Fatwa Tanpa Kuasa

    61

    Oleh : Asma Ramadhani (Siswi SMAIT IBS Al Amri)

    Penyebaran wabah COVID-19 per harinya semakin meningkat. Di Indonesia bahkan terhitung mencapai angka 6.575 pasien positif pada tanggal 19 April 2020. Kondisi ini berakibat kekhawatiran bagi rakyat Indonesia. Pasalnya, tidak ada solusi yang pasti dari pemerintah, mereka seolah tidak peduli dengan nasib rakyat yang semakin hari semakin banyak yang meninggal dunia. Buktinya, dengan adanya ketidakinginan untuk melakukan pencegahan melalui lockdown, pemerintah justru membiarkan virus corona ini semakin menular dengan pelaksanaan konsep herd immunity.

    Di sisi lain, setelah adanya desakan dari berbagai pihak, muncul himbuan untuk mengadopsi pencegahan melalui sistem darurat sipil yang sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah wabah ini. Kemudian dikeluarkan PSBB, yang berakibat lebih menyengsarakan rakyat. Karena tidak adanya bantuan domestik dari pemerintah. Korban PHK bahkan tidak terhitung jumlahnya, dan yang lebih memukul jatuh rakyat adalah pelepasan NAPI tanpa jaminan keamanan.

    Kasus pencurian, kematian akibat kelaparan, dan gangguan mental karena kehilangan pekerjaan tanpa ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan. Tidak hanya itu, ini juga berdampak pada kondisi fisik dan psikis para pelajar yang diharuskan belajar di rumah (home learning), melalui sarana online sedangkan fasilitas yang dimiliki tidak memenuhi karena keterbatasan kebutuhan hidup.

    Apa yang dilakukan pemerintah? Penyediaan Kartu Pra Kerja? Benda tipis itu juga tidak berguna untuk kondisi saat ini. Buat apa ada biaya kursus dan pelatihan kerja, tetapi tidak ada sarana pekerjaan? Sebab, hal yang lebih menyakitkan bagi rakyat adalah terbongkarnya kedok mereka yang melakukan aktivitas ekspor pelindung kesehatan, yang benda-benda tersebut juga tergolong sangat minim di Indonesia. Tak jauh beda dengan penolakan untuk menggunakan dana pembangunan ibu kota baru dalam penanganan kasus COVID-19 ini.

    Jelas faktanya bahwa pemerintah hanya bertingkah ingin terlihat peduli dengan memberikan solusi-solusi sejenis penambah masalah. Ini termasuk bentuk buruknya rezim yang lebih mengutamakan materi (defisit Negara) dibanding nyawa ribuan rakyat. Munculnya wabah, virus, atau sejenis penyakit lainnya tidak lain berasal dari Allah SWT. Kondisi ini sebagai bentuk peringatan bagi mereka yang telah mendurhakai kekuasaanNya. Tentunya kita harus semakin sadar bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang dahsyat tanpa seizinNya, dan kondisi ini sebagai salah satu contohnya.

    Manusia telah merusak bumiNya. Sudah sepantasnya Dia menunjukkan murkaNya. Tapi, apakah ini balasan untukNya?

    Tidak ada sujud bahkan ketaatan yang lebih. Melainkan pelanggaran yang semakin menjadi-jadi. Membiarkan nyawa hambaNya semakin tergerogoti. Dan berhukum seolah menjadi penguasa bumi.

    Allah murka. Itu pasti. Namun, apakah mata itu terbuka untuk menyaksikan kuasaNya? Apakah telinga itu mendengar amarahNya? Apakah indera itu meraba kesalahannya?

    Suatu negeri tidak akan ditimpa suatu musibah jika penduduknya taat pada hukum Allah. Ketaatan itu berupa patuh dan tunduk terhadap syari’at Islam, menjaga dan melindungi ciptaanNya, dan yakin terhadap kebesaranNya.

    Allah SWT telah menentukan kehidupan terbaik yakni dengan islam. Dan kita perlu bahkan harus mewujudkannya. Ingat bahwa pendemi ini adalah bentuk teguran untuk kembali pada jalanNya. Jalan yang telah Allah ridhoi yakni dengan tegaknya Khilafah ‘Alaminhajinnubuwwah. Wallahu’alam bishawwab..

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.