Derita Muslim Burma : Antara Liputan Media dengan Realita

71
Foto: Reuters

Oleh: Yoni Kurniawan – Jurnalis AJMI  (Aliansi Jurnalis Muslim Indonesia)

“Ini adalah tragedi yang lebih buruk dibandingkan dengan (laporan) CNN atau BBC yang telah mampu menggambarkan tentang apa yangtelah terjadi pada orang-orang ini,” kata Menhan Amerika Serikat (AS) James Mattis di sela-sela kunjungannya ke Jakarta, dilaporkan laman TIME, Rabu (24/1/18).

Berbagai teror atas kaum muslim silih berganti tak kunjung berhenti. Ribuan penduduk meninggal, ribuan lainnya cedera, ribuan rumah dan bangunan terbakar, puluhan ribu orang berulang-ulang menjadi pengungsi. Sementara itu, pihak-pihak yang mengail di air keruh belum diberi hukuman setimpal.

Pembantaian kaum muslim yang dilakukan rezim Budha Myanmar kepada minoritas Muslim Rohingya tahun lalu memang heboh di media, sekaligus menyisakan keanehan tidak ada satu pun penguasa negeri Muslim yang mampu mencegahnya dan memberi pelajaran bagi rezim Myanmar.

Musibah yang menimpa umat ini sebenarnya terletak pada diri penguasa mereka. Penguasa umat inilah yang memiliki militer, kekuatan politik, serta pressure power untuk membuat penindas itu jera. Krisis penguasa yang tegas bagi kaum Muslim merupakan penyebab mundurnya umat Islam dan tamaknya bangsa dan umat lain terhadap umat Islam ini yang mendorong mereka untuk mengerubuti hidangannya.

Jika saja penguasa di negeri ini memiliki komitmen nyata untuk melindungi darah kaum muslim, niscaya akan memimpin pasukan dan seluruh armada perangnya untuk memaklumkan perang terbuka guna menolong setiap negeri Islam yang terjajah; bukan hanya dengan berkumpul, rapat, dan menyatakan di media seperti tabiat para penguasa di negeri-negeri Muslim—sebagaimana yang dilakukan saat ini—dalam sebuah konferensi.

Adapun pernyataan James Mattis menjadi titik tolak bagi Amerika untuk melaksanakan Rancangan kepada Myanmar demi memecah-belah wilayah ini dengan human intervention, dan mengusir eksistensi China dari wilayah ini. Membiarkan masalah Myanmar diselesaikan AS sebagai eksekutor penyelesaian hakikatnya semakin menjauhkan upaya penyelesaian yang permanen dan sesungguhnya. Keadaan demikian merupakan pintu gerbang intervensi asing untuk turut campur terhadap urusan dalam negeri tersebut.

Penindasan di Myanmar sedikit pun tidak menguntungkan umat Islam. Kini konflik berkembang menjadi tabrakan kepentingan China vs kepentingan AS atas tumpahan darah umat Islam. Membunuh satu orang tak berdosa merupakan dosa besar. Di dunia gampang untuk ditutup-tutupi, tetapi di akhirat semua akan terbukti. Muslim Myanmar menderita keputusasaan, pelecehan, perbudakan dan penindasan … Sampai kapan tragedi ini akan terus terjadi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.