Generasi Alay Generasi Terabai

Oleh: Desi Dian Sari (Mahasiswa Universitas Merdeka Malang)

Tetew… tetew.. musik berdendang, anak alay bergoyang. eksisme kini menjadi kebutuhan generasi Indonesia. Terlihat dengan berlombanya generasi kita untuk menjadi terkenal di semua lini sosial media. Tak heran kemudian muncul sebutan selebgram, youtuber ataupun vloger. Semua orang berlomba membuat foto maupun video agar menjdai viral dan terkenal.

Baru-baru ini sosial media dihebohkan dengan munculnya  anak perempuan bernama Nuraini yang mengaku istri sah seorang artis. Dengan bergaya tanpa malu,  menjelek-jeleknan mimik muka ia berhalusinasi seolah ia adalah istri sah artis ibu kota. Ia pun menjadi viral dan terkenal hingga kemudian diundang acara reality show sebuah stasiun televisi.

Tak berselang lama, netizen juga dibuat geleng kepala sebab viralnya postingan para fans garis keras bowo. Bowo ialah Bocah 13 tahun yang digandrungi para remaja ABG sebab viralnya video musikali yang ia buat di aplikasi tik tok. Para fans yang mengatakan rela menjual ginjalnya  demi menghadiri acara meet and greet dengan tarif Rp.80 ribu. Adapula yang mengatakan ingin membuat agama dengan Bowo sebagai Tuhannya.

Fenomena-fenomena lahirnya generasi alay yang kehilangan identitas diri dan terjerumus kepada fanatik buta adalah dampak dari penerapan sistem sekuler dan gaya hidup bebas tanpa aturan agama. Generasi yang jauh dari nilai agama dan tak kenal figur yang layak dijadikan panutan akhirnya mencari sendiri figuritas sesuai standar yang mereka miliki. Standar yang dimaksud disini tak lain adalah kesenangan dunia.

Lihat saja aktifitas generasi kita yang waktunya dihabiskan untuk  bermain game ataupun sosial media, hanya mengenal selebgram atau youtuber yang condong memperlihatkan kehidupan hedonis dan bebas ala mereka. Hal inilah yang kemudian memunculkan fanatik buta kepada profil figur sang idola.

Liberal, Tanpa batas

Setelah dilaporkan berbagai pihak, aplikasi tik tok yang mengantarkan Bowo dan Nuraini menjadi viral itu akhirnya diblokir oleh kominfo (bbc.com 3 juli 2018).  Namun sayangnya tak bertahan lama, aplikasi buatan tirai bambu itu kemudian bisa diakses kembali dengan beberapa persyaratan tertentu (tribunnews.com 4 juli 2018).

Disini nampak pengabaian dan lemahnya kontrol penguasa dalam menjaga generasi muda dari kerusakan pemikiran dan pergaulan. Tak lebih dari 24 jam aplikasi yang disinyalir penuh konten porno dan kekerasan kembali dibuka.

Faktanya, di rimba kapitalis yang sangat liberal tanpa memperdulikan norma agama sudah banyak jatuh korban di generasi muda saat ini.  Bukan Cuma alay di media sosial, tapi juga bejat di dunia nyata.  Mau sampai kapan kita biarkan generasi yang lost control dan terabaikan seperti demikian?

Pondasi  Penyelesaian

Bermunculannya generasi alay adalah bentuk dari kemunduran berpikir dan rendahnya akhlak di tengah kaum muslimin. Lemahnya taraf berpikir umat hari ini, menyebabkan mereka tidak lagi menguasai pemikiran Islam dan seluruh aturannya , termasuk akhlak. Akhlak  sendiri adalah bagian dari syariat Islam. Bagian dari perintah Allah dan laranganNya. Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna  pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Namun untuk merealisasikannya di tengah-tengah masyarakat secara utuh, maka tidak ada jalan lain kecuali dalam mewujudkan perasaan-perasaan Islami dan pemikiran-pemikiran Islam.  Setelah semua itu terwujud di tengah masyarakat  maka pasti akan terbentuk pula akhlak di diri individu.

Berbeda dengan moral, akhlak dilandasi oleh iman Islam. Sehingga seseorang berakhlak mulia, seperti punya rasa malu, jujur dll dikarenakan hal itu diperintahkan Allah.  Atau meninggalkan akhlak tercela seperti bersikap yang merendahkan muru’ah (kehormatan) dll , semua karena Allah telah mencelanya.  Sehingga keluhuran akhlak betul-betul kuat membentuk dan menghiasi kepribadian seorang muslim, bukan karena puja dan puji manusia yang dikejar. Dalam sistem Kapitalis mungkin moral yang ditekankan, tapi itu berlandaskan manfaat. Maka otomatis moral bisa dikalahkan oleh ‘kepentingan’ yang lebih menguntungkan.  Liat saja munculnya seleb-seleb baru di sosmed yang urat malunya ‘sudah putus’ , tidak perduli pandangan dan kritikan masyarakat. Sing penting viral dan dapat endrose ! Astaghfirullah.

Diperlukan  sistem Islam yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara formal, sehingga pemikiran dan perasaan Islamy bisa melekat kuat pada masyarakat tersebut.  Tanpa itu, moral apalagi akhlak hanya menjadi ‘angan-angan’ terwujud di generasi muda dan masyarakat.   Sebab akhlak adalah hasil dari pelaksanaan perintah-perintah Allah SWT, yang dapat dibentuk dengan cara mngajak masyarakat kepada akhidah dan melaksanakan Islam secara sempurna. Sungguh memperjuangkan Islam sebagai sebuah ‘way of life’ menjadi sangat urgen sekarang.

Karena Nabi  Muhammad saw membawa risalah untuk memperbaiki manusia,  Beliau bersabda :

“ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan Akhlak “ (HR. Ahmad). Wallahu’alam bishowab []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.