Haji Cermin Persatuan Umat Islam

Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia kembali melaksanakan ibadah haji pada tahun ini. Allah SWT di dalam Al Qur’an menjelaskan banyak manfaat yang bisa diambil oleh umat Islam dalam ibadah haji:

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka..

Ada beberapa poin penting yang terkandung dalam ibadah haji yaitu:

Pertama adalah tauhid. Inilah poin terpenting dari Ibadah haji. Ibadah haji merupakan cerminan ketundukan kepada Allah SWT semata, satu-satunya Dzat yang berhak disembah oleh manusia. Sebagaimana firman-Nya di dalam Al Qur’an :

“Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk Ibrahim dengan menyatakan ; ‘Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apapun dan sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, beribadah, ruku dan sujud”’ [Al-Hajj : 26].

Kedua adalah ketaatan kepada Allah SWT. Atas dasar penghambaan semata kepada Allah SWT inilah muncul kewajiban ketaatan kepada-Nya berupa ketertundukan kepada hukum-hukum Allah SWT (syariah Islam). Menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang disembah, juga berarti menjadikan hukum Allah semata yang wajib ditaati. Islam dengan tegas menyatakan hak membuat hukum ada di tangan Allah SWT: inil hukmu illa lillah (QS Yusuf : 40). Dalam tafsir al Baghawi dijelaskan al hukmu itu berupa peradilan, syariat, hukum (al qadhau), perintah (al amru) dan larangan (an nahyu).

Ketaataan semata kepada hukum Allah SWT tampak dalam serangkaian rukun haji. Umat Islam seluruh dunia berkumpul pada waktu yang ditentukan yaitu di bulan dzulhijjah dengan mengenakan pakaian ihram berwarna putih tanpa jahitan. Tidak ada  satu pun yang berani memakai pakaian berwarna apalagi bermotif. Saat thawaf, semua serempak memutari Ka’bah dengan gerak berlawanan arah jarum jam. Selanjutnya ketika sa’i semua jamaah berlari-lari kecil  tujuh kali bolak balik dari bukit Shafa ke Marwa dan sebaliknya. Semuanya taat, tidak ada yang menambah atau menguranginya apalagi merubah rutenya. Termasuk wukuf sebagai rukun utama. Semua jamaah berwukuf di ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dengan menyerukan seruan yang sama, yakni bacaaan talbiah, tahlil, tahmid, takbir, dzikr dan doa. Demikian pula saat melontar jumrah   dan amalan-amalan lainnya  semuanya tunduk. Semuanya dilakukan karena ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Namun sayangnya hingga hari ini ketaatan kita terhadap hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya terbatas saat ibadah haji saja. Padahal kita diperintahkan untuk taat kepada seluruh perintah-Nya, dimanapun dan kapanpun. Faktanya, ketika kita kembali ke tempat masing-masing kita kembali bergumul dan taat pada hukum-hukum kufur, ekonomi kapitalistik, budaya hedonis, dan politik sekuler.

Dari ketaatan kepada hukum-hukum ibadah haji tersebut kita merasakan ketentraman dan keteraturan. Tenteram karena saat itu para jamaah senantiasa berdzikir kepada Allah bukan hanya lisan tapi juga gerak tubuhnya. Sementara keteraturan merupakan buah ketaatan kepada Allah SWT. Lihatlah saat thawaf mengelililngi baitullah, meskipun dalam jumlah yang massif, karena geraknya sama, muncullah keteraturan. Bayangkan jika saat thawaf, setiap orang bergerak menurut kehendak dirinya sendiri, hawa nafsunya, pastilah muncul kekacauan. Demikian juga di luar ibadah haji, ketaatan kepada hukum Allah dalam ekonomi, politik, dan ketatanegaraan, pasti akan berbuah keteraturan.

Ketiga adalah persatuan umat dan ukhuwah Islamiyah. Ketaatan kepada hukum Allah menghasilkan persatuan dan persaudaraan umat Islam. Saat menunaikan ibadah haji semuanya menggunakan pakaian ihram yang sama dengan  melepaskan atribut-atribut fisik yang selama ini membedakan seperti pangkat dan kemewahan berpakaian. Seluruh jamaah haji wukuf di Arafah pada saat yang sama, ditempat yang sama, dimana jutaan manusia berkumpul, tanpa dihalangi oleh ras, warna kulit, kebangsaan, yang selama ini telah mengkotak-kotakkan umat Islam. Hal itu semua karena ketaatan kepada hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain ketiga hal di atas masih ada dua poin penting yang terkandung dalam ibadah haji. Namun pada kondisi saat ini hal tersebut tidak nampak, yaitu:

Pertama mengenai ri’ayah dan muhasabah. Semasa Rasulullah dan kekhilafahan musim haji menjadi momentum umat Islam untuk bertemu dengan kepala negara mereka, sekaligus menyampaikan pengaduan dan koreksi (muhasabah). Sebaliknya para khalifah juga bertanya kepada mereka tentang hal ihwal para wali yang diangkatnya secara langsung dari masyarakatnya.

