Generasi Gemilang, Bukan Generasi Malang

image from google

oleh: Rini Nur Adniatini, S.pd.(Aktivis Dakwah Islam)

Sejarah mencatat peradaban pemuda sangatlah penting bagi suatu kebangkitan, salah satunya seorang pemuda yang berusia 21 tahun mampu menaklukan Konstantinopel dialah Muhammad Al-Fatih. Lalu bagaiman dengan pemuda generasi saat ini?

Mirisnya, beberapa hari yang lalu sebuah berita yang mencengangkan yaitu tentang remaja yang membunuh bayinya sendiri dengan alasan belum siap nikah dan punya anak. Bayi tersebut tewas di toilet RSUD Beriman, Kalimantan setelah mulutnya disumpal tisu toilet dan tali pusarnya dicabut. Setelah tewas, jasad bayi dimasukkan ke dalam kantong plastik dan berencana membuangnya di luar, namun aksinya diketahui petugas rumah sakit saat hendak melarikan diri (news.okezone.com 28-07-2019).

Inilah potret remaja generasi saat ini, mereka berani berbuat tetapi tidak siap bertanggung jawab. Sekulerime ( pemisahan agama dari kehidupan) yang tertanam di generasi saat ini memberi ruang kebebasan pada remaja sehingga mereka berbuat sekehendaknya. Padahal dalam islam manusia diberikan aturan oleh Allah SWT dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Allah SWT memberikan aturan tersebut semata-mata agar manusia bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat bahkan Allah SWT menurunkan seorang utusan yang menjadi uswatun hasanah( teladan yang baik) yaitu Nabi Muhammad SAW

Dalam membentuk sebuah generasi gemilang diperlukan peran keluarga, masyarakat maupun negara. Dalam keluarga dibutuhkan orangtua yang mampu mendidik anaknya bukan hanya pintar tetapi mampu mendidik anak menjadi anak- anak yang shalih/ shalihah. Peran masyarakat adalah kontrol masyarakat terhadap remaja saat ini. Setiap individu harus beramar ma’ruf nahi munkar dan hal tersebut merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk saling mengingatkan agar tercipta lingkungan yang islami.

Dan peran negara adalah sebagai pengatur dan perisai sebagaimana dalam HR. Muslim “ Imam itu bagaikan perisai, dari belakangnya umat berperang dan denagnnya umat berlindung”. Namun bagaimana peran negara saat ini?

Kasus LGBT pada remaja, pergaulan bebas, pelecehan terhadap guru dan lain sebagainya masih menjadi PR pemerintah ini. Baru- baru ini ada berita yang dilansir dari detik.com 13 Juli 2019 bahwa Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan  yang mangabulkan grasi terpidana kasus pencabulan siswa Jakarta Intercultural School (JIS). Ini membuktikan bahwa negara abai terhadap permasalahan remaja saat ini,bukannya memberikan hukuman yang berat kepada pelaku pencabulan malah memberikan grasi.saat ini umat butuh pemimpin yang mampu menyelesaikan berbagai  masalah pada remaja.

Islam memiliki sistem yang mampu melindungi remaja dari kemaksiatan dan mendidik mereka untuk siap bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya terlebih lagi mampu bertanggung jawab dihadapan Allah SWT kelak di akhirat. Islam merupakan problem solving dari setiap permasalahan yang ada. Hendaknya setiap muslim sama-sama berjuang untuk mengembalikan sistem islam yang mampu mencetak generasi yang gemilang  dan menerapkan syariat islam secara kaffah.

 Wallahu’alam bishawab       

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.