Film Sebagai Sarana Edukasi Dalam Sistem Kapitalis?

65

Oleh : Ainani Tajriyani

Dewasa ini kita perlu menjadi individu yang cermat dalam mengamati opini publik. Terlepas dari seberapa meyakinkannya argumen yang dibangun, kita perlu melihatnya dari sisi norma agama dan sosial. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari logical fallacy atau sesat pikir yg berusaha disisipkan dalam opini tersebut.

Contoh sesat pikir yang akhir-akhir ini berhembus kencang di tengah masyarakat adalah mengenai edukasi remaja melalui film layar lebar. Sebuah trailer film dengan judul “mengundang” diunggah di salah satu situs berbagi video dan telah ditonton lebih dari 10 juta penonton. Lebih memukaunya lagi, antusiasme penonton pasca penayangan film tersebut telah mencapai 2 juta penonton hanya dalam waktu 2 pekan.

Terlepas dari jumlah penonton yang fantastis, muncul pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Apakah benar besarnya animo tersebut murni dijadikan kesempatan untuk mengedukasi generasi muda? Jikalaupun itu benar, maka metode pendidikan seperti apa yang diusung dalam film tersebut sehingga layak dilabeli sebagai film yang mengedukasi?

Melansir pernyataan dari Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN, Dwi Listyawardani, bahwa film bertemakan kehamilan di luar nikah dapat mengedukasi remaja mengenai kesehatan reproduksi dan resiko kehamilan di usia muda. “Ditonton agar semuanya tahu” ucapnya.

Sekilas ucapan tersebut seolah menjawab. Tetapi jika kita berusaha menjadi pengamat yang cerdas, tentu ada banyak sisi “bopeng” dari jawaban tersebut.

Industri perfilman saat ini tidak lepas dari sistem bisnis kapitalis. Tidak perlu menjadi munafik untuk mengakui bahwa produksi film mempertimbangkan pula untung dan rugi. Ratusan juta yang telah dikeluarkan untuk memproduksi suatu film akan terbayar dengan terjualnya tiket-tiket ke tangan penonton. Ada keuntungan yang dicari untuk mengganti modal yang telah keluar, sehingga segala cara dilakukan untuk membuat film memiliki nilai jual yang tinggi.

Sistem liberal yang telah mencaplok pikiran sebagian besar masyarakat telah menciptakan produk-produk yang jauh dari norma Islam. Tema kebebasan seperti kehamilan di luar nikah dirasa lebih menggiurkan untuk diangkat ketimbang film religi. Cuplikan sepasang remaja bermain di ranjang yang berujung pada adegan dewasa dibalut dalam trailer berdurasi tidak sampai 1 menit. Dengan sengaja adegan tersebut dibuat menggantung, menstimulus alam bawah sadar penonton untuk penasaran. “Mau tahu kelanjutannya? Tonton dong.”

Bagaimana pula kita bisa menjamin bahwa setiap remaja yang menonton film tersebut memang memiliki motivasi untuk belajar? Siapa yang bisa menjamin bahwa isi kepala mereka bebas dari unsur mesum? Tidak ada luaran yang konkrit dari tujuan edukasi yang diusung, tidak pula ada kristalisasi dari nilai- nilai yang berusaha disampaikan. Setiap orang akan menyimpulkan sendiri maksud dari film tersebut. Bisa jadi akan ada yang berkesimpulan bahwa hamil di luar nikah bukanlah masalah selama keduanya mau bertanggung jawab, selayaknya pemeran dalam film tersebut, betul bukan?

Sampai di titik ini saya jadi menduga-duga, bisa jadi dalih edukasi yang disampaikan hanyalah kedok belaka. Alasan-alasan positif sengaja digali dan disuarakan untuk mengaburkan maksud sesungguhnya, yaitu meraup keuntungan. Dalam hal ini, rezim tidak berdaya mencegah menjamurnya film-film yang justru dapat merusak generasi muda.

Dalam sistem kepemimpinan Islam, film digunakan sebagai sarana edukasi dan dakwah untuk mencerdaskan masyarakat mengenai ilmu keislaman dan sejarah. Tujuannya jelas, untuk mengokohkan keimanan dalam jiwa warga negara yang berujung pada meningkatnya ketaqwaan pada Allah swt. Selain itu sistem kepemimpinan Islam tidak akan memperkenankan campur baurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat saat menonton film. Negara memiliki peranan utama dalam mengontrol produksi film dan penyebarannya ke publik. Hal ini berbeda jauh dengan sektor industri film saat ini yang dikuasi oleh kelompok kapitalis untuk mencari keuntungan. Lembaga sensor tidak memiliki peran optimal ketika negara masih abai terhadap hal ini.

Seluruh tujuan edukasi yang diharapkan para kreator film seperti edukasi seks, reproduksi, dan pernikahan muda telah diatur dalam Islam dengan jelas. Adanya pemahaman tentang peraturan interaksi dan penerapannya secara nyata akan menciptakan lingkungan yang bebas dari perzinahan. Sebuah kesimpulan retoris bisa kita petik, bagaimana mungkin perzinaan akan terjadi jika dalam interaksinya saja sudah diatur sedemikian rupa? Ma sya Allah.

Itulah mengapa Islam merupakan solusi untuk segala permasalahan. Tidak hanya untuk urusan interaksi antara laki-laki dan perempuan, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dari bangun tidur hingga kembali tidur. Disinilah dibutuhkan peran negara untuk menerapkan semua itu sebagai solusi nyata terhadap rusaknya moral ummat saat ini.

Wallahu’alam bishowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.