Derita Yaman Tanpa Khilafah

125

Oleh : Risnawati (Staf Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka)

Duka dan derita seperti jalan tak berujung bagi umat Rasulullah SAW. Padahal Allah SWT telah memberikan kedudukan umat terbaik di antara umat lainnya. Tapi mengapa berbagai duka dan derita seperti datang terus silih berganti tak berhenti menyapa. Air mata sudah mengering, darah sudah banyak tertumpah, dan jutaan nyawa telah menjadi syuhada. Palestina dan Suriah masih terus bergejolak.

Genosida etnis Muslim Rohingya masih terus berlanjut. Sementara diskriminasi, intimidasi, kriminalisasi, penculikan, penindasan dan berbagai upaya untuk menghadang kebangkitan umat untuk berislam kaaffah dalam naungan Khilafah sampai saat ini terus berlangsung di seluruh belahan bumi di mana kaum muslimin berpijak. Kini kelaparan menjadi ancaman bagi saudara kita kaum Muslimin di Yaman.

Seperti dilansir dalam  Detikcom.News, Sanaa – Memilukan! Sebanyak 85 ribu anak-anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat kelaparan atau penyakit sejak perang melanda Yaman pada tahun 2015.

Organisasi kemanusiaan Save the Children menyampaikan angka tersebut berdasarkan data yang dikumpulkan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebelumnya PBB telah mengingatkan bahwa hingga 14 juta warga berada di ambang kelaparan di Yaman, yang tengah dilanda peperangan antara pasukan Yaman yang dibantu Arab Saudi dengan para pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran.

“Untuk setiap anak yang tewas akibat bom dan peluru, banyak anak mati kelaparan dan itu sepenuhnya bisa dicegah,” ujar Tamer Kirolos, direktur Save the Children’s negara Yaman seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (22/11/2018).

“Anak-anak yang meninggal dengan cara ini sangat menderita karena fungsi organ-organ vital mereka menurun dan akhirnya berhenti,” imbuhnya.

“Sistem kekebalan tubuh mereka begitu lemah sehingga mereka rentan infeksi, dengan sebagian bahkan terlalu lemah untuk menangis. Para orangtua harus menyaksikan anak-anak mereka tak tertolong, tidak dapat berbuat apa-apa,” imbuhnya.

Pelabuhan Hodeida, titik masuk bagi sekitar 80 persen impor pangan dan bantuan ke Yaman, sejak tahun lalu telah berada di bawah blokade koalisi Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman dalam memerangi pemberontak Houthi. Langkah ini sangat memperlambat pengiriman barang-barang bantuan.

Alhasil, kehidupan di Yaman semakin memprihatinkan akibat hancurnya ekonomi negeri. Untuk menyelesaikan masalah Yaman, pada April 2016 PBB mensponsori perundingan perdamaian di Kuwait. Sayang, perundingan selama tiga bulan itu tidak membuahkan hasil. Lantas kepada siapa Yaman harus mengharap uluran tangan? Sementara mata dunia pura-pura buta dan tuli akan pemberitaan Yaman.

Bagaimana tidak, media-media saat ini lebih memilih bungkam meski hati mereka pun teriris mengetahui tindakan yang tidak berperikemanusiaan tersebut. Tapi mereka, kita tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan peperangan yang tak berperikemanusiaan itu. Karena kita tidak punya kekuasaan, negara lah yang punya kuasa menerjunkan tentara militernya untuk membantu saudara kita di Yaman. Namun, negeri- negeri muslim yang sudah jelas punya kuasa pun hanya bisa diam menonton kebiadaban Arab Saudi.

Kapitalisme Akar Masalahnya

Konflik perang berkepanjangan melanda Yaman sejak koalisi pimpinan Arab Saudi menggelar serangan udara pada Maret 2015 untuk mengusir pemberontak Houthi yang menduduki ibu kota Sanaa. Konflik inilah yang menjadi penyebab utama bagi bencana kelaparan di Yaman. PBB memperkirakan tiap 10 menit satu anak di bawah usia 10 tahun meninggal dunia akibat hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah. Nasib bertambah buruk bagi anak-anak dan sekitar 2,2 juta bayi yang mengalami gizi buruk akut.

Sementara pasokan gandum hanya untuk beberapa bulan ke depan. Situasi ini semakin sulit karena bank-bank asing tak lagi mau bertransaksi dengan bank-bank komersial Yaman, sedangkan hampir 90 persen kebutuhan makanan dipasok dari hasil impor. Arab Saudi telah menumpahkan darah suci kaum muslimin dan anak-anak di Yaman, yang sejatinya adalah saudara mereka sendiri. Semua itu tak lain hanya untuk melayani tuan-tuan mereka, para kapitalis penjajah.

