Guru Honorer di Zaman Rezim Sekuler

85

Media televisi kembali bungkam tak bersuara ketika terjadi aksi yang dilakukan oleh beberapa guru honorer di depan Istana. Demo ini dilakukan untuk menuntut agar mereka diangkat sebagai PNS. Seperti yang dilansir dalam Detik.news (30/10/2018) yang menyatakan bahwa guru honorer dari berbagai daerah berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta. Mereka meminta presiden untuk menaikan statusnya menjadi PNS, dalam aksi ini para guru honorer membawa atribut seperti poster dan spanduk yang salah satunya bertuliskan “PNS Yes- PPPK No”.   Tetapi mereka merasakan kepahitan karena aksi yang mereka lakukan bertujuan untuk menuntut pemerintah karena abai terhadap mereka, bahkan para aksi bermalam di seberang Istana beratapkan langit dan beralaskan aspal. Sungguh amatlah menyedihkan, dimana guru sudah rela berjuang untuk mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa tetapi nasib mereka tak dipedulikan. Inilah fakta yang terjadi pada negeri ini. Lebih parahnya lagi nasib yang dialami guru swasta di sekolah pinggiran-pinggiran yang rata-rata hanya digaji antara Rp 20.000 – Rp. 50.000 perjam. Ada pula yang hanya memperoleh gaji Rp 350.000 per bulan. Jumlah yang mat sedikit dan jauh dari kategori sejahtera, dimana kebutuhan pokok saat ini juga semakin mahal. Imbalan yang tidak seimbang dengan pengabdian mereka dalam mendidik dan menyiapkan generasi yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini. Perlu kita pahami juga kenapa masih ada guru honorer atau guru swasta? Hal ini memang terjadi karena jumlah guru PNS belum bisa memenuhi kebutuhan sekolah-sekolah di Indonesia. Sehingga bisa dibayangkan jika tanpa adanya guru honorer atau guru swasta akan banyaknya anak-anak di negeri ini yang tidak sekolah dikarekan kurangnya jumlah pendidik yang tidak terpenuhi. Untuk itu, guru honorer atau guru swasta amatlah berperan penting, akan tetapi peran mereka dalam mencetak generasi tidak diapresiasi oleh pemerintah dengan penghargaan atau imbalan yang setimbal dengan perjuangan mereka. Dimana mereka yang seharusnya menempati posisi terhormat karena keluhuran profesi yang justru sampai saat ini belum mendapatkan perlakuan yang layak.

Penghormatan Guru dalam Islam

Padahal dimasa kejayaan islam, guru amatlah dihormati baik oleh negara dan masyarakat. Guru dalam pendidikan muslim amatlah dihormati, para pelajar muslim juga memberikan perhatian yang lebih kepada gurunya. Tercatat dalam sebuah sejarah Negara begitu menghormati dan perhatian terhadap profesi guru. Perhatian daulah diwujudkan terhadap guru diwujudkan dalam bentuk mencukupi kebuthan anak-anak guru. Kebutuhan pokok dan biaya sekolah ditanggung oleh pemerintah sehingga kehidupan mereka terjamin dan nyaman. Pada masa Daulah Abbasiyah, tunjangan terhadap guru begitu tinggi seperti yang diterima oleh Zujaj pada masa Abasiyah. Pada setiap bulannya Zujaj mendapat gaji 200 dinar. Pada masa Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi guru di Madrasahnya setiap bulan digaji 40 dinar dan 10 dinar (1 dinar hari ini setara dengan Rp. 2.200.000,00) selain itu juga diberikan 60 liter roti tiap harinya dan air minum segar. Begitu juga pada masa Khalifah Umar Bin Khattab memberikan gaji pada guru masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Dinar merupakan mata uang yang terbuat dari bahan logam mulia emas. Mata uang yang terbuat dari emas sepanjang sejarah tidak akan mengalami inflasi. Jika mata uang ini dikalkulasikan pada saat ini  dimana harga emas sekitar Rp. 500.000 sehingga gaji guru sekitar Rp. 31.875.000. Sungguh amatlah tinggi, dan jelas gaji sebesar ini akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tentunya ini tidak memandang status guru tersebut PNS ataupun honorer. Terlebih bersertifikasi atau tida, yang terpenting adalah profesinya guru akan memperoleh hak yang sama tidak ada perbedaan.

Inilah pemerintahan islam ketika diterapkan secara menyeluruh, maka rahmat dari Allah akan begitu dirasakan oleh seluruh umat. Dan tentunya sangatlah berbeda dengan  sistem pemerintahan sekuler yang saat ini diterapkan justru yang ada hanyalah kesengsaraan. Maka kita tidak akan pernah merasakan pendidikan yang murah dan bermutu karena dalam sistem ini hanya mementingkan keuntungan saja.  Apalagi jika ingin mencapai kesejahteraan guru, itu hanya bagaikan mimpi di negeri dongeng. Untuk itu sudah saatnya kita kembali pada sistem pemerintahan islam yang jelas begitu memperhatikan pendidikan dan mampu memuliakan profesi guru. Karena islam rahmatan lil’alamin yang akan memberikan rahmat pada semua umat. Wallahu a’lamu bish-showaab.

Oleh : Ilma Kurnia P (Pemerhati Generasi, Aktivis Revowriter)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.