Distorsi Peran Wanita Millenial Era Digital

159

Oleh: Novita Sari Gunawan (Aktivis Pergerakan Mubalighoh)

Sumur, dapur, dan kasur. Bunyi jargon sesat yang dihembuskan tepat menunjuk hidung para kaum wanita dalam perannya di kancah kehidupan domestik rumah tangga. Seiring berkembangnya zaman, banyak dari kalangan wanita yang merasa aktivitas tersebut sebagai bentuk kungkungan terhadap kebebasannya. Mereka akhirnya beramai-ramai memerjuangkan kemerdekaan atas nama wanita modern atau wanita millenial di era digital. Dimana notabenenya harus menggeser kedudukannya agar naik lebih tinggi lagi di puncak karir dan status sosialnya.

Dilansir oleh republika.co.id (11/09/2018), Yogyakarta akan menjadi tuan rumah perhelatan para tokoh-tokoh perempuan dunia dan Indonesia pada gelaran Sidang Umum ke-35 ICW (International Council of Women) dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia. Kegiatan ini berlangsung 11-20 September. Sidang Umum ke-35 ICW bertema Transforming Society Through Women Empowerement (Mentransformasi Masyarakat Melalui Pemberdayaan Perempuan).

Dibalut dengan busana yang apik, berlandaskan tujuan agar mencetak kiprah wanita agar ikut berpartisipasi dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Nyatanya, misi acara tersebut yakni ingin mengubah wajah usang dari peran wanita yang sesungguhnya. Mereka berupaya untuk membuat framing akan model baru bagaimana seharusnya peran dari seorang wanita. Tak lain ialah agar terwujud kesetaraan diantara peran kaum pria dan wanita. Membentuk paradigma berfikir tentang apa tujuan yang akan diraih oleh wanita seharusnya.

Aspek materi dan eksistensi diri merupakan tujuan utama yang hendak dikejar. Nilai kebahagiaan dipandang dari suksesnya meraup sesuatu yang bersifat jasadiah. Yaitu uang, rumah mewah, kendaraan berkelas, serta segala kesenangan tersier lainnya. Mencukupi makna kebahagiaan hanya sebatas terpenuhinya materi-materi tersebut. Begitu pula sebaliknya, dikatakan sebuah tragedi apabila tak mampu meraih perihal tersebut. Maka, kaum wanita yang mampu menghasilkan limpahan pundi-pundi rupiah dikatakan berada diatas rel yang tepat dalam era digital ini.

Krisis status sosial juga menimpa paradigma berfikir kaum wanita millenial. Dimana kemajuan dan kemunduran perannya bertolak ukur dari kedudukan karirnya. Semakin melambung eksistensinya maka layaklah dikatakan wanita yang maju, cerdas dan modern. Sebaliknya, jika tak memiliki posisi dalam karir, terlebih lagi hanya berstatus ibu rumah tangga, maka disebutlah sebagai wanita yang terbelakang, tak terdidik dan kuno. Mereka menganggap cukuplah segala aktivitas yang berpusat antara sumur, dapur, dan kasur dilimpah tugaskan pada seorang asisten rumah tangga.

Food, Fun, dan Fashion merupakan gaya hidup kaum wanita millenial. Dimana kebahagiaan serta baiknya status sosial jika mengikuti tren masa kini dalam ketiga hal tersebut. Hang out di cafe ternama dengan ragam menu kuliner kekinian adalah suatu kebanggaan. Begitupun makna hiburan, dipersempit hanya pada aspek rekreasi di pusat hiburan, tempat-tempat wisata terkenal hingga berlibur ke manca negara. Dalam bidang fashion, tirani kecantikan begitu mengisolasi kaum wanita millenial sedemikian kuat. Ritual kecantikan terjebak dalam persoalan gaya berbusana. Mirisnya lagi, mitos kecantikan digiring pada tolak ukur keindahan fisik yang dapat diindera oleh mata.

Menimbang fenomena ini, maka layaklah disebutkan bahwa telah terjadi distorsi Peran dan fungsi kaum wanita. Dari status mulianya sebagai pencetak generasi menjadi mesin pencetak uang. Pantas saja, jika krisis generasi terjadi saat ini. Angka kasus kenakalan remaja semakin melonjak. Menenggak miras lazim adanya hingga berkawan sejati dengan psikotropika. Mengakses video porno tak lagi menjadi hal yang Rabu. Akrab dengan aksi tawuran. Menghabiskan lebih banyak waktu bermain games daripada jam duduknya di meja belajar. Serta masih banyak lagi potret buram generasi yang notabenenya merupakan iron stock dan intelektual properti bangsa ini.

Dalam kacamata Islam, sungguh mulia peran dan kedudukan wanita sebagaimana yang telah Allah maktubkan di banyaknya ayat dalam Al-Qur’an. Begitu Allah sanjungkan dan tinggikan derajatnya. Hal ini pun tertera dalam berbagai hadits. Yang menyebutkan kemuliaan tersebut atas perannya sebagai ummu wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur urusan rumah tangga). Karena sesungguhnya, peran seorang ibu bukanlah sibuk berkancah meraup rupiah. Melainkan peran pertama dan utamanya yakni bagaimana mengurus dan mendidik anak-anaknya, melayani suaminya, serta urusan rumah tangga 24 jam dari terbit fajar hingga malam hari. Peran ini tak boleh dibeban tugaskan seluruhnya pada asisten rumah tangga. Seorang wanita haruslah cerdas, terampil dan memiliki visi dalam membentuk bangunan keluarganya.

Ajaran Islam pun memiliki keseimbangan peran bagi seorang wanita. Bukan berarti mereka hanya boleh berkutat di rumah. Namun, ada skala prioritas yang harus diperhatikan. Jika sudah terpenuhi kewajiban yang pertama dan utama tadi, maka ia boleh berperan di sektor publik. Karir dan publik dapat digeluti asalkan tidak menggeser prioritas utamanya tersebut. Letak kebahagiaan dan fokusnya tetap pada segala urusan di dalam rumahnya. Bukannya terbalik, berkutat di rumah bagai terpenjara. Di luar rumah bagai menghirup angin segar.

Oleh karena itu, pandangan Islam jelaslah yang tepat serta menjernihkan persoalan kaum wanita tersebut. Sudah tentu Islam dapat menimbang segala sesuatu dengan adil, karena inilah ajaran yang lahir dari sang pencipta alam semesta. Sepatunya Allah yang paling mengetahui aturan apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Tidak boleh ada distorsi Peran dan makna kemuliaan bagi wanita dengan paradigma pemahaman manusia semata. Maka, diperlukan pencerdasan untuk kaum wanita atas perannya yang sesungguhnya. Agar terjaga kemuliaannya serta generasi-generasi penerus bangsa nantinya.

Wallahu a’lam biashshawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.