negeri muslim termasuk Indonesia, membuktikan bahwa negeri ini makin terbelenggu oleh Ideologi Kapitalis sekuler. Sedangkan, ideologi ini tak akan pernah melepaskan belenggunya sampai para perempuan Indonesia benar-benar membunuh karakter/fitrah keperempuanannya sendiri. Ujung-ujungnya, di balik itu semua, ada agenda besar Kapitalis untuk menghancurkan keluarga muslim. Maka, menjadi kebutuhan yang bersifat darurat untuk menyelamatkan kaum perempuan dari belenggu ini.

Islam Menyelamatkan

Islam memiliki seperangkat aturan untuk menjadi solusi atas permasalahan yang menimpa manusia, termasuk kaum perempuan. Dan siapa saja yang mengambilnya, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (TQS. Ath-Thalaq : 2)

Adapun, jalan keluar bagi masalah peran kaum perempuan. Maka Islam telah menjelaskan beberapa poin penting terkait peran mereka,yaitu :

  1. Menjadi Madrasah al Ula bagi anak-anaknya.

Kata-kata ”wanita adalah tiang suatu negara” tampaknya bukanlah sesuatu yang berlebihan, bahkan bisa katakan ”wanita adalah tiang peradaban”. banyak sekali hadits yang mengabarkan keutamaan wanita. Ini bisa dilihat pada fungsi seorang ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Anak adalah cerminan orangtua, seorang anak yang besar biasanya lahir dari keluarga yang baik. Dan ibu memegang peranan yang sangat penting dalam pengajaran ini. Oleh Allah swt. seorang ibu telah ditempatkan pada kemuliaan yang sangat tinggi menyangkut masalah pendidikan anak. Itulah mengapa tolak ukur seorang anak ditentukan dari ibunya. Maka, berapapun besarnya tenaga dan pikiran yang dicurahkan oleh ibu dalam hal ini tidaklah seberapa dibanding hasil yang akan dia rasakan di masa depan.

Dari Abdullah bin Umar ra dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “….dan seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka..” (HR Bukhari Muslim)

  1. Menjadi shahabat bagi suaminya

Banyak sekali hadits yang mengabarkan tentang pentingnya peran wanita dalam rumah tangga, khususnya perannya menjadi shahabat bagi suaminya. Hal ini berarti bahwa wanita yang telah dan akan menjadi istri sangatlah besar pengaruhnya pada aktivitas sang suami, termasuk motivator terbaik dalam memotivasi swami melaksanakan tanggungjawab mencari nafkah yg halal bagi keluarga.

Ada seorang wanita yang pernah meminta izin kepada Nabi saw. untuk turut serta berjihad. Ia berkata, ”Wahai rasulullah, aku diutus oleh kaum wanita untuk menghadap kepadamu, sebagai wakil mereka dalam berjihad, yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kaum laki-laki. Apabila mereka menang (dalam jihad), mereka akan beroleh pahala (ganjaran); jika mereka gugur, mereka akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Sementara itu, kami adalah kaum wanita.

Apabila kami membantu kaum laki-laki (dalam berjihad), apakah kami akan beroleh pahala?”

Nabi saw. menjawab, ”Sampaikanlah salamku kepada kaum wanita yang mengutusmu. Menaati suami dan menjalankan semua perintahnya adalah sama pahalanya dengan orang yang berjihad. Sayangnya mereka banyak yang tidak menjalankan hal ini.” (HR al-Bazzar)

  1. Menjadi panutan bagi kaum dan lingkungan tempat tinggalnya

Dalam hidupnya, wanita juga wajib berda’wah dan menyerukan Islam di komunitas dimana ia berada, da’wah dalam artian ini adalah mengajak orang agar cenderung kepada Islam. Tetapi yang perlu digarisbawahi disini adalah pengkhususan da’wah wanita. Seorang wanita mempunyai keistimewaan penyampaian ”hati ke hati”, seorang wanita harus menjalankan peran pengemban da’wahnya lebih kepada masalah-masalah yang disitu melibatkan kaumnya. Ia mestilah lebih faham dalam hal-hal kewanitaan, walaupun tidak mengabaikan hal-hal yang lain. Selain itu seorang wanita mestilah menjadi contoh di lingkungan tempat ia berada, tidak eksklusif, berusaha memahami masyarakat tempat ia tinggal, berbaur dan melebur dengannya, tanpa mengorbankan hal prinsipal yang ia anut.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS an-Nahl [16]:125)

Semoga dari ketiga poin ini, peran perempuan mampu menjadi penyokong dalam menyongsong kebangkitan ummat dan terbebas dari belenggu kapitalisme. Walaupun, peran tersebut memang sebuah peran yang luar biasa berat. Akan tetapi, jika peran ini didukung dan diperjuangkan secara berjama’ah, maka yang berat akan terasa lebih ringan. Dan yakinlah bahwa kita adalah ummat terbaik yang telah dilahirkan diantara manusia, dan apa-apa yang Allah wajibkan kepada kaum perempuan pastilah dapat dikerjakan karena sesungguhnya secara fitri setiap muslimah telah dilengkapi dengan keistimewaan-keistimewaan tertentu untuk meraih kemuliaan yang telah dijanjikan Allah. Wallaahu a’lam

*Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Ibu Peduli Generasi, tinggal di Jember

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.