Generasi Rusak Maksiat Merebak

120

Anak merupakan karunia dan hibah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua dan sekaligus perhiasan dunia, serta belahan jiwa yang berjalan di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan”. [Al Kahfi:46].

Namun kini kecanggihan teknologi digital telah merubah harapan harapan itu. Bak dua mata pisau, fungsi teknologi yang tidak diimbangi dengan kecanggihan pola berfikir penggunanya, ternyata bisa mengakibatkan kerusakan pada generasi. Seperti temuan sebanyak 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil, grup Whatsapp “All Stars” yang beranggotakan 24 siswa siswi SMP satu sekolah di Cikarang, yang saling berbagi video porno dan ajakan berhubungan badan, kemudian grup Facebook gay siswa SMP/SMA di Garut yang beranggotakan lebih dari 2600 orang.

Mereka melakukan prilaku asusila dengan menggunakan fasilitas media digital untuk memuaskan syahwatnya mencari kesenangan. Ambisi untuk pemenuhan eksistensi dalam pergaulan dengan cara yang salah, halal dan haram tidak menjadi pertimbangan.

Sejatinya media digital adalah produk barat yang sarat dengan hadhoroh barat yang tidak sesuai dengan Islam. Kurangnya perhatian orang tua dan kontrol masyarakat menjadi faktor semakin suburnya kerusakan generasi Islam.

Sistem kapitalisme sekuler menjadi penyebabnya persoalan ini. Sistem sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan, telah melahirkan krisis multidimensional dalam segala aspek kehidupan karena telah melahirkan generasi rusak yang gemar berbuat maksiat. Masyarakat sulit melakukan kontrol sosial karena  prilaku penyimpangan sering kali mendapatkan perlindungan. Padahal setiap kita diperintahkan menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar untuk mencegak kerusakan.

“Barang siapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan tanganmu, jika tidak bisa maka dengan lisanmu, jika tidak bisa maka dengan hatimu dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)

Perlindungan HAM (Hak Asasi Manusia) menjadi masalah dalam pembenahan prilaku yang menyimpang. Usaha masyarakat dalam membenahi prilaku asusila sering berbenturan dengan kepentingan HAM, sehingga dianggap pelanggaran. HAM dalam demokrasi sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, walaupun kebebasan berekspresi kebablasan yang menimbulkan kerusakan dan melanggar syari’at.

Tentu sistem sekuler tidak akan mampu menyelesaikan masalah prilaku asusila dikalangan  remaja, termasuk menyelesaikan pergaulan bebas secara tuntas. Bahkan kebijakan-kebijakan sistem sekuler hanya akan menjadi bom waktu yang siap untuk menghancurkan peradaban manusia. Seperti dalam pendidikan saat ini, pendidikan yang tidak berkorelasi dengan paradigma berfikir tentang tujuan kehidupan manusia, yaitu sebagai khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab untuk memakmurkan bumi. Pendidikan agama di sekolah diharapkan menjadi benteng prilaku maksiat, namun kenyataannya pendidikan agama diajarkan hanya sekedar untuk ilmu pengetahuan dalam mengejar nilai saat ujian, bukan untuk aplikasi dalam kehidupan.

Padahal pendidikan dalam islam diarahkan untuk mencetak generasi tangguh yang berkepribadian Islam. Yaitu manusia yang faham sebagai hamba Allah yang memiliki kewajiban untuk selalu taat dengan syari’at. Sehingga manusia akan menjauhi prilaku menyimpang yang menimbulkan kerusakan. Selain itu pendidikan juga diarahkan untuk memahami tsaqofah Islam, dilengkapi dengan kecakapan sains dan teknologi yang mumpuni sebagai bekal kehidupannya di dunia.

Islam adalah agama yang lengkap, yang mengatur semua aturan hidup manusia termasuk dalam pendidikan. Pendidikan dalam Islam telah menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang mumpuni dalam agama dan tersohor di dunia dalam karya-karyanya yang masih digunakan sampai saat ini.

Al-Khawarizmi, dalam pendidikan telah dibuktikan bahawa al-Khawarizmi adalah seorang tokoh Islam yang berpengetahuan luas. Pengetahuan dan keahliannya bukan hanya dalam bidang syariat tapi di dalam bidang falsafah, logika, aritmatika, geometri, musik, ilmu hitung, sejarah Islam dan kimia. Dia juga dikenal sebagai penemu angka 0, penemu teori persamaan trigonometri (sin, cos, tan), penemu al jabar.

Abu al-Qasim Abbas bin Firnas, seorang ilmuan Islam yang melakukan terobosan dan eksplorasi pertama dalam dunia kedirgantaraan, melakukan riset tentang dunia penerbangan, fisikawan, kimiawan, teknisi, musisi Andalusia, penyair, ia amat perhatian dengan matematika, ilmu falak, fisika.

Umar Khayyam, dikenal sebagai ilmuwan cerdas di bidang matematika, astronomi, sastra, mampu memodifikasi perhitungan kalender 365 hari dalam satu tahun.

Ibnu Al Haitham seo­rang yang amat mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, pengobatan, dan falsafah. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler, mencipta mikroskop serta teleskop. Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemui pelbagai data penting mengenai cahaya.

Ibnu Khaldun, sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan, dikenal sebagai bapak sosiologi, menguasi berbagai ilmu Islam klasik seperti filsafat, tasawuf, dan metafisika, ilmu politik, sejarah, ekonomi serta geografi.

Itulah beberapa bukti nyata hasil dari pendidikan dalam Islam, manusia tidak hanya diajarkan untuk mengejar kepuasan demi kebahagiaan dunia, namun kepentingan akhirat menjadi tujuan utama. Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, sudah seharusnya mangambil Islam untuk mengatur sistem pendidikan di Indonesia, untuk mengembalikan peran generasi untuk turut berkontribusi dalam mensejahterakan bangsa dan mewujudkan baldatun thoyyibatun wa rabbhun ghofur agar meraih ridho Allah.

“Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. [al-A’râf/7:96]. Wallahu a’lam

Oleh: Nur Hasanah (IRT, Pemerhati Masalah Anak)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.