Demokrasi yang Mematikan

    74

    Oleh Titis Afri Rahayu dan Lulu Nugroho

    Demokrasi kembali unjuk gigi. Bukan karena prestasi. Tapi sepanjang sejarah, di seluruh lini kehidupan umat, ia mematikan. Daya hancurnya tidak bisa diabaikan. Terbukti Plato dan Aristoteles mengklaim bahwa sistem ini memang sudah cacat sejak lahir. Alih-alih melindungi manusia, sistem rusak ini justru menghabisi manusia itu sendiri

    Hal ini yang terjadi pada pesta demokrasi beberapa waktu lalu. Masih menyisakan duka. Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal berjumlah lebih dari 400 orang, sedangkan jumlah yang sakit sebanyak 3568 orang, ujar Komisioner komite pemilihan umum (KPU) Evi Novida Ginting di Jurang Mangu Timur, Tangerang Selatan, Jumat (3/5).(Detiknews.com, 3/5/2019)

    Angka ini bertambah setiap hari. Kabar meninggalnya petugas pemilu yang mencapai ratusan orang menarik perhatian dunia. Media asing memberitakan dengan judul berbeda-beda. Aljazirah menulis dengan judul “Indonesia: More than 270 election staff died from Fatigue”. Pada paragraf awal menggambarkan bagaimana setelah 10 hari pascapemilihan banyak petugas yang berguguran. Petugas sakit karena bekerja secara berlebihan.

    Media Inggris BBC juga menulis judul dengan hampir sama. “Indonesia Election: More than 270 election staff die counting votes”.  Sementara itu, Sky News menulis “272 election official die of exhaustion in Indonesia.” Sky mengutip keterangan dari pejabat KPU Arief Prio Susanto. Komisioner KPU Evi Novida Ginting mengatakan, berdasarkan data jumlah petugas KPPS yang sakit, pun bertambah. Dibanding tahun lalu, peningkatannya hingga 100%. (Republika.co.id, 29/4/2019)

    Demokrasi tampak seperti akidah global, semua orang mengenalnya. Akan tetapi ia tidak memiliki batasan yang jelas. Bisa ditarik ke sana ke mari sesuai kepentingan pengembannya. Keabsurdan inilah yang membuat demokrasi tidak memiliki patokan standart bagi aktivitas manusia. Wajar sebab sistem ini buatan manusia. Peluang untuk salah dan menimbulkan kerusakan, sangat besar.

    Jika begitu, bagaimana lagi ia mengukur pengaturan umat dalam sebuah negara. Sayangnya sebagian besar umat belum menyadari hal ini. Mereka masih terpikat dan rela berjuang di jalannya. Sebagaimana disampaikan al-Allamah Abdul Qadim, bahwa demokrasi adalah kepanjangan tangan kapital untuk melanggengkan kekuasaan di dunia Islam.

    Sejatinya umat sudah memiliki akidah yang sahih. Hanya saja mereka tidak mengambil itu. Malah percaya pada demokrasi. Sistem buatan manusia. Ketika umat dipaksakan mengadopsi sistem kufur, maka umat akan hancur. Pemikiran mereka merosot drastis. Dan mereka mengalami kegoncangan berpikir.

    John Adams mengingatkan bahwa demokrasi tidak akan berumur panjang. Begitupun pengembannya. Selama mereka percaya bahwa demokrasi adalah solusi permasalahan umat, selama itu pula umat akan berputar-putar dalam masalah.

    Yang lebih dramatis adalah, ada penyelenggara pemilu yang tidak menghargai suara rakyatnya. Sudahlah golongan putih (golput), diancam. Begitu rakyat patuh ikut pemilu, suaranya malah digembosi. Pencurangan masif, terstruktur, sistemik dan brutal justru akan membangkitkan kesadaran rakyat, bahwa kekuasaan mereka mau dirampok.

    Carut marut pemilu sebagia salahsatu prosedur untuk menerapkan sistem pemerintahan demokrasi di Indonesia menambah deret panjang kegagalan sistem demokrasi. Demokrasi yang dikenal sebagai sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat nyatanya tidak mampu menyelsaikan permasalahan rakyat. Karena pada hakikatnya demokrasi adalah sistem/aturan buatan manusia yang rusak sejak asasnya.