Mereka menjual jiwa mereka dengan ditukar ribuan nyawa kaum Muslimin hanya untuk membuat senang tuan-tuan mereka demi mengokohkan hegemoni mereka atas negeri-negeri kaum Muslimin. Dan menghalangi tegaknya sistem Islam di negeri-negeri kaum Muslimin. Sedangkan pemimpin negeri-negeri Islam lainnya hanya diam dan menyaksikan rakyat Yaman mati berlahan-lahan akibat kelaparan. Mereka tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan konflik yang menjadi sumber bencana yang terjadi di Yaman, padahal mereka mampu untuk melakukannya.

Mereka hanya mengecam dan melakukan diplomasi sementara di belakang itu mereka mendukung dan bersekutu dengan para kapitalis penjajah yang menginginkan keuntungan dari konflik yang terjadi. Sungguh miris, mengingat kita adalah umat terbaik di bumi ini, sedangkan kini kita berada di titik terendah di mana kaum Muslimin yang lain membiarkan saudaranya sendiri mati kelaparan dan dibantai untuk menyenangkan musuh-musuh Islam. Bagaimana dunia hanya diam sementara telah terjadi bencana besar akibat perbuatan manusia dan perang di antara kaum Muslimin?

Di mana para pemimpin negeri-negeri Muslim di dunia ketika penduduk Yaman dan anak- anak mereka menahan lapar yang tak tertahankan? Padahal mereka dapat berbuat banyak untuk membantu saudara mereka dengan kedua tangan mereka. Tapi nyatanya mereka hanya terdiam tanpa berbuat apa-apa. Mereka justru menjadi kaki tangan para musuh-musuh Allah SWT untuk menghancurkan tiap jengkal tanah di mana kaum Muslimin, saudara mereka tinggal dan bernaung. Sungguh umat ini bagaikan ayam kehilangan induknya, sejak runtuhnya Kekhilafahan Islam tiada lagi pelindung dan perisai bagi umat Muslim sedunia.

Islam Solusi Tuntas

Solusi tuntas untuk mengakhiri konflik Yaman adalah pembentukan kepemimpinan Islam yakni Khilafah, yang merupakan penjaga umat dan Perisai Islam. Khilafah akan segera merespon untuk mengakhiri genosida dan segala masalah lain yang mempengaruhi umat kita di seluruh dunia, tidak takut pada siapapun selain Allah, dan menghapus seluruh penindas dari negeri-negeri kita.

Kezaliman dan ketidakadilan senantiasa menimpa umat ini karena tiada lagi seorang Khalifah yang membela dan menegakkan keadilan atas kaum Muslimin. Karena dengan tegaknya Khilafah menurut metode kenabian inilah yang akan menyingirkan para penguasa Muslim yang bangga dengan demokrasi dan nasionalismenya yang telah menjadi sekat pemisah bagi kaum Muslimin sedunia untuk menolong saudaranya yang tertimpa berbagai bencana dan kezaliman di belahan bumi yang lain.

Di sisi lain negara inilah yang akan menyatukan kaum Muslimin yang beriman dan senantiasa istiqomah terhadap janji Allah SWT atas kemenangan Islam sebagai satu tangan, yang akan melawan musuh-musuh Islam, menggerakkan bala tentaranya untuk melindungi darah, harta dan jiwa umat ini serta kehidupan anak-anaknya. Di bawah naungannya, generasi umat ini akan menikmati kehidupan yang aman, makmur dan selalu dalam lindungan.

Khalifah tidak akan pernah membiarkan rakyatnya dan anak-anak umat ini tidur dalam keadaan lapar sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khathathab memanggul sendiri sekarung beras untuk ibu dan anak-anaknya yang kelaparan di tengah gelapnya malam. Sungguh kita merindukan seorang pemimpin seperti beliau yang melindungi umat ini dengan segenap jiwa dan raganya, yang tidak akan membiarkan dirinya tertidur lelap sebelum rakyatnya tidur dalam keadaan kenyang dan aman.

Semoga kita senantiasa bersungguh-sungguh dalam setiap perjuangan kita untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Dan senantiasa istiqomah karena Allah SWT telah menjanjikan kemenangan bagi Islam dan kaum Muslimin. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.