Ganyang LBGT, Negara Tidak Boleh Kalah

201

 

ganyang lgbt

Oleh: Achmad Fathoni 

Pengamat sosiologi, Musni Umar menegaskan lesbian, gay, biseksual, dan trangender (LGBT) sejatinya adalah musuh seluruh bangsa Indonesia termasuk partai-partai politik. Musni Umar membeberkan alasan teologis, bahwa dalam Alqur’an disebutkan kaum Nabi Luth dimusnahkan karena melakukan hubungan seksual sesame jenis seperti yang dilakukan LGBT.

Selain itu, alasan ideologis. Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai pasal 29 ayat (1) berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa adalah agama. Musni mengatakan bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam mengharamkan perkawinan sejenis. Begitu juga agama-agama lain di Indonesia. “Atas dasar itu, maka partai-partai politik tidak boleh melegalkan LGBT karena bertentangan dengan ajaran Agama yang merupakan pilar sila pertama dari Pancasila,” Ujarnya, Jakarta, Senin (22/1) seperti di lansi dari laman suara merdeka.

Memang patut disayangkan sikap partai-partai yang duduk di dewan, yang berencana melegalkan LGBT, yang merupakan kejahatan kemanusiaan yang besar dalam pandangan Islam. Namun demikian perlu juga dipahami oleh publik bahwa polemik LGBT ini tidak murni kejahatan LGBT itu sendiri, tetapi ini merupakan skenario global negara-negara Barat dalam melakukan perang budaya di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Dan publik juga telah mengetahui bahwa dalam hal ini Indonesia dalam cengkeraman dan hegemoni negera-negara Barat, sehingga tidak bisa berbuat banyak dalam melawan polemik LGBT tersebut, bahkan justru cenderung memberi “lampu hijau” dan “angin segar” terhadap eksistensi LGBT.

Hal itu diperkuat dengan data bahwa dalam dokumen UNDP PBB, ada program pro LGBT bernama The Being LGBT in Asia Phase 2 Initiative (BLIA-2). Program ini didukung Kedubes Swedia di Bangkok, Thailand, dan USAID. Sasaran program BLIA-2 adalah Cina, Indonesia, Filipina, dan Thailand. Proyek BLIA-2 tersebut berlangsung tahun 2014-2017 dengan dana senilai 8 juta dolar AS (Republika, 12/02/2016). Dokumen asli program tersebut berjudul “Being LGBT In Asia” di situs www.asia-pacific.undp.

Data lain yang memperkuat bahwa rezim negeri ini justeru mendukung gerakan LGBT adalah bahwa Komnas HAM telah mengakui komunitas LGBT lewat Pernyataan Sikap Komnas HAM pada 4 Februari 2016, LGBT oleh Komnas HAM dianggap legal dengan dalih HAM sesuai pasal 28 UUD 1945. Peraturan Menteri Sosial nomor 8 tahun 2012 terkait kelompok minoritas, menyebut adanya gay, waria, dan lesbian. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 27 tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Kerja tahun 2015 yang memasukkan gay, waria, dan lesbian ke dalam peraturan tersebut. Begitulah fakta sebenarnya gerakan LBGT di Indonesia telah menyasar ke dalam kebijakan negara.

Melihat fakta yang sangat memprihatinkan tersebut, maka tentunya publik, terutama umat Islam harus menolak keras gerakan LGBT tersebut. Dan harus melakukan upaya yang maksimal dalam menghadang laju gerakan LGBT tersebut. Langkah kongkretnya adalah umat Islam harus membangun kekuatan politik Islam yang besar untuk menandingi konspirasi global negara-negara Barat melalui gerakan LGBT tersebut. Kekuatan politik Islam tersebut hanya bisa diwujudkan dalam sistem Khilafah Islam.

