Feminisme Menggilas Aqidah dan Peran Perempuan

44

Oleh : Wida Ummu Aulia ( Pemerhati Masalah Sosial )

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai hari perempuan sedunia  (International Woman’s Day). Hari itu dianggap penting sebagai seruan emansipasi karena dari masa ke masa, masih saja  banyak anggapan bahwa lelaki selalu lebih dari perempuan. Lebih berharga. Lebih produktif. Lebih kuat. Lebih tinggi. Sehingga perempuan dianggap makhluk nomor dua. Lemah. Rendah.

Hal itu adalah fenomena yang umum terjadi sejak zaman jahiliyah hingga sekarang. Kalau di masa jahiliyah, bayi perempuan dibunuh bahkan dikubur hidup-hidup karena memiliki anak perempuan dianggap aib. Maka tidak jauh beda, seperti yang terjadi di Cina. Karena populasi negara tersebut meningkat pesat, pemerintah Cina menerapkan kebijakan keluarga berencana yang bernama “one-child’s policy“, yang mengharuskan keluarga hanya memiliki satu anak, dengan pengecualian.

Jika anak pertama adalah seorang gadis, maka orang tua tersebut boleh memiliki anak lagi, tapi dengan denda yang berat. Untuk menghindarinya, keluarga yang dilanda kemiskinan melakukan praktik-praktik ekstrem agar tidak terdapat anak perempuan dalam keluarga, mulai dari ‘sex-selective abortion’ hingga infantisida perempuan. Sejarah infantisida perempuan di Cina merupakan sejarah yang panjang. ( idn.times )

Fakta tersebut menjadi salah satu penyebab kian masifnya gerakan kesetaraan gender  ( feminisme ) yang menuntut agar perempuan mendapat hak penuh dan perlakukan yang sama dengan kaum lelaki tanpa diskriminasi.

Mereka menuntut kebebasan dalam segala bidang bagi perempuan. Ekonomi. Sosial. Pendidikan. Politik. Semua ingin tanpa ada diskriminasi. Lalu, apakah jika semua usaha tersebut terpenuhi maka akan menghantarkan perempuan pada kemuliaan hakiki?

Ternyata tidak. Di era kapitalisme saat ini yang hanya berorientasi pada keuntungan materi duniawi. Ketika di gemakan gerakan emansipasi. Kaum perempuan justru dikapitalisasi. Dieksploitasi. Menjadi komoditi ekonomi. Menjadi objek pemuas para kaum pemuja birahi. Perempuan dijauhkan dari keluarga. Fokus pada kerja dan kerja. Akidah perempuan tergilas. Perannya membias. Kehormatannya terlibas. Sehingga apa lagi yang didapat selain generasi yang lemah dan jauh dari agama.

Sungguh berbeda dengan Islam. Perempuan dipandang sangat mulia. Berharga. Dan memiliki peran luar biasa. Kehormatannya dipelihara . Akidahnya dijaga. Karena Islam diturunkan dengan seperangkat aturan yang sempurna dari sang pencipta yakni Allah Subhanahu wa ta’ala. Aturan yang dibuat untuk melindungi. Mengayomi. Tidak untuk menyakiti. Bukan berarti mengekang. Namun menempatkan perempuan sesuai porsinya.

Dalam islam, perempuan dan pria memiliki kewajiban yang sama seperti shalat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf nahyi munkar dan sebagainya. Perempuan juga punya hak yang sama dalam mendapat pahala dan surga-Nya.

Allah SWT berfirman: “Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Islam juga tidak melarang perempuan untuk bekerja, sekolah maupun melakukan interaksi sosial dan politik.  Namun semua itu sesuai kapasitas tanpa mengorbankan tugas utama sebagai seorang istri dan ibu dalam keluarganya.

Bahkan perempuan memiliki peran yang sangat penting dan kedudukan yang lebih utama daripada pria yakni sebagai ummu wa rabbatul bait ( ibu dan pengatur rumah tangga ). Sehingga kaum ibu lebih ditinggikan derajatnya 3 derajat di atas kaum pria. Karena tugas mulia seorang perempuan dalam melahirkan dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi shalih penerus peradaban mulia. Bahkan dikatakan bahwa surga berada ditelapak kakinya. Karena begitu istimewa dan mulianya seorang wanita.

Maka sangatlah tidak layak jika perempuan masih menuntut persamaan hak sementara dia sudah mendapat hak nya sesuai kapasitas dan kewajibannya.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 32)

Sungguh tiada sistim di dunia ini yang memuliakan perempuan seperti Islam. Maka kaum perempuan harus dipahamkan bahwa hanya dengan melaksanakan dan mentaati aturan Allah maka kemuliaan perempuan yang hakiki akan terwujud.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.