Dibalik Kelangkaan Gas Lpg Melon 3kg

(Oleh: Miya Ummu Akmal, Pendidik Dan Pemerhati Masalah Public)

Menjelang lebaran masyarakat resah, karena LPG sangatlah langka. Masyarakat menduga itu karena masalah teknis karyawan yang libur ketika lebaran. Ternyata pasca lebaran pun banyak toko yang pasokan LPG nya kosong pula. Kalau pun ada toko yang memiliki pasokan, ternyata harga jualnya pun melonjak naik. Jika biasanya hanya 16ribu, sekarang menjadi 20 ribu.

Sebagaimana terjadi di Bojonegoro. Pangkalan resmi elpii 3kg milik pertamina di stasiun pengisian bahan bakar Umum(SPBU) Veteran, Jalan Veteran, kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengakui sejak selasa(19/6/2018) pagi, tidak memiliki stok.(www.suarabanyuurip.com, 19/06/2018)

Masyarakat pun resah. Ada apa dibalik ini semua? Ternyata keresahan  masyarakat sepertinya terjawab dengan adanya kebijakan baru, PT Pertamina (Persero) yang akan menjual Elpiji 3 kg non subsidi. Rencananya, Elpiji tersebut diluncurkan pada 1 Juli 2018 ini. (www.detik.com, 23/06/2018)

“Per 1 Juli,” kata Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat halalbihalal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta Pusat, Jumat (22/6/2016).

“(Elpiji non subsidi jadi dijual) per 1 Juli 2018. (Teknisnya) ya dijual aja tapi ini tidak di subsidi,” ujarnya saat ditemui dalam acara halalbihalal di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Plt Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, elpiji ini nantinya akan dijual bebas kepada masyarakat. Artinya baik masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun yang mampu bisa membelinya.

Bisa dibayangkan. Jika elpiji 3kg subsidi barangnya langka, kemudian muncullah elpiji 3kg non subsidi, berarti mau tidak mau masyarakat dipaksa untuk menggunakan elpiji 3kg non subsidi, yang harganya 2kali lipat harga elpiji subsidi.  Memang Nicke belum menentukan berapa harga yang akan dijual. Namun berdasarkan usulan dari Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, elpiji 3 kg nonsubsidi akan dijual dengan harga Rp39.000 (www.okezone.com, 22/06/2018).

Maka wajar jika sebagian masyarakat menyimpulkan bahwasanya ini adalah bagian dari strategi halus untuk menarik elpiji 3 kg subsidi. Seperti halnya dulu ketika minyak tanah digantikan dengan elpiji. Awalnya minyak tanah juga langka barangnya, kemudian untuk membelinya masyarakat harus dengan merogoh kocek lebih dalam. Akhirnya mau tidak mau masyarakat harus menggunakan elpii, dan secara otomatis beralihlah sumber energy minyak tanah menjadi elpiji. Mengapa masyarakat dengan mudahnya mau beralih dari minyak tanah menjadi elpiji? Karena minyak tanah maupun elpiji merupakan sumber energy yang sangat penting untuk kehidupan sehari-hari mereka. Begitu pula dengan elpiji subsidi dan non subsidi. Maka  Dengan langkanya elpiji 3kg subsidi dan hadirnya elpiji 3kg non subsidi, seberapa mahal pun harganya masyarakat akan tetap membelinya. Karena tidak ada pilihan lain bagi mereka. Bukankah  itu sebuah kedzaliman penguasa terhadap rakyatnya?

Padahal penguasa hakikatnya pelayan umat, yang memiliki kewajiban untuk mengurusi urusan umat. Rakyat haikikatnya adalah majikan bukan sebaliknya. Karena mereka digaji oleh rakyat. Yang pertanggungawabannya sangat besar kelak di alam akhirat.

Bicara  masalah migas, Indonesia dianugerahi oleh sang pencipta (Allah swt)  kekayaan alam yang melimpah ruah, baik barang tambang, hutan, laut dan lainnya. Dan diharamkan individu atau sekelompok orang  untuk menguasainya. Karena kekayaan alam tersebut merupakan harta milik umum, Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “kaum muslim itu berserikat dalam 3 hal, air, padang rumput dan api ”.

Jadi migas yang didalamya termasuk LPG juga merupakan harta milik bersama. Harusnya dalam pengaturan system islam, siapapun itu dilarang keras untuk memilikinya, karena itu berkenaan dengan hajat hidup orang banyak. Jika kepemilikan itu diberikan kepada pihak pihak tertentu, maka dampakya seperti sekarang ini, akhirnya masyarakat  harus membayarnya dengan harga mahal. Padahal andaikan semua migas itu tidak diprivatisasi, dan pengelolaanya dilakukan sendiri oleh negara maka rakyat akan bisa mendapatkannya dengan mudah dan dengan harga yang sangat murah.

Bicara masalah SDM, Indonesia memiliki banyak SDM yang sangat berkualitas. Jika penguasa memang berniat untuk mengelola sendiri sumber daya alam ini, maka pasti bisa. Bukankah Indonesia memiliki banyak professor? Untuk membuat pesawat saja kita mampu. Jadi untuk mengelola barang tambang pun pasti Indonesia juga mampu. Jika memang tidak mampu, maka tenaga professional bisa kita datangkan dari luar negeri.  Akan tetapi pengelolaanya tetap berada di pihak negara bukan swasta apalagi asing maupun aseng. SDM professional itu kita bayar dengan gaji yang besar.

Jika semua kebijakan itu dilakukan sebagaimana dalam pengaturan system islam, sumber daya alam dikelola secara penuh oleh negara  dan hasilnya dikembalikan ke rakyat seutuhnya maka wajarlah jika kesejahteraan pun bisa dirasakan oleh seluruh rakyatnya, bukan hanya segelintir orang seperti dalam system kapitalisme sekarang. Dalam system islam, apa yang diinginkan oleh masyarakat yakni pendidikan, kesehatan gratis bukanlah sesuatu yang utopis. Oleh karenanya masihkah kita terus mempertahankan system kapitalisme ini?tidakkah kita merindukan diterapkannya system yang begitu sempurna yakni system islam?yang sudah pernah terbukti kegemilangannya selama 13 abad lamanya, dan rahmatnya pun pernah dirasakan oleh seluruh penjuru alam.

Wallaahu a’lam bisshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.