Hakikat Gempa Palu Donggala

237

Oleh : Arum Mujahidah (Praktisi Pendidikan)

Rasanya belum hilang kaget kita tentang gempa di Lombok beberapa pekan lalu. Jum’at, 28 September 2018, gempa kembali mengguncang sebuah pulau layaknya huruf  K jika kita visualkan dalam peta Indonesia, Pulau Sulwesi. Sulawesi Tengah tepatnya daerah Palu, Sigi dan Donggala, tiga daerah tersebut terguncang gemba hebat berkekuatan magnitudo 7,4  pada Jumat petang, 28 September 2018.  Gempa ini membawa gelombang tsunami setinggi 2 meter, ada yang mengatakan  6 meter yang menghancurkan kawasan tersebut. Hingga Selasa, (02/10/2018), BMKG mencatat terjadi 327 kali gempa susulan pasca gempa pertama.

Dua tempat terparah akibat gempa  tersebut adalah Kelurahan Petobo, Kota Palu, dan Desa Jonooge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Di Kelurahan Petobo sendiri terdapat 744 unit rumah tertimbun lumpur. Lumpur ini dihasilkan dari fenomena likuifaksi di kawasan tersebut. Sementara di Desa Jonooge pun juga mengalami hal yang sama.

Hingga Selasa (2/10/2018) , BNPB mencatat korban yang meninggal akibat gempa mencapai 1374 jiwa, luka-luka sebanyak 799 jiwa, pengungsi sebanyak 59.450 jiwa. Data tersebut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan karena masih banyak lokasi-lokasi yang belum bisa dievakuasi akibat sulitnya medan.

Menurut analis  ilmiah sementara dari para ahli tsunami Institut Teknologi Bandung (ITB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan badan Pengkajian dan penerapan Teknologi (BPPT) yang dikutip oleh Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), tsunami disebabkan dua hal. Pertama, di bagian Teluk Palu, Tsunami disebabkan adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter. Sedimen dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Palu belum terkonsolidasi kuat sehingga runtuh dan longsor saat gempa, dan memicu terjadinya tsunami. Kedua, di bagian luar dari Teluk Palu, tsunami disebabkan oleh gempa lokal. Pada tsunami di bagian luar Teluk Palu tersebut, gelombang tidak setinggi tsunami yang disebabkan longsoran sedimen dasar laut.

Sementara itu, fenomena Likuikfaksi  menjadi hal yang sangat mencengangkan bagi masyarakat.  Menurut Kepala Bagian Humas BMKG, Harry Tirto Djatmiko, Minggu (30/9/2018), likuifaksi merupakan kondisi di mana tanah kehilangan kekuatan akibat diguncang gempa, yang mengakibatkan tanah tidak memiliki daya ikat. Guncangan gempa meningkatkan tekanan air sementara daya ikat tanah melemah, hal ini menyebabkan sifat tanah berubah dari padat menjadi cair. Sehingga tanahpun Berubah menjadi kubangan lumpur raksasa  kemudian membuat ambles apapun yang berada di atasnya. Fenomena inilah yang membenamkan perumahan beserta isinya di Petobo dalam kubangan lumpur kemudian amblem ke dalam tanah.

Renungan Hakikat Bencana

Dalam hal ini penulis tidak akan menambah analis penyebab gempa dari sisi ilmiahnya. Karena hal tersebut diperlukan ilmu sesuai bidangnya. Namun, penulis hanya ini mengajak para pembaca berkaca. Sebenarnya, sudah cukup kiranya berbagai bencana yang ada menyadarkan kita sebagai seorang hamba. Sebagaimanapun hebat kekuatan manusia, ada Sang Penguasa Alam yang Maha menguasai segala dan mampu menghancurkan segalanya dalam kedipan mata. Inilah yang nampak dalam duka gempa Palu. Bagaimana kemudian seseorang menyaksikan keluarganya tertimbun tanah dalam hituhan detik di depan matanya tanpa bisa melakukan apa-apa. Bagiamana harta, rumah keluarga yang sangat dicintai bisa menghilang tanpa kuasa.

Sesungguhnya gempa, angin, gerhana dan fenomena alam lainnya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini diperlihatkan kepada kita agar kembali ingat kepadaNya sebagai Tuhan kita. Bahwa ada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang maha Menciptakan dan mengatur seluruh alam semesta beserta isinya.

Ingatlah kita bahwa perbuatan maksiat akan mengundang murka Sang Pencipta, Allah Subahanu wa Ta’ala. Tahukah kita, gempa di Palu ini  bersamaan tepat setelah dibukanya Pesta Lomoni yang  digelar di pantai Palu. Menurut beberapa sumber, dalam pesta tersebut akan dipamerkan ritual adat suku Kaili. Dalam pelaksanaannya, ritual dipimpin oleh seorang dukun atau tetua yang disebut Tina Nu Baliya. Sehingga dari pesta tersebut kenthal sekali dengan kesyirikan. Dari sini, bisa jadi Sang Pencipta Alam murka dengan kemaksiatan yang ada. Bukankah bagaimanapun, analis ilmiah dijadikan hujjah tentang penyebab terjadinya suatu bencana tetap ada yang menggerakkan hal itu terjadi dan ada Dzat Yang Maha Menguasa alam semesta, sedangkan manusia begitu kecil di hadapanNya.

Gempa bumi adalah peringatan dari Allah bukan kehendak alam. Al –Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata,” Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu munculah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkanb diri padaNya, dan penyesalan pada diri hamba-habaNya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama salaf ketika terjadi gempa bumi, sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat”(Miftah Daaris Sa’adah, 2/630).

Sejarah kaum-kaum terdahulupun sudah banyak memberikan contoh seperti  kaum ‘Ad, Tsamud, kaum fir’aun dan lainnya. Bahwa hakikat bencana terjadi karena perbuatan maksiat yang dilakukan manusia. Hal ini sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan dalam Al-Qur’an:

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami adzab karena disebabkan dosanya. Maka diantara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kepadanya, dan dianatara mereka ada yang kami siksa dengan suara keras yang mengguntur, dan dianatar mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah tidaklah sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri-diri mereka sendiri.”(TQS: Al-Ankabut:48)

Oleh karenanya, kita sebagai hamba harus tunduk, menjalani kehidupan sesuai dengan  syariatNya, dan berusaha semamksimal mungkin menjauhi segala kemaksiatan yang membuat datang murkaNya. Karena segala yang ada datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.