Oleh karena itu semua elemen bangsa ini tidak boleh tinggal diam dan membiarkan gerakan LGBT menghancurkan harkat dan martabat negeri ini, yang merupakan negeri Muslim terbesar di dunia. Satu-satuntya cara yang paling ampuh dalam melibas dan meganyang gerakan LGBT adalah dengan Islam. Implementasinya adalah dengan menerapkan Islam secara komprehensif dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Dalam konsep Islam, para ulama’ telah membahas secara mendalam tentang LGBT. Dalam bahasa Arab, Lesbi ini diistilahkan dengan kata ‘sihaaq’. Sedangkan untuk homoseksual/gay diistilahkan dengan kata ‘liwaath’. As-Sihaq dan Al-Musaahaqah menurut bahasa dan istilah adalah perbuatan keji yang dilakukan perempuan dengan perempuan satu sama lain. Begitu juga perbuatan kebiri (majbub) yang dikerjakan perempuan, dimakan sihaaq (sumber: Kitab Asy-Syarh Al-Kabir, 4/316. Lihat juga Lisaanul Arab dan Qamus Al-Muhith, tentang lafadz: sa-ha-qa). Menurut ulama’ lain, “ As-sihaaq (perbuatan keji) yang dikerjakan perempuan dengan perempuan. Maka mereka dihukum dengan kesaksian empat orang laki-laki di antara kalian. Jika mereka semua bersaksi, maka pelaku lesbi ini hendaknya dipenjara di dalam rumah (tahanan rumah), ia diletakkan sendirian dengan jarak yang jauh dari tempat penjara pasangan lesbinya, hingga wafat (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 2/405. Daar Al-Kitab Al-Arabi)

Dalam Islam, hukuman bagi pelaku Lesbi (sihaaq) ini terkategori hukuman ta’zir (diserahkan keputusannya kepada khalifah) berdasarkan ijtihadnya. Dalam hal ini, hukuman ta’zir yang banyak disebutkan ulama’ adalah hukuman berupa tahanan rumah. Hukuman tersebut berlaku hingga akhir hayatnya, kecuali ia bertaubat dan menikah dengan normal (Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, 13/185; Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 2/405). Sebagian Ulama’ Salaf memandang hukuman bagi pelaku lesbi (sihaaq) ini dengan jilid (cambuk) sebanyak 100 kali, sebagaimana penuturan Ibn Syihab. Adapun menurut salah satu pendapat Syafi’iyah, mereka dihukum setara hukuman had terendah, yakni had bagi peminum khamr, sebanyak 40 kali cambuk (Ibn Hazm, Al-Muhalla, 12/404; Mushthafa Al-Bugha, At-Tadzhib, 1/208).

Sedangkan Homoseksual, yang dalam bahasa Arabnya liwath. Liwath ini juga termasuk kejahatan yang besar, karena dalam hukum Islam pelakunya diberlakukan sanksi hukuman bunuh/hukuman mati. Sebagaimana diterangkan dalam hadist Nabi SAW: “Siapa saja yang kalian temui melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya” (HR. Al-Khamsah, kecuali An-Nasa’i).

Jelas sekali tidak ada perbedaan pendapat tentang keharaman perilaku homoseksual dan lesbi ini. Keduanya adalah tindakan kriminal, yang pelakunya baik si subjek maupun objek, jika mereka melakukan perbuatan tersebut secara sadar dan atas pilihan sendiri, perbuatan mereka pantas untuk dikenai hukuman. Tindakan ini semata-mata merupakan penjagaan Islam dari penyimpangan perilaku yang muncul di tengah-tengah umat. Pertanyaannya, siapa yang akan menegakkan aturan ini? Jawabannya adalah negara Khilafah Islamiyah dan wajib atas semua umat Islam mewujudkan pemerintahan yang akan menegakkan aturan tersebut. Sehingga problem LGBT dan problem-problem lain yang sistemik dan kompleks akan dengan mudah diselesaikan oleh Khalifah dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah/komprehensif.. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.