    Demokrasi ala kapitalis telah nyata hanya menguntungkan segelintir orang yang disebut sebagai para kapital. Jurang sosial dan ketimpangan ekonomi makin lebar. Rakyat kelas bawah makin tak dapat meraih kesejahteraan. Berbagai kebijakan dalam sistem demokrasi hanya menguntungkan para elit politik dan kapital, bahkan hukum pun menjadi tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Rakyat kecil kerap menjadi korban penerapan sistem demokrasi.

    Demokrasi yang diterapkan di suatu negara hanya akan membawa kehancuran. Demokrasi dalam sistem kapitalistik potensial untuk terjadi tindak korupsi. Laporan Transparansi Internasional (TI) mengenai indeks persepsi korupsi global 2012 memberikan gambaran hubungan negatif demokrasi dan korupsi. Di antara 20 negara yang dianggap paling bersih dari korupsi (20 peringkat teratas), 19 adalah negara berkategori demokrasi.

    Atas nama demokrasi sebuah negara besar menginvasi negara jajahannya. Negara besar menguras habis sumber daya alam yang dimiliki sebuah negara. Bahkan sebuah negara dengan bebas mendikte suatu negara jajahannya untuk membuat kebijakan propenjajah. Rakyat di negara jajahan menjadi korban atas nama demokrasi.

    Demokrasi menjadi momok yang menakutkan bagi negeri-negeri muslim. Tidak hanya menguasai sumberdaya alam. Negara pengussung demokrasi akan memasarkan demokrasi dan menyerang negeri-negeri muslim yang dianggap sebagai ancaman proses demokratisasi di seluruh dunia.

    Tidak terhitung banyaknya nyawa kaum muslimin yang hilang demi ambisi kekuasaan negara demokrasi. Padahal hilang nya satu nyawa seseorang lebih berharga dari dunia dan seisinya.

    Dari Abdullah bin Amru dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dari pembunuhan seorang muslim-”. (HR an-Nasaiy, at-Tirmidzi, al-Baihaqi).

    Berkaca dengan kondisi negara-negara dunia yang menerapkan demokrasi, ternyata sistem ini justru mengalami kegagalan waktu demi waktu. Aspirasi rakyat yang tadinya menjadi “tuhan” kini hanya menjadi isapan jempol belaka. Bahkan Amerika sebagai negara kampiun demokrasi telah mengaalami kemunduran.

    Dewan Intelijen Nasional AS sendiri mengatakan dalam laporannya mengenai tren global, bahwa satu dasa warsa ke belakang kekuatan Amerika mengalami grafik yang menurun. Sementara beberapa stake-holder lain memaparkan:  secara militer AS sudah kewalahan. Secara teknologi tidak siap. Secara keuangan sangat berisiko.

    Sementara di sisi lain Amerika tidak cukup dinamis untuk mampu menghadapi para kompetitor baru yang berpengaruh. Bahkan banyak warga Amerika yang mulai melihat institusi pemerintahan atau institusi publik tidak lagi bekerja untuk mereka.

    Kini demokrasi makin nampak kerusakannya di permukaan  dan makin mudah masyarakat untuk melihat kebobrokan sistem buatan manusia yang batil ini. Tidak ada keadilan, tidak ada kesejahteraan, yang ada hanyalah keangkuhan, dan kezaliman. Allah Swt sebagai zat Yang Maha Kuasa, Maha Sempurna, dan Maha Teratur makin membukakan mata hati ummat. Bahwa hanya aturan Nya sajalah yang akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi hidup manusia.

    Ingatlah, demokrasi tidak akan bertahan lama. Ia akan segera terbuang, melemah, dan membunuh diri nya sendiri. Demokrasi pasti akan bunuh diri. Demokrasi akan segera memburuk menjadi anarki. John Adams, Presiden ke-2 AS (The Works of John Adams, ed Charles Francis Adams, vol. 6, p. 484).

    Apakah mereka mau mencari hukum Jahiliyah. Siapa yang lebih baik hukumya bagi orang yang yakin? (TQS. an-Nisa : 50)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.