Khalifah Umar bin al-Khatthab memanfaatkan momentum haji untuk bertanya kepada para delegasi haji ihwal walinya yang diangkat untuk melayani kepentingan mereka. Mereka pun bisa mengadukan apa saja yang hendak mereka adukan kepada sang khalifah. Umar pun mengumpulkan para walinya dari berbagai wilayah pada musim haji. Bahkan Umar pun pernah menghukum putra Amru bin ‘Ash di musim haji, karena perlakuannya terhadap seorang qibtiy di Mesir. Beliu berkata kepada ‘Amru Bin ‘Ash: “sejak kapan Anda memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka

‘Atha Ibnu Abi Rabâh pernah menasihati ‘Abdul Malik Ibnu Marwan di musim haji: “Wahai Amîrul Mukminîn, bertakwalah kepada Allah SWT, dalam hal perlakuan Anda terhadap anak-anak kaum Muhajirin dan Anshar, bertaqwalah kepada Allah SWT dalam hal perlakuan Anda terhadap para penjaga perbatasan, perhatikan urusan kaum Muslimin, karena Andalah yang akan diminta pertanggungjawaban atas urusan-urusan mereka, jangan biarkan orang-orang yang ada di depan pintu rumahmu…….” Setelah ia selesai menyampaikan nasihatnya, Khalifah pun berdiri dan berkata: “Aku sudah lakukan itu semua”, lalu ia memegang tangan ‘Atha dan berkata: “Dari tadi engkau hanya memperhatikan urusan orang lain, sekarang apa kebutuhanmu..? ‘Atho menjawab: “Saya tidak perlu bantuan seorang makhluk”, lalu ia keluar.

Kedua Pendidikan dan Dakwah. Sebelum Daulah Islam berdiri, Rasulullah SAW menyeru kabilah-kabilah Arab yang datang ke Mekah di musim haji demi meraih nushrah. Beliau mendatangi Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanîfah, Bani ‘Amir Bin Sha’sha’ah, Muhârib, Fazârah, Ghasân, Murrah, Sulaim, ‘Abbas, Bani Nadhar, Bani al-Bukâ‘, ‘Adzarah, Rabî’ah, Bani Syaiban, al-hadhôromah, dll. Di antara seruan Rasulullah SAW kepada kabilah-kabilah itu: “Apakah ada di antara kalian, yang membawaku kepada kaumnya, sungguh orang-orang Quraisy telah mencegahku untuk menyampaikan kalamullah?” (HR. Ahmad dari Jabir Ibnu ‘Abdillah).

Begitupun para khalifah setelahnya. Umar Ibnu ‘Abdil Aziz dalam penutup suratnya yang ditujukan kepada orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, menyatakan: “Seandainya aku tidak khawatir dapat menyibukkan kalian, niscaya aku deskripisikan -serinci-rincinya- perkara yang akan menghidupkan diri kalian dan yang akan membuat hati kalian mati”.

Dulu musim haji juga dijadikan sarana untuk belajar dan meminta fatwa kepada para ulama, dengan bimbingan para khalifah. Sebagai contoh, bimbingan itu ditunjukkan oleh Khalifah ‘Abdul Malik Bin Marwan, agar orang tidak sembarangan meminta fatwa kepada orang lain. Ia menyatakan: “Tidak seroang pun memberi fatwa –di musim haji ini- kecuali ‘Atho Ibnu Abi Rabah, Imam, ‘alim dan faqih ahli Mekah”.

Kedua poin terakhir hanya bisa terwujud pada saat seluruh umat Islam bersatu dalam institusi negara yang meniadakan sekat nasionalisme. Negara itu dikenal dalam fiqih sebagai Daulah Khilafah. Jika saat ibadah haji umat Islam bisa bersatu, karena taat kepada hukum Allah SWT sesungguhnya di luar itu juga kita bisa bersatu. Tentu dengan kunci yang sama, ketaatan kepada Allah SWT.  Kewajiban mengangkat satu pemimpin dalam Islam, yakni Kholifah, akan menyatukan umat Islam secara politik. Kewajiban berjihad melawan penjajah yang menduduki wilayah umat Islam di manapun itu, akan menyatukan umat Islam memerangi penjajah. Kewajiban menjalankan syariat Islam dalam ekonomi, akan menyatukan potensi kekayaan umat Islam untuk kesejahteraan kaum muslimin. Disinilah relevansinya kita membutuhkan khilafah. Dengan khilafah akan muncul satu kepemimpinan Islam yang menerapkan seluruh syariah Islam yang berbuah keteraturan. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.