Deradikalisasi Mencuat, Islamophobia Makin Menguat!

101

Isu radikalisme kembali mencuat, kini yang menjadi sorotan adalah dunia kampus. Seperti apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius, menurutnya paham radikalisme sudah menyusup ke sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Dan langkah inipun di buktikan BNPT yang bekerjasama dengan Kemristekdikti untuk memberantas paham yang dianggapapnya sebagai tindakan radikalisme.

Seperti dilansir dari Potretsultra.com, Kendari – Diduga oknum pegawai IAIN Kendari telah melakukan pemukulan dan penyaniayaan terhadap dua mahasiswanya saat korban menyebarkad leaflet berisikan dakwah islam dan sedang aktif menyampaikan dakwah.

Menurut Koordinator Wilayah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat, Imron Wahid, Kedua mahasiswa IAIN Kendari yang telah dipukul dan dianiaya itu bernama Fathul dan Andi Malik Hambali Irsan pada Kamis (16/08/2018) lalu di lingkungan kampus IAIN Kendari.

“Kejadian pemukulan dan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum pegawai IAIN Kendari terhadap Saudara Fathul dan Saudara Andi Malik Hambali Irsan dengan dalih apapun tidak dapat dibenarkan secara hukum,” ungkap Imron dalan konferensi persnya, Sabtu (18/08/2018).

Deradikalisasi, Bidik Siapa?

Saat ini Indonesia darurat deradikalisasi. Status mahasiswa yang terkenal kritis semestinya bisa mencari tahu tentang konspirasi di balik adanya deradikalisasi ini. Mahasiswa yang peka akan menggali sumber-sumber untuk dijadikan informasi terkait isu-isu yang kian hari kian memanas, khususnya isu deradikalisasi ini. Acuh tak acuh bukanlah sikap mahasiswa, terlebih sikap pemuda pembawa agen perubahan.

Radikalisme merupakan istilah yang mengambang maknanya. Tidak hitam atau putih melainkan masih abu-abu. Karena hal itu, akhirnya istilahnya digunakan untuk mencari pembenaran, yakni adanya program deradikalisasi.

Secara bahasa deradikalisasi berasal dari kata radikal yang mendapat imbuhan de dan akhiran isasi. Radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Jika ada ungkapan “gerakan radikal” maka artinya gerakan yang mengakar atau mendasar, yang bisa berarti positif atau negatif. Dalam kamus, kata radikal memiliki arti; mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak (KBBI, ed-4, cet.I.2008). Dalam pengertian ini, sebuah sikap “radikal” bisa tumbuh dalam entitas apapun; tidak mengenal agama, batas teritorial negara, ras, suku dan sekat lainya.

Maka dari itu, yang dimaksud deradikalisasi adalah upaya untuk mengubah sikap dan cara pandang di atas yang dianggap keras (dengan julukan lain; fundamentalis) menjadi lunak; toleran, pluralis, moderat dan liberal. Hal senada juga sama dengan yang penyampaian BNPT. BNPT mendefinisikan deradikalisasi adalah upaya menetralisir paham radikal bagi mereka yang terlibat teroris dan para simpatisannya serta anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal, melalui reedukasi dan resosialisasi serta menanamkan multikuralisme.

Jika demikian adanya, maka deradikalisai sangat berbahaya bagi umat Islam. Umat Islam yang sejatinya mempunyai ideologi dan aturan yang jelas dikebiri pemahamannya kepada Islam. Hal ini menunjukkan jika agenda deradikalisasi akan menyasar umat Islam bahkan akan menimbulkan konflik baru. Konflik itu akan muncul sebagai akibat saling fitnah, saling tuduh radikal, adu domba, dan pemahaman Islam yang salah. Yang jelas umat islam baik individu maupun gerakan yang menginginkan kebangkitan Islam akan dihadang. Bahkan dihalangi agar cita-citanya dikubur dalam-dalam.

Deradikalisasi, Bahaya Nyata Umat Islam

Deradikalisasi cukup berbahaya untuk umat Islam karena berpotensi menyimpang, melahirkan tafsiran-tafsiran yang menyesatkan terhadap nash-nash syariah, membangun pemahaman yang konstruksi dalil dan argumentasi (hujah)-nya lemah, menyelaraskan nash-nash syariah terhadap realitas sekular dan memaksakan dalil mengikuti konteks aktualnya. Contohnya adalah upaya tahrif (penyimpangan) pada makna jihad, tasamuh (toleransi), syura dan demokrasi, hijrah, thagut, muslim dan kafir, ummat-an washat, klaim kebenaran, doktrin konspirasi (QS al-Baqarah [2]: 217) serta upaya mengkriminalisasi dan monsterisasi terminologi Daulah Islam dan Khilafah.

Selain itu, umat akan terpecah-belah dengan kategorisasi radikal-moderat, fundamentalis-liberal, Islam ekstrem-Islam rahmatan, Islam garis keras-Islam toleran dan istilah lainya yang tidak ada dasar pijakannya dalam Islam. Hal ini mirip seperti langkah Orentalis memecah-belah umat Islam dengan memunculkan istilah “Islam putihan” (berasal dari bahasa arab: muthi’an/taat) dan “Islam abangan” (aba’an/pengikut/awam). Umat Islam yang taat ditempatkan sebagai musuh karena membahayakan penjajahan. Bahaya deradikalisasi berikutnya adalah: menyumbat langkah kebangkitan Islam serta menjadikan umat jauh dari pemahaman dan sikap berislam yang kaffah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Pada akhirnya umat tidak mampu menjadikan Islam sebagai akidah dan syariah secara utuh serta sebagai pedoman spiritual dan kehidupan politik. Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa deradikalisasi sesungguhnya adalah upaya deislamisasi terhadap mayoritas umat Islam yang menjadi penghuni negeri ini.

Lebih dari itu, deradikalisasi melahirkan bahaya (dharar) lain, yakni langgengnya imperialisme Barat di negeri Indonesia atas nama GWOT, HAM, demokrasi, pasar bebas, dan perubahan iklim. Bahaya yang lebih besar dari deradikalisasi adalah tetap bercokolnya sistem sekular dengan demokrasinya serta semakin terjauhkannya sistem Islam. Padahal jelas, selama ini demokrasi dan sekularisme telah menjerumuskan umat Islam ke dalam jurang kehidupan yang sempit dalam seluruh aspeknya. Umat jauh dari kebahagiaan lahir-batin. Mereka jatuh ke dalam kubangan peradaban materialisme dan kerusakan moral yang luar biasa. Yang paling dasyat tentu saja mereka bisa-bisa akan kembali ke haribaan Allah SWT dalam keadaan nista.

Walhasil, umat yang sadar akan penjajahan ini akan menuntut perubahan. Umat semakin memahami bahwa pemerintahan mereka tidak lagi mengurusi umat. Karena hakikatnya mereka melayani kepentingan asing dengan menyerahkan kekayaan alam, menghamba dan meminta perlindungan. Ini adalah bunuh diri politik. Yang lebih aneh ketika pemahaman umat semakin meningkat kebutuhan mereka diatur oleh Islam. Alih-alih pemerintah merespon dengan tangan terbuka. Justru yang terjadi melakukan penghambatan agar umat lupa cita-cita besarnya, yaitu diatur syariah dalam bingkai Khilafah. Wallahu a’lam.

Oleh : Risnawati, STP. (Staf Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.