Di Balik Gelar Negara Paling Santai di Dunia

78

Oleh: Ita Mumtaz

Indonesia terpilih sebagai negara paling santai di dunia, mengalahkan Australia, Islandia, dan 12 negara lain di dunia.Yaitu menjadi destinasi terbaik untuk liburan dan wisata.

Indonesia memang termasuk sebagai salah satu negeri dengan keindahan alam yang memukau. Keunggulan Indonesia adalah karena memiliki garis pantai yang panjangnya lebih dari 88 ribu kilometer dan memiliki  lebih dari 186 ruang hijau, dengan suhu rata-rata 25 derajat Celsius, tidak terlampau dingin, juga tak terlalu panas sehingga membuat Indonesia menjadi tempat tinggal yang nyaman dan tempat yang sangat pas untuk relaksasi dan menikmati suasana pantai. (Beritagar.id, 23/01/2019).

Hamparan bumi Nusantara memang menawan. Dengan segala keindahan dan kenyamanan. Hingga laik mendapat julukan surga tropis. Pemerintah pun menggantungkan harapan pada sektor yang bisa memanfaatkannya, yakni pariwisata. Tahun 2019 diproyeksikan sektor pariwisata akan mampu menyumbang 15% PDB, yaitu sekitar Rp 280 triliun devisa negara. Dicanangkan pula mampu menarik 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara, 275 juta perjalanan wisatawan Nusantara dan menyerap 13 juta tenaga kerja. Maka tidak heran jika Presiden Jokowi menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan pembangunan nasional.

Indonesia, dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa yang mayoritas beragama Islam, menjadikannya sebagai negeri muslim terbesar. Sebuah komunitas raksasa yang memiliki potensi untuk bangkit. Hari ini saja semakin nampak semangat persatuan umat, ketika perasaan Islamnya terusik. Selangkah lagi, umat Islam Indonesia bagaikan singa yang terbangun dari tidurnya. Geliat kebangkitan inilah yang menjadikan Barat ketakutan. Ancaman besar bagi mereka ketika sang singa benar-benar siuman dari tidur panjangnya.

Sebagai negara kapitalis yang memiliki kepentingan besar bagi kekokohan hegemoninya, senantiasa ada upaya untuk membuat sang singa kembali dalam tidur lelapnya, bahkan mati. Karena jiwa kapitalismenya yang serakah, maka tak akan pernah puas hingga berhasil merampas semua yang dimiliki kaum muslim, termasuk akidah dan keyakinannya. Kekuatan kaum muslimin memang ada pada pemikiran Islamnya. Semakin jauh mereka dari pemahaman Islam, maka kian lemah dan tak berdaya. Rahasia ini pun telah dipegang olah musuh-musuhnya.

Maka segala sarana akan dikerahkan agar kaum muslim bertekuk lutut dibawah ketiaknya. Salah satu upaya melemahkan potensi kekuatan Islam adalah dengan cara mendorong Indonesia mengembangkan sektor pariwisata. Yang pertama, mereka memasang jeratan utang luar negeri. Tentu saja utang berbasis ribawi dengan segala konsekuensinya demi mempercantik sektor pariwisata. Pemerintah didorong agar semakin membuka lebar-lebar kran investasi untuk berbenah meningkatkan daya tarik. Julukan negara paling santai merupakan pelecut awal. Diiringi terbitnya undang-undang khusus pariwisata dan peningkatan peran serta masyarakat. Hingga banyak aset milik penduduk lokal yang berpindah tangan kepada para investor. Akibatnya mereka kehilangan hak pengolahan lahan, lantas hanya bisa mengandalkan hidup dari menjual jasa di kawasan wisata.

Musuh Islam berharap umat ini kembali tertidur dalam buaian mimpi surga pariwisata. Pariwisata yang dicanangkan saat ini sangat kental dengan aroma liberal. Perilaku apapun dibebaskan, asalkan bisa mendapatkan kesenangan dan kepuasan. Meski negeri muslim, sah-sah saja melakukan pelanggaran syara’ demi memanjakan para wisatawan. Dibangunnya hotel berbintang, tentu sepaket dengan pelengkapnya. Yakni minuman keras dan perempuan sebagai pemuas syahwat. Terbukti, di mana ada lokasi wisata, di situ pula pasti ada eksploitasi wanita.

Transfer budaya dan nilai global niscaya akan terjadi dan bergeser menjadi gaya hidup. Semuanya mampu mengubah pemahaman muslim tentang tujuan penciptaannya, makna kebahagiaan,

standar perbuatan yang tak lagi halal haram. Sehingga wajar jika pakaian seorang muslimah tak lagi mencerminkan jati diri. Pergaulan laki-laki dan perempuan pun semakin nyata menunjukkan keliarannya. Terjadilah penampakan sosok muslim moderat, yang kian jauh dari pembentukan karakter muslim sejati.

Hal ini merupakan bencana besar bagi keberkahan Indonesia. Karunia Allah berupa keindahan alamnya, seharusnya semakin menambah rasa syukur kita. Rasa syukur ini tidak malah diungkapkan dengan cara bermaksiat. Tapi sebaliknya, hendaknya diluapkan dengan cara menjaga dan menjadikan obyek wisata sebagai sarana dakwah. Setiap manusia, baik muslim maupun kafir, akan merasakan kekaguman sekaligus ketundukan dan kelemahan diri ketika menyaksikan keindahan alam. Pada titik itulah, potensi yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia berupa akal, bisa digunakan untuk menumbuhkan kesadaran akan Kemahabesaran Sang Pencipta alam semesta. Bagi orang kafir, bisa dijadikan obyek berpikir serta upaya pencarian siapa Pencipta sejatinya. Sedangkan bagi muslim, merupakan sarana pengokohan Iman.

Dalam Islam, obyek pariwisata bukanlah sumber  pendapatan negara. Negara Khilafah telah mempunyai empat sumber tetap bagi perekonomiannya, yaitu pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Keempat sumber inilah yang menjadi tulang punggung bagi Negara Khilafah dalam membiayai perekonomiannya. Selain keempat sumber tetap ini, Negara juga mempunyai sumber lain, yaitu zakat, jizyah, kharaj, fai’, ghanimah hingga dharibah.

Karena sektor pariwisata bukanlah sumber perekonomian, maka negara tidak akan mengeksploitasi bidang ini untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. Kapitalisasi pariwisata harus ditolak karena justru tak membawa kemaslahatan apapun bahkan  merugikan dan menjadi sebab kerusakan serta praktik kemaksiatan.

Umat harus kembali sadar dan  waspada terhadap bahaya di balik gelar negara paling santai  sedunia. Jangan sedikitpun terlena dan terpikat iming-iming negara kapitalis. Karena ini adalah kedok mereka untuk menyeret kaum muslimin dalam kubangan maksiat. Karakter mereka yang rakus menjadikannya sangat bernafsu  merebut kekayaan kaum muslimin berupa alam semesta dengan segala keindahannya. Maka tak ada solusi terbaik melainkan berupaya mengembalikan negara Islam yang berdaulat, sehingga tak terpengaruh dengan intervensi asing. Termasuk kebijakan dalam menata dan memanfaatkan keindahan alamnya.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al A’raaf 96). Wallahu a’lam bish-shawwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.